
"Huff... Tenang Anisa, tenang... Pak Dika hanya mencoba menggoda ku dan membuat ku kesal." ucap Anisa. Anisa langsung mandi bersiap-siap ke sekolah karena dia sudah jauh lebih baik sekarang.
Setelah selesai dia mau berangkat dengan supir namun Dika tidak mengijinkan.
"Kamu harus ikut dengan saya." ucap Dika, menarik tangan Anisa ke atas motor nya. Anisa tidak bisa melawan perkataan dia, itu sebab nya dia harus menuruti perintah dari Dika.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di Sekolah, Anisa Tampa basa-basi meninggalkan Dika di parkiran dan langsung masuk ke dalam kelas nya.
Namun sebelum masuk ke kelas dia berhenti dulu.
"Aku akan membuktikan kalau aku benar-benar bisa, aku tidak menyusahkan, aku bisa memperbaiki diri, aku akan berusaha membuat orang tua ku kembali." ucap Anisa.
"Bismillahirrahmanirrahim aku pasti bisa." ucap Anisa, dia duduk di samping Putri.
"Anisa aku minta maaf yah karena aku gak bisa datang menjenguk kamu waktu sakit." ucap Putri.
"Gak apa-apa kok." ucap Anisa.
"Kamu kenapa bisa sakit seperti ini sih? Apa yang terjadi?" tanya Putri. Anisa menggeleng kan kepala nya.
"Aku gak apa-apa, ini hanya kecelakaan sedikit saja." ucap Anisa. Putri memegang tangan Anisa.
"Biasanya kalau kamu memiliki masalah kamu selalu cerita kepada ku, tapi sekarang kenapa kelihatan nya kamu tidak mau jujur kepada ku?" tanya Putri.
Anisa menghela nafas panjang.
"Aku kurang jujur seperti apa lagi? Aku sudah sangat jujur kepada kamu." ucap Anisa.
Putri menghela nafas panjang. "Aku merasa kamu seperti menutupi sesuatu dari aku." ucap Putri.
"Atau jangan-jangan kamu sudah memiliki sahabat baru, atau orang baru yang kamu percaya bisa mendengar kan kamu, membantu kamu dan membuat kamu nyaman?" tanya Putri.
Anisa terdiam sejenak dia seketika langsung memikirkan Dika.
"Apa benar aku sudah nyaman dengan pak Dika sampai aku tidak perduli dan tidak memperdulikan orang lain lagi?" ucap Anisa dalam hati.
"Anisa...." Panggil Arya. Anisa tersenyum.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Arya.
"Alhamdulillah sudah lebih baik kok." ucap Anisa.
"Bagus deh kalau begitu, nih ada buah untuk kamu." ucap Arya.
"Kenapa kamu repot-repot seperti ini sih membawa buah untuk ku?" ucap Anisa. Arya tersenyum.
"Aku tau kamu suka buah. Jadi aku sama sekali tidak kerepotan kok, justru aku sangat senang." ucap Arya.
"Ekhem-Ekhem..." Dika masuk ke kelas. "Kamu duduk di kursi kamu sana, aku bisa mengupas sendiri kok." ucap Anisa.. Arya menganguk.
__ADS_1
Pelajaran pun di mulai. Kali ini Anisa sangat fokus pada pelajaran, tidak jarang dia mengangkat tangan ketika Dika mengajukan pertanyaan.
Setelah beberapa lama akhirnya kelas selesai. Anisa keluar dari kelas sendirian langsung ke kantin.
"Bibik bikin nasi goreng dong." ucap Anisa kepada Pemilik kantin.
"Siap Non." ucap Bibik..Nasi goreng nya akhirnya datang juga.
"Terimakasih yah Bik." ucap Anisa.
Anisa makan di kantin sendirian.
Setelah selesai dia mau langsung pulang agar bisa istirahat sejenak sebelum jam les nya.
Dia berdiri di depan motor Dika.
"Kemana sih pak Dika? Di sini sangat panas sekali." ucap Anisa.
"Ngapain sih nungguin pak Dika? Pak Dika sudah pulang duluan." ucap Rida. Anisa mengabaikan nya.
