
"Mah.. Kapan Mamah bisa mengerti aku?" ucap Dika.
"Mamah harus menikah kan kamu dengan cepat, akibat sering gonta-ganti pasangan kamu jadi sembarangan memilih pasangan." ucap mamah nya.
"Aku tidak mau pulang mah, aku di akan tinggal di sini. Aku juga belum selesai bekerja." ucap Dika.
"Kamu sudah berangkat membantah mamah? pasti perempuan itu yang membuat kamu jadi seperti ini kan?" ucap Mamah nya.
"Berhenti membahas ini mah, aku capek, aku mau istirahat." ucap Dika langsung meninggalkan mamah nya di ruang tamu dan masuk ke kamar nya.
Mamah nya menghela nafas panjang.
Di dalam Dika duduk di kursi tepat di pinggir jendela kamar nya. Melihat hujan di luar membuat dia semakin sedih.
Dia tidak bisa melupakan kata-kata Anisa yang sangat menyakiti hati nya di sekolah tadi.
"Kenapa Anisa tidak mau mengakui saya? apa dia malu? apa dia benar-benar tidak serius." batin Dika.
Tiba-tiba handphone nya berdering telpon dari sekretaris nya.
"Halo.." Jawab Dika.
"Halo pak, bapak lagi di mana?" tanya sekertaris nya.
"Saya lagi rumah. Ada apa?" tanya Dika.
"Saya mau memberi tau bapak hal yang sangat penting." ucap sekertaris nya.
"Kalau tentang pekerjaan saya akan datang ke kantor." ucap Dika.
"Ada apa dengan suara bapak? kenapa kelihatan nya sangat lesu? apa Bapak lagi sakit?" tanya sekretaris nya.
"Tidak.. Saya tidak apa-apa." ucap Dika.
"Oohh begitu yah, kalau begitu Bapak datang lah ke kantor, saya akan menunggu ucap sekretaris nya.
Dika mematikan handphone nya dia menutup kembali jendela nya dan mengambil Jas serta tas kerja nya.
Keluar dari kamar dika berfikir masih ada orang tua nya di sana ternyata sudah tidak ada.
"Humm bagus lah kalau Mamah sama papah sudah pergi." ucap Dika.
__ADS_1
Dia memakai sepatu nya segera keluar dari apartemen nya.
Dika masuk ke dalam mobil nya dan menerobos hujan menuju ke kantor nya. Sampai di kantor dia langsung di sambut dengan pekerjaan yang membuat kepala nya hampir pusing.
"Ini yang harus Bapak periksa." ucap sekretaris nya.
"Apa ini?" tanya Dika. "Ini adalah tanda tangan kontrak perusahaan kita dengan perusahaan teman bapak yang di luar provinsi sudah sah. Dan Bapak di undang ke sana beberapa hari." ucap Sekertaris nya.
"Katakan padanya kalau saya tidak bisa datang." ucap Dika. "Kenapa pak? Ini adalah hal yang sangat penting, kalau bapak tidak datang mereka akan berfikir kalau bapak tidak menghargai mereka." ucap sekertaris nya.
"Anak-anak sudah mau ujian, saya tidak bisa banyak libur." ucap Dika.
Sekertaris nya menghela nafas panjang. "Sampai kapan Bapak akan menyibukkan diri dengan menjadi guru?" ucap sekretaris nya. Dika menggeleng kan kepala nya.
"Saya hanya bisa membuat ini jalan satu-satunya agar saya tidak kebanyakan termenung." ucap Dika.
Sekertaris nya menghela nafas panjang.
"Bapak sudah mendapatkan perempuan yang bapak mau, lalu apa lagi? bapak harus istirahat." ucap sekretaris nya.
"Hubungan saya dengan Anisa memang sudah pacaran, tapi sekarang saya rasa semua nya sudah selesai." ucap Dika.
"Saya tau ini pasti mengganggu pikiran bapak, tapi mau bagaimana pun bapak harus memikirkan diri bapak sendiri." ucap sekretaris nya.
