
"Menurut Bibik kalau saya menikah cepat bagaimana?" tanya Dika. "Apa maksud Den Dika?" tanya Bibik.
"Orang tua saya meminta saya menikahi Gisel anak dari Paman." ucap Dika.
Bibik menghela nafas panjang. "Kenapa tiba-tiba den Dika mau menikah gadis lain sementara den Dika sudah mati-matian mengejar Anisa." ucap Bibik.
"Bukan seperti itu Bik, aku merasa percuma aku mengejar Anisa karena dia tidak akan pernah memiliki perasaan kepada ku, dia hanya ingin mencintai Candra." ucap Dika.
"Kalau keputusan den Dika sudah seperti Bibik mau ngomong apa lagi? Lagian tidak baik mengambil seseorang dari pemilik nya." ucap Bibik.
Dika berbaring di paha Bibik.
"Tapi bikin...."
"Karena den Dika sudah mencintai Anisa dengan setulus hati, dan Kelihatan nya Anisa juga menyukai den Dika. Sebaiknya den Dika berjuang terlebih dahulu." ucap Bibik.
"Bagaimana kalau ujung-ujungnya saya yang kalah bik?" ucap Dika.
"Kalau nanti yang di pilih Anisa bukan kamu, itu artinya kamu harus mengikhlaskan dia. Karena Anisa tau yang terbaik untuk dia." ucap Bibik.
Dika memasang wajah sedih. "Sudah, den Dika jangan sedih seperti ini. Biasanya nya den Dika tidak pernah sedih karena perempuan. Sekarang hanya karena anak SMA den jadi seperti anak remaja." ucap Bibik.
Dika tersenyum dia duduk menatap wajah Bibik.
"Seandainya saja Orang tua ku sama seperti Bibik." ucap Dika. "Maksud den Dika apa? Tidak baik jika banyak mengeluh. Alhamdulillah den Dika di berikan orang yang lengkap." ucap Bibik.
"Tapi mereka tidak mengerti aku Bik, mereka hanya tau aku Dika yang penurut, Dika pendiam, Dika yang sangat baik dan selalu menghargai perempuan." ucap Dika.
Bibik mengelus kepala Dika.
"Tidak baik berbicara seperti itu Den Dika. Ibu dan bapak sudah sangat baik. Kamu hanya kurang dekat dengan mereka. Kamu kurang terbuka." ucap Bibik.
Dika tersenyum. "Terimakasih Bik sudah mengingatkan aku." ucap Dika. Bibik menganguk.
"Bibik tidak bisa lama-lama di sini, Bibik pergi dulu yah karena sudah malam." ucap Bibik.
"Ambil ini untuk Bibik." ucap Dika memberi kan amplop.
"Tapi ini bukan tanggal gajian Bibik." ucap Bibik.
"Ini adalah Bonus untuk Bibik.. Besok Bibik ulang tahun jadi Bibik bisa membeli kue." ucap Dika.
Bibik tersenyum. "Terimakasih yah den." ucap Bibik. Bibik pergi meninggalkan apartemen Dika.
Keesokan harinya... Selepas pulang sekolah Dika langsung ke rumah orang tua nya karena hari Sabtu.
"Mamah..." panggil Dika.
"Den Dika kapan datangnya?" tanya Bibik yang bekerja di sana.
"Baru saja Bik, di mana mamah sama papah?" tanya Dika.
__ADS_1
"Mereka tidak bilang kalau mereka hari ini mengunjungi Den Mikhael?" tanya Bibik.
Dika menggeleng kan kepala nya.
"Mereka berangkat pagi tadi den." ucap Dika.
"Oohh begitu yah, ya sudah." ucap Dika Duduk dan menelpon orang tua nya.
"Halo mah." ucap Dika.
"Iyah Dika." jawab Mamah nya.
"Mamah kenapa tidak bilang kalau berkunjung ke rumah kak Mikhael?" tanya Dika.
"Kamu selalu sibuk, mamah sama papah takut menganggu kamu." ucap orang tua nya.
"Tapi sekarang aku sudah di rumah." ucap Dika.
"Sebaik nya kamu pulang dan istirahat, kami akan satu Minggu di sini." ucap Orang tua nya.
"Baiklah kalau begitu mah, Mamah sama papah hati-hati di Jalan yah." ucap Dika.
Panggilan pun mati.
"Mungkin mamah sama papah Bosan hanya di rumah saja." ucap Dika.
