Kisah Anisa Di Sekolah

Kisah Anisa Di Sekolah
Episode 168


__ADS_3

"Aku ikut dengan kamu saja yah" ucap Tri kepada Anisa setelah sudah di depan.


"Tapi..."


"Gak apa-apa, naik saja." ucap Dika.


"Kamu ikut dengan saya! Kamu datang ke sini bersama saya jadi kamu harus ikut dengan saya, lagian saya tidak betah menyetir sendiri." ucap Marsel.


"kamu temanin kak Marsel saja Tri." ucap Dika.


Tri tidak bisa menolak kalau sudah di suruh Dika, akhirnya dia masuk ke dalam mobil Marsel.


"Kamu tidak membawa pakaian seperti ini tadi, kamu memakai milik siapa?" tanya Marsel.


"Milik Anisa." ucap Tri.


Di dalam mobil Dika.


"Kenapa kakak menatap ku seperti itu?" tanya Anisa.


Dika tersenyum dia menyelipkan rambut Anisa ke belakang telinga Anisa.


"Kamu sangat cantik sekali." ucap Dika.


"Sungguh?" tanya Anisa. Dika menganguk.


"Anak murid siapa dulu dong." ucap Anisa. Dika mencubit hidung Anisa.


"Awhh!" Anisa kesakitan. "Saya bukan guru kamu lagi, dan kamu bukan anak murid saya lagi, tapi kamu adalah kekasih saya." ucap Dika.


Anisa tersenyum. "Iyah deh Iyah." ucap Anisa.


"Saya merasa sangat tua kalau kamu mengatakan kamu anak murid saya." ucap Dika.


"Loh emang nya kakak tidak sadar?" tanya Anisa. Dika memasang wajah kesal. "Jangan membuat saya kesal Anisa, saya takut kalau lipstik kamu akan hilang." ucap Dika.


Anisa tersenyum. "Aku tidak takut karena aku membawa lipstik." ucap Anisa. Dika langsung nyosor namun langsung di tahan oleh Anisa.


"Jangan kak, orang yang ada di luar bisa melihat kita." ucap Anisa. Dika tersenyum menatap wajah Anisa.


"Kamu ternyata takut juga." ucap Dika. "Bibir ku sudah terasa tebal karena kakak tidak berhenti mencium nya." ucap Anisa.


Dika tersenyum. "Bibir kamu sangat manis sama seperti kamu sangat manis." ucap Dika mencubit dagu Anisa.


Anisa tersipu malu.


"Ya udah kalau begitu ayo kita berangkat, kak Marsel sama Tri sudah jalan." ucap Anisa.


"Baik sayang." ucap Dika.


Di tempat lain Putri dan Arya berpamitan kepada orang tua Putri.

__ADS_1


"Ayah, ibu aku dengan Arya pergi dulu yah." ucap Putri.


"Baiklah nak, kalian hati-hati di jalan." ucap Orang tua Putri.


Arya dan Putri bergantian menyalim tangan orang tua nya.


Putri sudah ada di dalam mobil Arya.


"Pakai pengaman kamu!" ucap Arya. Putri memasang nya namun Arya langsung membantu nya.


Tidak sengaja Putri mencium pipi Arya.


Putri kaget sementara Arya malah tersenyum.


"Aku bisa pasang sendiri!" ucap Putri.


Arya menghela nafas panjang. "Aku sudah membantu kamu, apa susah nya mengatakan terimakasih?" ucap Arya.


Putri diam saja. "Ya udah buruan jalan, Anisa pasti sudah menunggu." ucap Putri.


"Kamu jangan marah-marah gitu dong? Kamu gak suka yah aku ikut sama kamu?" ucap Arya.


"Kamu masih nanya?" tanya Putri.


"aku seperti ini karena lagi memperjuangkan cinta aku sama kamu, aku benar-benar mencintai kamu, aku ingin kita memiliki hubungan." ucap Arya.


"Tapi aku tidak ingin memiliki hubungan apapun sama kamu, aku tidak ingin bersama kamu." ucap Putri dengan sangat tegas sekali.


Arya seketika langsung terdiam.


"Apa yang sudah ku katakan? Kenapa aku mengatakan hal seperti itu?" ucap Putri dalam hati.


