Kisah Anisa Di Sekolah

Kisah Anisa Di Sekolah
Episode 76


__ADS_3

"Huff siapa sih yang mengganggu ku pagi-pagi?" ucap Anisa dengan kesal. Setelah di bukan ternyata kurir pengantar paket.


"Saya tidak memesan paket pak." ucap Anisa.


"Tapi ini alamat ke sini mbak, atas nama penerima mbak Anisa." ucap kurir..Anisa melihat alamat nya dan ternyata benar.


"Tapi saya sama sekali tidak memesan paket. Mungkin ini Salah." ucap Anisa.


"Ini sudah di bayar tinggal terima saja kok Mbak." ucap kurir.


Anisa akhirnya tanda tangan dan membawa kotak itu ke dalam.


Anisa duduk untuk mengumpulkan nyawa nya, dia berbaring sebentar di sofa sambil memerhatikan kotak besar itu.


"Nama pengirim tidak ada, aku takut kalau isi nya yang aneh-aneh." ucap Anisa.


"Tapi aku juga penasaran isinya apa, kalau aku tidak membuka nya aku tidak akan tau isi nya, sebaiknya aku membuka saja." ucap Anisa mengambil gunting.


Setelah di buka ternyata isinya adalah Boneka yang sangat besar.


"Ini dari siapa?" ucap Anisa kaget.


"tunggu dulu deh, seperti nya ini dari Kak Marsel, hanya dia yang mau memberikan aku boneka tampa alasan." ucap Anisa.


Dia tersenyum. "Kenapa dia gak ngomong sih, aku sudah curiga dari awal." batin Anisa.


Dia membawa boneka itu masuk ke kamar nya.


Melihat di tempat tidur nya sudah ada boneka besar dari Candra sebelum nya.


"Maafin aku Candra, tapi aku rasa hubungan kita tidak ada Artinya lagi..Kamu yang tidak mengingat aku lagi." ucap Anisa mengambil boneka itu dan mengantar ke ruangan khusus lemari boneka.


Dia menyimpan semua nya dengan baik. Tidak ada yang di buang atau rusak.


Anisa selesai mandi, setelah sudah segar perut nya lapar.


"Biasanya Kak Dika yang masak sarapan, sekarang tidak lagi karena dia sudah sibuk bekerja. Hanya tiga hari saja aku sudah sangat merindukan dia." batin Anisa.


"Gak boleh Anisa, kamu harus marah kepada nya! Kamu tidak boleh memaafkan dia, karena dia mengabaikan kamu Selama tiga hari ini." ucap nya menepis pikiran nya.


Tiba-tiba bel rumah berbunyi.


"Itu pasti pesanan ku." ucap Anisa mau membuka pintu namun setelah di buka ternyata Dika yang di balik pintu.


"Saya pulang." ucap Dika.


"Ngapain kakak ke Sini? Bukan nya kakak sudah melupakan aku?" ucap Anisa mau menutup pintu lagi, namun di tahan oleh Anisa.


"Maafin saya Anisa, saya bekerja sehingga tidak bisa memberikan kabar." ucap Dika.

__ADS_1


"Bohong!" ucap Anisa pergi meninggalkan pintu di kejar oleh Dika ke dalam.


"Tiga hari kakak sama sekali tidak membalas pesan dan tidak menjawab telepon ku." ucap Anisa. "Dengerin saya dulu Anisa." ucap Dika.


"Kakak mau meninggalkan aku seperti yang di lakukan oleh Candra? Apa kakak mau membuka ku sedih lagi? Aku sudah muak dengan hal seperti ini. sebaiknya kakak pergi saja." ucap Anisa.


Dika menahan kedua tangan Anisa.


"Kamu denger saya dulu Anisa, saya bukan berniat untuk mengabaikan atau mau meninggalkan kamu." ucap Dika.


Anisa menepis tangan Dika.


"Kakak sama saja dengan Candra." ucap Anisa. Dika tiba-tiba memeluk Anisa dari belakang.


"Maafkan saya Anisa, Maaf kan saya." ucap Dika. Anisa berontak namun Dika tidak mau melepaskan nya.


Anisa Ujung-ujungnya menangis. Dika melepaskan pelukannya dan menghadap kan Anisa kepada nya.