"Bapak sudah mengajar dari pagi sampai sore dan Sore sampai tengah malam Bapak harus ke kantor." ucap sekretaris nya.
"Kalau tidak dengan cara seperti ini saya tidak akan bisa melihat dia." ucap Dika. Sekretaris nya menghela nafas panjang.
"Huff sangat sulit menjelaskan kepada Bapak." ucap Sekretaris nya.
Dika menandatangani kontrak itu dan memberikan surat di antara berkas-berkas itu kalau dia tidak bisa datang.
Setelah selesai Surat pun di kirim kan kepada luar provinsi itu.
"Pak Dika mau kopi? Saya akan mengambil kan nya untuk bapak." ucap sekertaris nya. "Tidak perlu, saya akan ke ruangan saya. Kalau ada perlu atau pun ada tamu Jangan boleh kan masuk.. Hubungin saya terlebih dahulu." ucap Dika.
"Baik pak. Selamat berkreasi pak,." ucap sekretaris nya langsung pergi begitu saja.
Dika masuk ke ruangan nya.
"Huff handphone ku ketinggalan di rumah." batin Dika. Dia tidak bisa melihat handphone nya dan memilih untuk bekerja saja.
__ADS_1
Sementara di tempat lain Anisa baru saja bangun dia ternyata sampai di rumah langsung ketiduran di sofa ruang tamu nya.
Dia membuka handphone nya karena biasanya ada pesan dan telpon dari Dika, namun setelah melihat tidak ada Anisa menutup dan meletakkan ponsel nya.
"Seperti nya dia juga benar-benar marah kepada lu." batin Anisa.
"Huff sudah lah, semua nya sudah seperti ini, apa yang harus aku buat? Ini juga demi kebaikan bersama."' batin Anisa dia beranjak dari tempat nya tidur segera mandi.
Setelah selesai mandi dia melihat lagi ke handphone nya berharap ada pesan dari Dika namun tetap saja tidak ada.
"Kemana kak Dika? kenapa sampai sekarang dia tak juga menghubungi ku?" ucap Anisa, akhirnya ia memutuskan untuk menelpon Dika.
Namun tidak di jawab, Anisa mencoba menelpon lagi namun tidak juga di angkat.
"Sangat menyebalkan! Kalau dia menganggap ku pacar nya dia seharusnya tidak seperti ini!" ucap Anisa sangat kesal melemparkan handphone nya ke kasur nya dan langsung memakai bajunya.
Tiba-tiba handphone nya berbunyi. Anisa mengambil lagi berfikir kalau itu adalah Dika dan ternyata bukan.
Nomor baru yang menelpon nya membuat Anisa bertanya-tanya.
"Huff ini siapa?" batin Anisa kebingungan.
"Halo, ini siapa yah?" tanya Anisa.
"Halo..." tidak ada yang berbicara Anisa mencoba menyapa lagi namun tidak ada jawaban.
Telpon langsung di matikan. "Huff orang lagi Kesal namun sudah di kerjain oleh orang yang kurang kerja an." batin Anisa.
Nomor itu menelepon lagi. "Halo! Ini siapa sih? Kamu kurang kerjaan menelpon saya?" tanya Anisa langsung karena sudah kesal..
"Anisa... Ini adalah saya." Ucap seseorang dari balik telepon itu.
Anisa terdiam sejenak dia mencoba mengingat suara itu.
"Jangan bercanda yah, saya tau ini adalah penipuan, jangan mengganggu saya!" ucap Anisa.
"Jangan matikan telepon nya, aku mohon. Aku adalah Candra." ucap seseorang dari balik telepon. Anisa seketika terdiam sudah mengenal dan juga pria itu sudah jujur.
"Enggak! Kamu pasti berbohong berpura-pura kan? Mana mungkin Candra menghubungi saya? dia sudah melupakan saya." ucap Anisa.
"Ini aku Anisa, aku Candra, aku ingin berbicara dengan kamu." ucap Candra. Anisa mengeluarkan air mata nya dia kaget, dia juga rindu tapi di sisi lain dia merasa bersalah.
__ADS_1