Kisah Anisa Di Sekolah

Kisah Anisa Di Sekolah
Episode 141


__ADS_3

"Kalau seandainya aku yang tidak ada, kamu mencari aku gak?" tanya Arya, putri menghela nafas panjang.


"Huff kamu membahas apaan sih? yang enggak-enggak saja deh." ucap Putri.


"Aku seriusan, karena Minggu depan aku akan ikut menemani papah ku ke rumah orang tua nya, mungkin satu Minggu di sana." ucap arya.


"Ya enggak lah, ngapain aku nyariin kamu, sudah jelas aku tau kamu ikut dengan Papah kamu, kalau Anisa tidak ada Yang tau dia kemana." ucap Putri.


"Oohh begitu." Arya seketika langsung terdiam.


Putri tidak sadar kalau Arya tiba-tiba diam. Tidak beberapa lama akhirnya mereka masuk lagi ke kelas. Arya jadi diam saja.


Pulang sekolah pun Arya memilih diam. Putri menghampiri nya ke parkiran.


"Kali ini aku pulang dengan Nia yah, kami ada janji ngumpul dengan yang lain di luar." ucap Putri.


Arya mengangguk. "Humm." ucap Arya langsung masuk ke dalam mobil.


Putri melihat nya dengan tatapan aneh. "Loh, ada apa dengan dia? kenapa tiba-tiba Diam seperti itu?" tanya Putri kebingungan.


"Ah sudahlah dia selalu Aneh, terkadang dia baik, terkadang mengesalkan." ucap Putri.


"Ayo Putri." ajak Nia datang dengan motor nya.


Putri menginyakan dia langsung naik ke atas motor Teman nya itu.


Di sore hari nya Dika dan Anisa sedang berjalan-jalan ke pinggir pantai. Dika menggandeng tangan Anisa yang sedang berjalan.


Anisa menoleh ke arah Dika sambil tersenyum.


Dika juga ikut tersenyum.


"Sudah berapa hari kamu tidak sekolah? apa kamu tidak takut nilai kamu turun?" tanya Dika. Anisa menatap Dika.


"Kenapa Kakak mengundurkan diri dari sekolah? Aku tidak bersemangat untuk ke sekolah lagi." ucap Anisa. "Ssstt tidak boleh berbicara seperti itu." ucap Dika.


"Aku tidak memiliki niat sekolah kalau kakak tidak ada. Aku tidak memaksa kakak untuk kembali mengajar di sekolah itu, tapi aku ingin kakak pulang ke rumah." ucap Dika.


"Kapan kakak akan kembali ke Jakarta?" tanya Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya. "seperti nya saya masih lama di sini." ucap Dika. Anisa menghela nafas panjang.


Dia langsung melepaskan tangan nya dari Dika.

__ADS_1


"Aku tidak akan mau pulang kalau kakak juga tidak mau pulang." ucap Anisa.


"Jangan seperti itu, saya khawatir dengan nilai kamu." ucap Dika. Anisa menggeleng kan kepala nya. "Kalau kakak mengkhawatirkan nilai ku, kakak pasti akan kembali bersama ku." ucap Anisa.


"Saya menghindari keluarga saya, orang tua saya pasti akan sangat marah, saya tidak ingin kamu jadi sasaran mereka." ucap Dika.


Anisa menghela nafas panjang. "Terserah saja deh, aku tidak akan pulang kalau begitu." ucap Anisa berjalan terlebih dahulu.


Dika menghela nafas panjang. Dia mengikuti Anisa.


"Tuan Dika.. Non Anisa.." panggil Mamang.


Anisa dan Dika melihat nya.


"Mamang." ucap Anisa tersenyum.


"Ayo duduk sini Non, sini Tuan." ucap Mamang memberikan mereka kursi.


"Mamang sedang istirahat yah? Gak apa-apa ganggu?" tanya Anisa. "Tidak apa-apa Non, kenalin ini teman-teman Mamang menangkap ikan di sini." ucap Mamang.


Mereka Duduk di bawah pohon yang sangat rindang.


Tidak beberapa lama akhirnya dia kembali, semua nya sudah dapat namun Anisa tidak mau.


"Minum, kamu pasti kehausan." ucap Dika. Anisa menggeleng kan kepala nya.