"Sirik banget sih, bilang aja mau gantiin posisi aku di sini." ucap Anisa dalam hati.
"Kamu ngapain berdiri di situ Anisa?" tanya Putri.
"Kamu pasti nungguin pak Dika kan?" tanya Putri.. Anisa menganguk.
"Sakit?." ucap Anisa kaget.
"Kamu pulang bareng aku yah." ucap Arya yang baru saja datang.
"Aku buru-buru. Aku harus pergi yah." ucap Anisa meninggalkan mereka berdua yang keheranan.
"Kenapa Anisa? Dia mau kemana?" tanya Arya.. Putri menggeleng kan kepala nya.
"Aku tidak tau." ucap Putri.
"Ya udah deh kalau begitu aku pulang dulu." ucap Arya.
"Kamu gak mau nganterin aku? Aku gak ada yang jemput, uang ku juga kurang mau naik ojek online." ucap Putri.
Namun Arya tidak mau mendengar kan nya dan pergi begitu saja.
Tidak beberapa lama akhirnya Anisa sampai di depan apartemen Dika.
"Loh aku ngapain sih ke sini?" tanya Anisa dalam hati.
"Aku kenapa khawatir kepada dia?" ucap Anisa.
Anisa mau pergi namun tiba-tiba dia di panggil oleh guru yang mengantarkan Dika pulang.
__ADS_1
"Anisa kamu di sini juga?" tanya pak guru nya.
Anisa tersenyum ke arah guru nya itu.
"Iyah Pak, aku ke sini mau menemui teman ku." ucap Anisa.
"Oohh." ucap guru nya itu.
"Bapak ke sini mengantarkan pak Dika yang lagi pusing. keadaan nya terlihat sangat parah namun dia tidak mau ke rumah sakit." ucap pak guru nya.
"Ya udah kalau begitu Bapak pergi dulu yah." ucap pak guru nya itu.
Anisa menganguk.. Setelah guru nya pergi Anisa langsung berlari ke dalam apartemen naik ke lantai apartemen Dika.
"Pak Dika..." ucap Anisa masuk karena sudah tau pasport nya. Dika yang tiduran di kamar menoleh ke arah pintu yang terbuka.
"Kenapa Bibik datang hari ini?" tanya Dika. Namun ternyata bukan Bibik.
"Kenapa Bapak bisa sakit? Kemarin kelihatan nya sehat." ucap Anisa.
Dika menggeleng kan kepala nya.
Anisa mendekati Dika. "Apa Bapak sudah minum obat?" tanya Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya.
"Ada obat dari rumah sakit yang harus di minum oleh Dika..Dan ternyata Dika Sama sekali tidak meminum nya.
Melihat obat tidak berkurang membuat Anisa menghela nafas panjang.
"Kenapa bapak tidak minum obat sama sekali? Bagaimana bapak bisa sehat kalau begitu? Ini juga bisa untuk menambah darah." ucap Anisa.
Anisa memberikan Dika minum obat. Dika meminum nya Tampa penolakan.
"Kenapa bapak tidak minum obat ini?" tanya Anisa.
"Saya tidak membawa nya ke rumah kamu, itu sebab nya saya tidak meminum nya." ucap Dika.
"Hufff aku sembuh, bapak yang sakit sekarang." ucap Anisa.
"Siapa bilang saya sakit? Saya sudah sembuh." ucap Dika.
"Sudah bapak jangan berpura-pura Sehat seperti itu." ucap Anisa mendorong Dika untuk tiduran lagi.
Dika menghela nafas. "Saya tidak sehat." ucap Dika..
"Ini pasti karena Pak Dika mengurus ku jadi kurang tidur di tambah lagi dia pusing memikirkan pekerjaan di sekolah." batin Anisa.
"Ya sudah kalau begitu bapak istirahat saja." ucap Anisa, Dika memejamkan matanya. Tiba-tiba Anisa memijit-mijit kepala Dika.
Dika semakin rileks. Anisa sebenernya sudah tidak nyaman karena jantung nya berdetak cepat, badan nya panas dingin ketika Dika memegang tangan nya agar tidak terlalu kuat memijat kepala nya.
__ADS_1