
Dika masuk melihat Anisa ke dalam. Anisa sudah menangis.
"hiks... hiks.. hiks..." Anisa menangis menatap wajah Dika. Dika langsung memeluk nya tanpa mengatakan apapun. Anisa membalas pelukan Dika dengan sangat erat sekali.
"Kamu adalah perempuan yang kuat, anak yang kuat,. tidak boleh sedih karena ini sudah keputusan orang tua kamu." ucap Dika mengelus kepala Anisa.
"Aku tidak ingin orang tua ku menikah lagi, aku ingin mereka bersama ku." ucap Anisa.
Anisa cukup lama di pelukan Dika sampai dia ketiduran. Dika mengangkat badan Anisa ke sofa.
"Semoga kamu selalu di beri kesabaran dan kekuatan untuk menghadapi kenyataan." batin Dika mengelus kepala Anisa.
Beberapa jam kemudian...
"Mamah!! Papah!!! Aku tidak ingin kalian berpisah." ucap Anisa mengigau.
Tiba-tiba handphone nya berbunyi dia langsung sadar.
Dia sudah keringat, dia juga menghapus air mata nya melihat Arya yang menelpon nya.
Dia menolak dan membuat mode pesawat di ponsel nya.
Anisa melihat ke sekeliling sangat sepi. "Sudah jam tujuh malam, aku ketiduran cukup lama." ucap Anisa.
Namun dia baru teringat terakhir kali dia melihat Dika sebelum tidur.
"Pak Dika kemana?" tanya Anisa. Dia mencari keluar berharap masih ada di sana.. Namun ternyata tidak ada motor di Depan.
"Pak Dika pulang? bukan kah hari ini dia harus mengajari aku?" ucap Anisa dalam hati.
Anisa memasang wajah sedih.
"Kenapa pak Dika pergi tidak menunggu aku bangun dulu?" ucap Anisa dengan lesu. "Kamu merindukan saya?" tanya Dika yang tiba-tiba berdiri di pintu utama.
"Pak Dika..." ucap Tania terkejut.
Dika tersenyum.
"Ternyata kamu sedih juga kalau saya pergi." ucap Dika. "Siapa yang sedih? Aku hanya ingin belajar." ucap Anisa. Dika tersenyum.
"Saya baru saja selesai mandi, apa saya boleh meminta tolong kamu mengeringkan rambut saya?" tanya Dika.
Anisa menggeleng kan kepala nya.
"Bapak sudah membuat aku kesal, keringkan saja sendiri." ucap Anisa. Dika menghela nafas panjang.
"Motor Bapak kemana? Kok tidak ada?" tanya Anisa.
"Saya ke sini tidak naik motor. Karena motor saya rusak." ucap Dika. Anisa mengingat di saat Dika mengejarnya tadi sore memang di tidak melihat motor.
__ADS_1
"Oohh begitu." ucap Anisa masuk ke dalam.
Dika Menghela nafas panjang. dia mengikuti Anisa masuk.
"Saya tidak akan bisa memulai pembelajaran kalau rambut saya masih basah, kamu tidak mau membantu saya?" tanya Dika lagi.
Anisa menggeleng kan kepala nya.
Dika tiba-tiba langsung duduk di depan Anisa yang duduk di sofa sementara Dika duduk di lantai.
"Apa yang Bapak lakukan? Pergi dari hadapan ku." ucap Anisa. "Saya tidak akan pergi kalau kamu tidak mau mengeringkan nya." ucap Dika.
Anisa Menghela nafas panjang. "Baiklah-baiklah." ucap Anisa mengambil handuk. Dika tersenyum.
Anisa mulai mengeringkan rambut Dika dengan handuk kecil itu.
"Rambut bapak sangat sehat." ucap Anisa.
Dika menoleh ke arah Anisa.
"Karena saya tidak pernah mewarnai rambut saya." ucap Dika. Anisa memukul bahu Dika.
"Aaa sakit!! Kenapa kamu sangat kasar?" tanya Dika.
"Bapak menyindir aku yah? walaupun aku mewarnai rambut ku, tapi rambut ku lembut dan juga sehat. Selain sehat pasti juga lebat dan juga tebal." ucap Anisa.
"Kalau begitu saya akan memeriksa nya." ucap Dika mau memegang kepala Anisa namun Anisa tidak mau.