"Minum Anisa agar kamu tidak kehausan." ucap Dika. Anisa menggeleng kan kepala nya. Dika tidak ingin kelihatan ribut akhirnya dia memilih untuk menyuapi Anisa.


Anisa tidak bisa menolak akhirnya dia memilih untuk menolak nya, dia meminum walaupun memasang wajah tidak suka.


"Kalau begitu kami lanjut jalan-jalan lagi yah mang." ucap Dika. "Silahkan Tuan. Non." ucap Mamang. Mereka pun pergi meninggalkan Mamang dengan teman-teman nya.


"Anisa.. Tunggu saya, kamu berjalan terlalu cepat, kamu akan kelelahan." ucap Dika. "Bodo amat aku tidak perduli." ucap Anisa. Dika menahan tangan Anisa.


"Anisa jangan Marah seperti ini, saya mohon." ucap Dika. "kalau kakak tidak ingin aku marah, kakak juga ikut lah pulang dengan ku." ucap Anisa.


Dika terdiam. "Ya sudah kalau tidak mau, aku akan terus marah." ucap Anisa. Dika menahan tangan Anisa.


"Berhadapan dengan orang tua saya tidak lah mudah Anisa, saya hanya memikirkan hubungan kita nanti." ucap Dika.


"Kalau kakak serius dengan ku, kakak pasti berani menghadapi orang tua kakak. Aku juga tidak mempermasalahkan orang tua Kakak yang marah kepada ku." ucap Anisa.

__ADS_1


"Kalau pun nanti nya mereka tidak setuju. kita berjuang bersama mempertahankan nya." ucap Anisa. Dika menatap Dika.


"Tidak lah semudah itu Anisa, orang tua saya tidak setuju saya dengan kamu. Mereka sudah menjodohkan saya dengan orang lain." ucap Dika.


Anisa terdiam sejenak. "Kalau saya pulang mereka akan menjodohkan saya dengan perempuan itu." ucap Dika.


Anisa menatap Dika.


"Saya hanya mencintai kamu, saya ingin bersama kamu." ucap Dika.


"Kalau begitu kakak jelas kan kepada mereka kalau kakak ingin bersama ku." ucap Anisa. Dika terdiam.


"Dika yang aku kenal tidak lah pengecut seperti ini, aku rasa sekarang ini bukan kakak." ucap Anisa.


Dika menatap Anisa dia memeluk nya. Anisa melepaskan nya.


"Aku masih marah, jangan mencoba untuk memeluk ku." ucap Anisa.


Dika menghela nafas panjang.


"Apa kakak tidak merindukan Boni? Bagaimana dengan Boni? Kakak tidak memikirkan tentang dia?" tanya Anisa.


Dika menundukkan kepalanya. Anisa sudah kehilangan kesabaran untuk menghadapi Dika.


"Kalau begitu aku akan pulang ke rumah, aku sudah tidak ingin jalan-jalan." ucap Anisa. Dika melihat Anisa pergi.


"Anisa! Anisa." panggil Dika.


Dika mengikuti Anisa dari belakang.


"Aku memilih Anisa tidak lah salah, ternyata dia sudah bisa menerima apa adanya saya. Terimakasih Anisa, saya tidak akan pernah menyia-nyiakan kamu." batin Dika.


"sangat mengesalkan, aku sangat membencinya, aku tidak suka. Sudah dewasa bahkan sudah memiliki anak namun tidak bisa berfikir dewasa, untuk apa dia pacaran dengan ku kalau tidak bisa saling memperjuangkan." ucap Anisa sepanjang perjalanan menggerutu.


Namun tiba-tiba dia berhenti. "Loh aku kemana ini? Kok jadi tidak ada jalan? Perasaan aku kembali dari jalan yang di bawa oleh kak Dika tadi." batin Anisa.


"Saya memanggil kamu dari tadi, namun kamu abaikan. Jalan di sini sangat lah kecil sehingga sulit keluar. Ayo keluar dengan saya." ucap Dika. Anisa menggeleng kan kepala nya.


"Ayo pulang, kamu mau di sini sampai malam?" ucap Dika. Anisa melihat sudah mulai gelap. Dia mengikuti Dika.


"Ayo berjalan di depan." ucap Dika, Anisa tidak mau dia tetap mau di belakang Dika.

__ADS_1


__ADS_2