Kisah Anisa Di Sekolah

Kisah Anisa Di Sekolah
Episode 154


__ADS_3

"Bapak yakin aku tinggal di sini?" tanya Tri karena sangat mewah sekali.


"Ya saya yakin, karena bukan hanya kamu tinggal di sini tapi banyak juga anggota Toko yang tinggal di sini." ucap Marsel.


"Oohh begitu." ucap Tri. Mereka masuk ke dalam.


"Kenapa aku rasa tempat ini terlalu berlebihan Pak? Ini seperti nya sudah di tempati oleh seseorang." ucap Tri.


Dia melihat semua fasilitas lengkap di dalam.


"Ini adalah Bekas tempat tinggal saya sebelumnya, saya percayakan kepada kamu tempat ini." ucap Marsel.


"Tempat bapak sebelum nya? Aku tidak ingin aku tidak enak sama sekali." ucap Tri. "Kamu harus tinggal di sini karena tidak ada Mes yang lain lagi." ucap Marsel.


"Oohh begitu yah Pak.. Baiklah kalau begitu aku akan tinggal di sini. Aku akan menjemput barang-barang ku terlebih dahulu ke dalam mobil Bapak." ucap Tri.


"Tidak perlu! saya mau kamu jangan memakai semua barang-barang yang kamu bawa itu, saya tidak ingin melihat nya lagi." ucap Marsel.


"Lalu bagaimana dengan pakaian ku? Aku tidak memiliki pakaian lain." ucap Tri. "Saya sudah menyiapkan semua yang kamu perlukan di dalam." ucap Marsel.


"Maksud bapak?" tanya Tri. "Kamu sudah bisa istirahat, besok kamu harus bekerja tepat waktu." ucap Marsel.


Marsel langsung pergi meninggalkan Tri.


Tri masuk ke dalam dia melihat ruangan yang sangat rapi, lengkap dan sangat nyaman. Dia masuk ke kamar.


Sudah ada baju perempuan semua yang baru sudah ada di sana.


"Ya ampun ini semua pak Marsel yang menyiapkan nya?" ucap Tri Heran. "Apa semua nya karyawan di sini di lakukan seperti ini?" ucap Tri.


Tiba-tiba handphone nya berbunyi dia menjawab telpon dari Anisa.


"Halo Anisa..." Ucap Tri. "Kamu di mana? apa kamu sudah sampai? Aku menelpon kak Marsel tidak di jawab aku sangat khawatir sama kamu." ucap Anisa.


"Aku sudah sampai kok, nih sekarang aku lagi di mes tempat tinggal ku." ucap Tri. Anisa melihat di mana Tri berada.


"Loh bukannya itu apartemen Kak Marsel? Kenapa dia meminta Tri tinggal di sana?" ucap Anisa kebingungan.


"Bagus deh kalau begitu." ucap Anisa.

__ADS_1


"Mulai besok aku sudah bisa bekerja. Doain yah semoga aku betah di sana." ucap Tri.


"Kamu pasti betah kok di sana, gaji nya lumayan besar, karyawan nya juga baik-baik kok." ucap Anisa. Tri tersenyum.


Dika baru saja selesai datang dia langsung duduk di samping Anisa menunggu Anisa selesai berbicara.


"Besok kalau aku libur aku akan datang melihat kamu ke sana." ucap Anisa. "Baiklah, kalau begitu aku bersih-bersih dulu yah, aku harus istirahat." ucap Tri.


"Selamat malam." ucap Anisa.. Panggilan langsung mati. Anisa mau membalas pesan teman nya namun Dika langsung mengambil handphone Anisa dan meletakkan nya di atas meja.


"Sejak kapan kamu beli handphone?" tanya Dika karena sebelumnya Anisa tidak ada handphone.


"Itu handphone lama aku kak." ucap Anisa. "Oohh. Saya akan membeli kan kamu handphone baru tapi dengan satu syarat." ucap Dika.


Anisa menghela nafas panjang. "Aku tidak ingin membeli handphone, ini masih bagus, nanti juga hilang, rusak dan terbuang." ucap Anisa.


Dika menghela nafas panjang.


"Kenapa kakak tidak mengeringkan rambut? Kalau seperti ini Kakak bisa sakit." ucap Anisa.