"Kalau yang kamu katakan benar ijinkan saya memegang dan membuktikan kata-kata kamu." ucap Dika.
"Bapak bisa melihat nya saja." ucap Anisa.
"Tapi saya ingin menyentuh nya.. Melihat saja tidak cukup." ucap Dika. Anisa tidak mau namun Dika memaksa sampai tidak sengaja Dika terjatuh di atas Anisa.
Dika menatap wajah Anisa. Anisa sudah sangat tegang sekali.
"Ada apa dengan diri ku ini? kenapa aku sangat gugup dan juga deg-degan seperti ini?" ucap Anisa. "Boleh kah saya mencium kamu?" tanya Dika.
Anisa tidak mengatakan apapun karena dia masih sangat gugup. Tidak menunggu jawaban Dika langsung mencium bibir Anisa.
"Tolak Anisa... Tidak... Kenapa kamu tidak menolaknya?" ucap Anisa dalam hati.
Dika menutup mata nya karena tidak merasakan penolakan dari Anisa. Anisa mulai terbuai dengan Sentuhan dan ciuman Dika yang begitu lembut.
"Aaaaa!!!" Dika tiba-tiba menjerit kesakitan dan melepaskan bibir Anisa.
Anisa mendorong Dika.
"Bapak akan saya laporkan." ucap Anisa. Dika memegang bibirnya yang terluka.
__ADS_1
"Seperti nya kamu belum pernah berciuman, kamu sangat tegang, kamu juga mengigit bibir saya." ucap Dika.
"Dasar guru mesum!" ucap Anisa melemparkan handuk kepada Dika.
Anisa langsung lari ke kamar nya dan menutup pintu. Dia memegang bibir nya.
"Kenapa aku merasa senang ketika pak Dika mencium ku? Aku juga merasakan kehangatan yang begitu nyaman." batin Anisa.
"Ah tidak mungkin aku menyukai pria yang jauh lebih tua dari ku, lagian dia adalah teman Candra. Dia juga guru ku." ucap Anisa.
Waktu nya untuk belajar..
Di ruang tamu tidak ada percakapan apapun. Dika fokus dengan buku nya begitu juga dengan Anisa.
Tidak beberapa lama akhirnya pelajaran selesai.
"Saya akan pulang." ucap Dika sambil merapikan buku-buku nya dan semua barang-barang nya.
"Kruukkkk.... krukkk..." Bunyi Perut Anisa..Dika menoleh ke arah Anisa.
"Kamu lapar?" tanya Dika. "Enggak..." ucap Anisa sambil gugup karena dia belum bisa melupakan kejadian tadi.
Tiba-tiba perut nya bunyi lagi. Dika menghela nafas panjang sambil tersenyum.
"Kamu tidak perlu berbohong, kamu lapar kan?" ucap Dika.
"Humm aku lapar." ucap Anisa. Dika tertawa.
"Membeli makanan di luar terus tidak cukup bagus untuk kesehatan.. Kalau memasak sendiri jauh lebih bagus karena sudah terjamin rasa, kebersihan dan juga kenyang." ucap Dika.
"Huff basa-basi banget sih pak, aku sudah sangat lapar, ini bukan waktu nya untuk belajar Lagi." ucap Anisa.
"Mari kita memasak, kebetulan saya juga sebenarnya lapar." ucap Dika.
Anisa menggeleng kan kepala nya. "Tidak ada bahan yang akan di masak di dapur." ucap Anisa.
"Kalau begitu ayo kita belanja." ucap Dika.
"Kita? Sebaiknya Makan di luar saja..Memasak akan memakan waktu yang banyak." ucap Anisa.
"Kamu masih sangat muda namun sudah malas, ayo berangkat ke supermarket terdekat." ucap Dika.. Akhirnya Anisa mengikuti Dika.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di supermarket.
Dika mengambil troli dan memilih bahan yang akan di masak.
"Saya jarang di sekali di temanin oleh wanita ketika belanja seperti ini. namun sekarang saya di temanin oleh wanita." ucap Dika. Amisa menoleh ke arah Dika.
"Jarang? Kalau jarang itu artinya pernah. Pasti Bapak pernah membawa kekasih-kekasih Bapak itu berbelanja seperti ini kan?" ucap Anisa.
__ADS_1
"Kekasih-kekasih yang kamu maksud seperti apa? Kalau orang lain mendengar nya mereka Akan salah paham." ucap Dika.