"Yang di katakan Bibik benar. Aku yang kurang dekat dengan orang tua ku, itu sebabnya mereka tidak tau aku, tidak mengerti aku." ucap Dika.
"Halo Pak..." Tiba-tiba seseorang menelpon nya.
"Ada apa kamu menelpon ku?" tanya Dika.
"Pekerjaan di kantor berkendala pak, saya mohon bapak datang ke kantor." ucap perempuan di balik telpon itu.
Dika menginyakan dia langsung Menuju ke kantor nya dengan mobil yang di kendarai oleh nya.
Sesampainya di kantor dia memeriksa.
"Bagaimana semua nya ini bisa terjadi? Apa kalian tidak becus bekerja?" ucap dika marah.
"Banyak klien yang konsumen yang membatalkan pembelian karena tidak bisa bertemu dengan Bapak langsung." ucap sekretaris nya.
Dika menghela nafas panjang.
"Kenapa kalian semua sangat bodoh!" ucap Dika.
"Anisa...." Panggil Tante Ara membawa spaghetti kepada Anisa yang menonton di ruang tamu.
"Tante masak apa?" tanya Anisa.
"Nih Tante masak spaghetti, kamu cobain yah, Tante mau mandi dulu." ucap Tante Ara.
__ADS_1
Anisa tersenyum dia menghabiskan spaghetti itu dengan cepat karena sangat enak.
"Aku heran deh kenapa Tante Ara bisa memasak begitu enak, sementara aku sama sekali tidak bisa. Sementara aku bertumbuh besar bersama dia." ucap Anisa.
"Ah sudahlah, nanti aku akan belajar pasti Bisa." ucap Anisa.
Anisa melihat jam. "Hari ini pak Dika terlihat sangat Cuek sekali. Dia datang terlambat dan pulang begitu cepat sekali." ucap Anisa.
Tidak beberapa lama Tante Ara turun.
"Loh Tante sudah rapi mau Kemana?" tanya Anisa.
"Hummm sebenernya Tante gak ma ngasih tau kamu, tapi Tante juga tidak enak kalau tidak jujur kepada kamu." ucap Tante Ara.
"Tante mau kemana sih?" ucap Anisa penasaran.
"Besok Tante sudah pulang. Tante ingin menemui Mamah kamu dulu dan juga papah kamu." ucap Tante Ara.
"Kalau kamu mau ikut, ayo." ucap Tante Ara.. Anisa menggeleng kan kepala nya.
"Ngapain aku ke sana?" ucap Anisa.
"Mereka adalah orang tua kamu." ucap Tante Ara. Anisa menggeleng kan kepala nya.
"Ya sudah kalau begitu Tante pergi dulu yah. Jangan tungguin Tante, karena Tante tidak pulang Malam ini." ucap Tante Ara.
"Humm baiklah." ucap Anisa. Tante Ara pun pergi. Anisa Menghela nafas panjang.
Karena bosan menonton di rumah dia berencana untuk menonton di bioskop bersama Putri. Untung saja putri bisa dan mereka pergi.
"Kamu lagi galau yah?" tanya Putri setelah mereka bertemu.
"Kamu sadar gak sih? Pak Dika sangat Cuek, dia tidak mengajak ku berbicara, Bahkan dia juga tidak menatap wajah ku, aku sangat kesal sekali." ucap Anisa.
Putri yang duduk di samping nya hanya terdiam.
"Maaf aku sedikit berisik." ucap Anisa. Putri tersenyum.
"Kamu ngaku aja deh, kalau sebenernya kamu menyukai pak Dika kan?" ucap Putri.
"Baiklah aku Akan mengakuinya, aku menyukai pak Dika, aku benar-benar menyukai nya." ucap Anisa.
Putri tersenyum.
"Akhirnya kamu jujur juga." ucap Putri.
"Aku baru menyadari nya putri." ucap Anisa.
"Kenapa? setelah pak Dika tidak perduli lagi kepada kamu? Setelah pak Dika memilih untuk mengabaikan kamu?" ucap Putri.
"Aku membutuhkan dia, bukan hanya membutuhkan untuk membantu menemani, mengajari atau untuk tempat ku mengeluh.. Tapi aku butuh pak Dika mengisi hati ku. Aku merasakan cinta kepada pak Dika." ucap Anisa.
__ADS_1
Putri hanya tersenyum saja.