
"Gak apa-apa Om, aku bisa melihat Om dan Tante Anisa saja sudah membuat ku Senang,. tapi aku tidak mau pulang ke panti asuhan, aku masih ingin di sini." ucap Boni.
"Tapi perjanjian dari awal hanya dua hari Boni, nanti kalau telat ibu yayasan tidak mengijinkan lagi." ucap Anisa.
Boni terdiam.
"sudah jangan cemberut, Om akan berjanji lebih seru datang mengunjungi Boni, karena Boni sudah seperti anak om sendiri." ucap Dika memangku Boni.
"Om pamit bekerja dulu yah." ucap Dika. Boni mengangguk. Dika tersenyum ke arah Anisa.
"Jangan lupa kabarin saya kalau kamu sudah sampai di sana." ucap Dika. Anisa mengangguk.
Dika mencium pipi Anisa dan setelah itu pergi.
"Sebaik nya kita juga berangkat." ucap Anisa kepada Boni. Boni mengangguk.
Di dalam perjalanan Anisa baru teringat Handphone Dika.
"Bagaimana aku menghubungi dia kalau handphone nya tidak ada?" ucap Anisa.
Akhirnya dia menyusul Dika ke kantor nya sebelum pergi ke tujuan mereka. Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di sana.
"Tante, kita ngapain ke sini?" tanya Boni.
"Ini adalah perusahaan om Dika, ayo turun kamu pasti tau." ucap Anisa.
Boni turun. "Mbak Anisa.." Sekretaris Dika langsung datang menghampiri Anisa dan Boni.
"Ada Pak Dika? saya ingin menemui dokter sebentar." ucap Anisa.
"Tapi pak Dika baru saja mau ke ruangan meeting." ucap sekretaris nya.
"Anisa.. Boni, kenapa kalian ada di sini?" tanya Dika. "Syukur deh kakak masih bisa menemui aku." ucap Anisa.
"Ada apa? Apa kamu merindukan saya?" tanya Dika. Anisa menghela nafas panjang. "Bukan masalah itu kak, aku mau bertanya bagaimana aku menghubungi kakak kalau handphone kakak tidak ada?" ucap Anisa.
"Oohh tentang itu, saya sudah membeli handphone baru, saya hapal nomor kamu, saya akan menghubungi nomor kamu." ucap Dika.
"Oohh, bagus deh." ucap Anisa. Tiba-tiba Dika mendekati Anisa.
"Sebenernya tujuan kamu bukan itu kan? Kamu ke sini karena merindukan saya kan?" tanya Dika.
Anisa menggeleng kan kepala nya. "Sebaiknya aku dengan Boni pergi." ucap Anisa. Namun Dika menahan tangan Anisa.
__ADS_1
Semua para karyawan yang melihat itu sangat heboh.
"Wahh pak Dika ternyata sangat ganas kepada Mbak Anisa." ucap staf.
"Ada apa ini ribut-ribut? Semua nya sebaik nya kembali bekerja, malah kumpul-kumpul di sini!" ucap Rina.
Namun dia seketika terdiam melihat Dika dan Anisa yang sedang berpelukan.
Rina terbakar oleh api cemburu. Dia sangat kesal dan langsung meninggalkan tempat itu.
"Humm pasti Bu Rina cemburu." ucap Staf lain nya.
"Malu kak, jangan melakukan hal ini." ucap Anisa mendorong Dika dari nya.
"Kenapa harus malu? Saya adalah Pacar kamu." ucap Dika.
Sementara di arah lain, salah satu teman Dika melihat momen itu.
"Aku sudah lama mendengar isu Kalau Dika pacaran dengan Anisa kekasih nya Candra, tapi aku tidak percaya, sekarang aku percaya." ucap Teman Candra dan Dika itu.
Dia keluar dari sana.
"Bagaimana kalau Candra tau? Dan kenapa juga Anisa dan Dika sangat tega melakukan ini kepada Candra." ucap teman nya itu.
Dia segera menemui Candra yang kebetulan lagi ada di luar.
Candra tiba-tiba tertawa dia menoleh ke arah teman nya itu.
"Apa yang kamu katakan teman? Tidak mungkin lah " ucap Candra.