"Ada apa dengan ku? Aku sudah berjanji akan bersifat baik kepada Arya namun kenapa aku semakin jahat kepada dia?" ucap Putri.


Arya menghidupkan mobil nya.


"Seharusnya aku tidak berharap banyak kepada Putri. Yang di katakan oleh Anisa tidak lah mungkin. Mana mungkin Putri dengan mudah jatuh cinta kepada pria yang selalu membuat nya kesal." batin Arya.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di restoran sangat ramai sekali.


Putri diam ketika mobil sudah terparkir dia menunduk kan kepala nya.


"Aku minta maaf kalau kata-kata ku membuat kamu tersinggung." ucap Putri. Arya menoleh ke arah Putri sambil tersenyum.


"Aku tau kok kalau aku tidak mungkin menjadi pacar kamu, tidak mungkin pria seperti ku kamu terima menjadi pacar kamu." ucap Arya.


"Walaupun cinta ku sangat besar kepada kamu, Tapi aku sadar kok kalau aku bukan lah Tipe kamu." ucap Arya.


"Aku minta maaf kalau aku membuat kamu tidak nyaman, aku tidak akan bisa memiliki kamu, aku tidak ingin memaksa kamu." ucap Arya.


"Seandainya kamu tau Arya, aku tidak mau menerima kamu karena aku sadar aku siapa, aku tidak pantas bersama kamu." batin Putri.

__ADS_1


"Kamu anak orang kaya, kamu juara kelas, tampan dan juga anak berprestasi di sekolah, sementara aku hanya keluarga yang sederhana. Bahkan bisa di bilang aku memiliki nilai yang jelek di sekolah." batin Putri lagi.


"Kamu turun lah, aku sebaiknya menunggu di sini saja, aku tidak ingin membuat kamu tidak nyaman." ucap Arya.


Putri turun dari dalam mobil. Arya seketika menarik rambut nya dengan kasar dan menyandarkan di setir mobil.


Tok!! Tok!! Tok!!


Tiba-tiba Putri mengetuk kaca mobil Arya.


Arya menurunkan kaca mobil.


"Aku sudah bilang sama Anisa aku datang bersama kamu, tidak mungkin kamu tidak turun." ucap Putri.


Arya tidak mengatakan apapun dia turun dia berjalan di belakang Putri.


Anisa mengangkat tangan nya ketika melihat Putri dan Arya.


"Loh mereka pacaran?" tanya Marsel.


"Tidak kok kak, mereka teman." ucap Anisa.


Dia bisa merasakan ada masalah di kedua teman nya itu.


Putri dan Arya bertemu dengan mantan guru nya, mereka berdua jadi sangat segan, namun kelihatan sekali kalau Dika sangat ramah berbeda dari sebelumnya.


Mereka berkenalan terlebih dahulu dengan Putri.


"Sebelum makan kita ambil gambar dulu." ucap Anisa.


Marsel yang duduk di sebelah Tri langsung merangkul pinggang Tri.


Tri kaget namun dia harus biasa saja agar tidak ada yang tau. Setelah selesai mengambil foto Tri menepis tangan Marsel.


"Dasar pria gatal! Mengambil kesempatan dalam kesempitan!" ucap Tri.


Mereka makan bersama, Meja bagian mereka terlihat sangat ceria sekali.


Putri dan Arya berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


"Kamu suka ini kan? Kamu harus makan yang banyak." ucap Arya memberikan Cumi kepada Anisa.


Putri melihat ke Arya, begitu juga dengan Dika.


Sementara Marsel dan Tri hanya bisa menyaksikan mereka berempat.


"Tolong kupas udang satu untuk saya." ucap Marsel kepada Tri.


"Bapak memiliki tangan, aku ingin makan." ucap Tri.


"Seorang kekasih itu harus siap melayani pacar nya!" ucap Marsel. Tri menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Huff coba saja kalau bukan karena uang, aku tidak akan mau melakukan ini." ucap Tri.


"Dasar perempuan mata uang." ucap Marsel. "Bodoh amat bapak mau ngomong apa, semua manusia membutuhkan uang." ucap Tri.


__ADS_2