"Orang tua saya ikut dengan saya. Mereka tidak mengijinkan saya memegang ponsel saya karena perusahaan sedang bermasalah.. Mereka Ingin saya fokus di pekerjaan saya terlebih dahulu." ucap Dika.


Anisa menatap Dika.


"Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanya kepada sekretaris saya. Kami baru saja pulang dari luar provinsi saya langsung ke sini." ucap Dika sambil menunjuk sekertaris nya yang berdiri di depan pintu.


Anisa melihat perempuan yang khawatir melihat mereka berdua.


"Iyah mbak, pak Dika tidak memegang ponsel nya sampai sekarang." ucap sekretaris nya.


Anisa menatap Dika.


"Kakak tidak memikirkan aku di sini, kakak tidak tau kalau aku mengkhawatirkan, merindukan kakak di sini." ucap Anisa.


"Saya tau, itu sebab nya saya kembali cepat ke sini untuk menemui kamu, karena saya juga sangat merindukan kamu." ucap Dika mau memeluk Anisa.


Namun Anisa menahan nya.


Dika bingung. Tidak perlu Anisa menolak pelukan nya. Namun dia langsung sadar karena ada sekretaris nya di sana.


"Kamu kembali lah terlebih dahulu, saya akan menyusul nanti." ucap Dika kepada sekretaris nya.


"Apa Bapak yakin sudah baik-baik saja?" tanya sekretaris perempuan nya itu.


Dika menganguk. "Baiklah kalau begitu saya permisi Mbak, Pak." ucap sekretaris nya.


Dika menganguk.


"Kamu jangan marah lagi. Saya minta maaf." ucap Dika menghapus air mata Anisa.


Anisa menepis tangan Dika.

__ADS_1


"Aku tidak akan memaafkan kakak." ucap Anisa. Dika menghela nafas panjang.


"Apa yang harus saya lakukan agar kamu mau memaafkan saya?" tanya Dika.


Anisa menatap Dika.


"Aku tidak ingin melihat kakak, aku masih marah." ucap Anisa.


"Kapan kamu akan selesai marah nya? Saya ingin memeluk kamu, saya merindukan kamu, saya tidak bisa fokus bekerja karena selalu memikirkan kamu." ucap Dika.


"Aku tidak perduli." ucap Anisa.


"Saya tidak perduli kamu marah atau tidak, sekarang saya sudah di sini, saya ingin memeluk kamu dan menghabis kan waktu bersama kamu." ucap Dika langsung memeluk Anisa.


"Lepaskan... Kakak bau..." ucap Anisa..Dika mencium baju nya ternyata bau mobil yang sangat menyengat.


"Saya akan mandi dulu." ucap Dika. Anisa menganguk. Di mengelus kepala Anisa.


"Baru tiga hari kita tidak bertemu ada apa dengan mata kamu? badan kamu kelihatan nya kurus dari biasanya." ucap Dika.


"Ini semua karena Kakak." ucap Anisa.


"Baiklah kalau begitu saya akan memasak makanan yang enak nanti." ucap Dika.


Dia mencium kening Anisa.. Anisa terkejut dan memukul lengan Dika.


"Saya mandi dulu yah." ucap Dika. Anisa menganguk.


"Kamu tidak mau ikut kah?" tanya Dika.


"Jangan aneh-aneh!" ucap Anisa.


"Hanya bercanda." ucap Dika.


"Huff.." Anisa membiarkan Dika pergi.


Anisa menghela nafas panjang dia tersenyum. Dia sangat senang akhirnya gurunya pulang.


"Kenapa aku sangat mudah luluh sih? Aku harus tetap marah kepada dia." ucap Anisa.


"Pakaian kak Dika ada di lemari ku, sebaik nya aku mengambil kan nya dulu." ucap Anisa.


Dia mau makan tapi sudah tidak berselera.


Setelah mengambil kan pakaian Dika dia mau keluar namun Dika keluar dari kamar mandi langsung menutup pintu kamar agar Anisa tidak keluar.


"Kamu mau kemana?" tanya Dika. Anisa menatap Dika.


"Aku mau keluar, sebaiknya kakak minggir." ucap Anisa.

__ADS_1


"Saya mau minta tolong obatin bintik-bintik di badan saya." ucap Dika.


"Ada apa dengan badan kakak?" ucap Anisa. Dia melihat punggung Dika banyak dengan bintik-bintik merah, begitu juga di bagian depan.


__ADS_2