"Kenapa kamu tidak percaya? Aku melihat sendiri kalau Anisa menemui Dika ke perusahaan nya." ucap Teman nya.
Candra menggeleng kan kepala nya. "Dika tidak mungkin tertarik kepada Anisa. Tipe nya bukan lah yang seperti itu!" ucap Candra.
"Tapi aku melihat nya sendiri." ucap Teman nya lagi.
"Itu hanya cerita yang di buat-buat saja, sudah jelas hari ini Anisa membawa Boni jalan-jalan, ngapain dia ke perusahaan Dika?" ucap Candra tetap tidak percaya.
"Huff sudah lah kalau kamu tidak percaya, kamu akan tau sendiri nantinya." ucap teman nya itu.
"Aku menitipkan Anisa kepada dika, wajar saja kalau mereka pernah berdua, atau mereka berteman." ucap Candra.
"Terserah kamu saja deh. Aku berdoa hubungan kamu dengan Anisa semoga langgeng." ucap Teman nya dan langsung pergi meninggalkan Candra.
__ADS_1
Candra menghela nafas panjang. "Huff.. Tidak mungkin lah Dika mengambil Anisa dari ku." ucap Candra.
Dia menelpon Anisa, Anisa langsung menjawab nya.
"Sayang kamu ada di mana?" tanya Candra.
"Aku lagi di mobil, perjalanan mau ke mall membawa Boni." ucap Anisa. "Oohh." ucap Candra.
"Aku sedang menyetir, aku tidak bisa memegang handphone,." ucap Anisa.
"Ya udah kalau begitu, hati-hati yah." ucap Candra.. Anisa menginyakan dan langsung mematikan sambungan telepon.
"Sebenernya pacar Tante itu Om Dika atau om Candra?" tanya Boni. Anisa menoleh ke arah Boni.
"Tante Mencintai Om Dika, tapi om Candra adalah Pacar Tante yang baik, sudah lama Tante dengan Om Candra." ucap Anisa.
"Apa Tante tidak kasihan kepada mereka yang sudah Tante bohongi?" tanya Boni. Seketika Anisa langsung terdiam.
"Nanti kalau Ibu yayasan tau, aku tidak bisa ikut dengan Tante dan om Dika lagi." ucap Boni.
"Kamu tidak perlu khawatir, Tante dengan Om Dika baik-baik saja kok." ucap Anisa. Boni menghela nafas panjang.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai di mall. "Om Dika meminta kamu membeli apapun yang kamu mau, kalau kamu tidak membeli dan memilih om Dika akan marah. Bukan hanya kepada kamu, tapi sama Tante juga." ucap Anisa.
"Aku tidak memerlukan apapun sekarang Tante, semua nya sudah di lengkapi oleh Tante dengan Om," ucap Boni.
"Bagaimana dengan baju? Sekalian juga beli untuk teman-teman dekat kamu." ucap Anisa. Boni mengangguk.
Mereka pun langsung masuk ke toko baju. Mereka membeli makanan, sendal dan banyak yang lainnya.
Anisa melihat kartu itu dan melihat juga dompet yang sangat cantik.
"Kapan lagi aku bisa menikmati uang dari kartu ini, sebaiknya aku memanfaatkan nya." ucap Anisa akhirnya dia membeli barang-barang branded beberapa yang harganya cukup mahal.
"Permisi pak Dika.."Sekretaris masuk.
"Ada apa?" tanya Dika.
"Beberapa menit yang lalu ada pesan tagihan kartu kredit anda yang cukup besar. Dan berulang-ulang kali di gunakan." ucap sekretaris nya.
Dika melihat nya tiba-tiba dia tersenyum. "Kenapa bapak tersenyum? Bagaimana kalau kartu bapak jatuh ke tangan orang yang salah? Bagaimana bisa banyak seperti ini sementara Bapak di sini saja." ucap sekretaris nya.
"Kartu saya ada pada calon istri saya." ucap Dika. Sekretaris nya kebingungan.
__ADS_1
"Maksud bapak?" tanya sekretaris nya.
"Anisa yang menggunakan kartu itu. Tidak pernah dia mau menggunakan uang saya, dan sekarang dia sudah mau, saya sangat senang." ucap Dika.