Dika langsung memberikan handuk dan pengering rambut kepada Anisa.


"Saya butuh bantuan calon istri saya untuk mengeringkan nya." ucap Dika. Anisa tersenyum.


"Aku sangat merindukan Boni." ucap Anisa. Dika diam. "Apa kakak tidak ingin menemui Boni?" tanya Anisa.


"Kamu belum bisa libur, saya juga belum bisa keluar." ucap Dika.


"Di hari libur nanti. Aku ingin bertemu dengan Boni, dia juga pasti sudah sangat merindukan kakak." ucap Anisa.


Dika menatap wajah Anisa. "Apa kamu sudah bersedia menjadi mamah nya Boni?" tanya Dika. Anisa tersenyum.


"Kakak jangan menanyakan itu, aku takut salah jawab. Kalau aku bilang siap sementara aku masih sekolah, aku belum bisa bertanggung jawab atas diri ku sendiri." ucap Anisah.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu?" tanya Dika.


"Yahh aku takut saja nanti kalau aku tidak bisa mengajari Boni yang baik,.dan tidak bisa jadi mamah yang baik." ucap Anisa.


Dika memegang tangan Anisa. "Justru saya ingin kita sama-sama belajar. Saya bukan lah orang tua yang baik apa kamu bisa mendampingi saya menjadi orang tua yang baik?" tanya Dika.

__ADS_1


Anisa menatap wajah Dika yang sangat serius menatap nya.


"Kenapa kamu diam? Kamu mau kan?" tanya Dika, Anisa tersenyum. Dia menutup mulutnya segera.


"Kenapa kamu malah tersenyum? Saya sangat serius." ucap Dika.


"Kakak belum pantas menjadi Ayah dari segi penampilan dan wajah, tapi kalau dari sifat udah sih, aku yakin kok kalau kakak itu adalah orang tua yang baik, tidak ada orang tua yang ingin seperti ini dengan anak nya." ucap Anisa.


Dika tersenyum.


"Kalau begitu kamu mau Kan menikah dengan saya?" tanya Dika. "Aku mau menikah dengan kakak setelah aku lulus SMA." ucap Anisa.


"Kita bisa saja menikah siri sekarang, apa kamu tidak mau?" tanya Dika. Anisa memukul Dada Dika.


"Aku tidak mau, dasar pria mesum!" ucap Anisa langsung beranjak. Dika tertawa.


Dia mengikuti Anisa ke kamar. "Kenapa kakak mengikuti aku? Aku tidak mau tidur dengan kakak." ucap Anisa.


"Bukan nya sudah tidak ada orang di rumah ini selain kita berdua? Tidak apa-apa dong." ucap Dika.


Anisa mengambil handphone nya. "Aku masih memiliki nomor kontak Kak Marsel." ucap Anisa. Dika menghela nafas panjang dia mundur.


"Baiklah, jangan menelpon kak Marsel." ucap Dika.. Anisa tersenyum. "Seperti itu saja langsung takut." ucap Anisa.


"Kalau begitu kamu tidur lah yang nyenyak. Selamat malam sayang." ucap Dika sambil tersenyum dan memasang mata genit.


Anisa tidak menjawab dia langsung menutup pintu.


Dika masuk ke kamar yang ada di bawah.


Kedua nya pun tertidur dengan sangat nyenyak.


Sementara di tempat lain Putri Tidak bisa tidur sama sekali, dia mengingat kejadian pulang sekolah tadi.


"Arya apa-apaan sih? kenapa dia membuat aku seperti ini? dia sudah membuat ku tidak bisa tidur sama sekali!" ucap Putri dengan kesal.


"Lagian kenapa aku memikirkan dia sih? Aku sangat benci dia, aku tidak ingin mengingat dia! sangat menjengkelkan sekali!" ucap Putri.


"Nak... Kamu kenapa berteriak sendiri? Ada apa?" tanya ibu nya mengetuk pintu kamar nya karena Putri berteriak cukup keras.

__ADS_1


"Enggak kok Bu, ini lagi Nonton." ucap Putri.


"Ini sudah malam, waktu nya tidur nak." ucap ibu nya.


__ADS_2