
Anisa menatap Dika sambil tersenyum. "Ya ampun kak, sama Mamang saja kakak cemburu?" ucap Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya. "Siapa yang cemburu? saya tidak cemburu, saya hanya tidak suka." ucap Dika.
Anisa senyum-senyum. "Kenapa kamu senyum-senyum? Saya tidak pernah cemburu." ucap Dika.
"Yakin?" tanya Anisa. Dika mengangguk.
"Ya udah deh kalau begitu aku mau ke dalam dulu cerita-cerita sama Mamang." ucap Anisa. Tiba-tiba Dika menahan tangan Anisa.
"Jangan.. Saya sudah di abaikan oleh kamu dari tadi. Kamu baru saja mengenal Mamang, namun kamu sudah akrab dengan nya. Saya sangat merindukan kamu." ucap Dika dengan wajah melas.
Anisa tersenyum. Dia duduk di samping Dika.
Dika menatap wajah Anisa. "Kenapa kakak menatap ku seperti itu?" tanya Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya.
"Jawab! Jangan-jangan kakak berfikir yang aneh-aneh lagi." ucap Anisa. Dika mengelus rambut Anisa.
"Saya sudah salah berfikir tentang kamu yang berfikir akan meninggalkan saya dan membenci saya." ucap Dika.
Anisa tersenyum. "Tidak mungkin aku meninggalkan seseorang yang sudah membuat aku lebih baik seperti ini sekarang. Aku hanya bisa mengungkapkan sama kakak semua yang aku rasakan, kakak yang bisa mengerti aku." ucap Anisa.
Dika tersenyum. "Saya berjanji tidak akan pernah meninggalkan kamu, apapun yang terjadi, saya juga berharap kalau kamu akan terus bersama saya." ucap Dika.
Anisa tersenyum sambil mengangguk.
"Tuan Dika, non Anisa. Ini sudah malam ayo waktu nya Istirahat." ucap Mamang dari pintu.
"Iyah Mang." jawab Dika.
"Oh iya mang, malam ini aku numpang tidur sama Mamang yah." ucap Dika. Mamang mengangguk.
Dika mengantarkan Anisa ke kamar nya setelah itu dia pergi ke kamar Mamang.
"Walaupun mereka sudah terbiasa tidur di satu kamar tetap saja Dika harus menghargai Mamang yang ada di sana.
Belum lagi kalau orang berfikir aneh-aneh terhadap mereka berdua.
Keesokan harinya di pagi hari yang cerah Anisa bangun namun tidak melihat siapapun di rumah. Dia mencari ke kamar sebelah tidak ada orang.
Tiba-tiba Pintu terbuka. Ternyata Dika baru saja datang.
"Kamu sudah bangun?" ucap Dika. Anisa melihat jam sudah jam sembilan.
__ADS_1
"Kakak dari mana? Kenapa tidak membangun kan aku?" tanya Anisa.
"Saya bantu Mamang nangkap ikan di pantai. Saya tidak enak membangun kan kamu, karena kamu pasti sangat lelah." ucap Dika.
Anisa melihat baju Dika basah. "Sebaiknya kakak menukar baju kakak dulu." ucap Anisa. Dika melihat baju putih nya tembus dan celana olahraga nya basah sehingga mencetak bentuk tubuh nya.
"Kenapa? Kamu tidak kuat melihat nya?" tanya Dika.
"Huff jangan mesum yah kak, buruan sana ganti baju." ucap Anisa.
Dika mengangguk. Tidak beberapa lama dia keluar dari kamar. "Sayang kamu tidak mandi?" tanya Dika karena melihat rambut Anisa dan penampilan Anisa sangat berantakan.
"Aku tidak memiliki baju ganti lagi." ucap Anisa. Dika terdiam sejenak.
"Bagaimana kalau kamu tunggu saya sebentar. Saya akan membeli kan kamu baju." ucap Dika. Anisa mengangguk.
Dika langsung pergi. Tidak beberapa lama Dika kembali membawa beberapa baju untuk Anisa.
Melihat bentuk-bentuk baju nya membuat Anisa menatap tajam ke arah Dika.
"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Dika.
"Kakak tidak melihat baju ini semua sangat terbuka? Bagaimana bisa aku memakai baju seperti ini di sini?" tanya Anisa.
"Saya mengatakan.." Dika seperti berfikir sambil menatap Anisa, Anisa jadi curiga.
"Buruan ngomong." ucap Anisa.
"Saya bilang kalau saya ingin membeli baju untuk istri saya yang memiliki badan bagus berat 47 tidak terlalu tinggi dia sangat imut dan juga memiliki kulit putih." ucap Dika.
Anisa langsung memukuli Dika. "Aw aw apa yang kamu lakukan?" tanya Dika.
"Kenapa kakak mengatakan seperti itu? Bagaimana kala mereka salah paham?" tanya Anisa.
"Kenapa salah paham, Lagian sebentar lagi kamu akan menjadi istri saya." ucap Dika sambil mencium pipi Anisa.
"Jangan coba-coba merayu ku, aku masih kesak sama kakak." ucap Anisa.
"Humm ya udah buruan mandi gih. Saya akan memasak untuk kamu." ucap Dika.
"Tapi aku sudah makan." ucap Anisa.
__ADS_1
"Makan? Kamu makan apa?" tanya Dika.
"Tadi waktu kakak pergi, Mamang pulang nganterin makanan untuk ku." ucap Anisa. Dika menghela nafas panjang.
"Humm Mamang lagi." ucap Dika, Anisa tertawa.
"Ya udah deh kamu buruan mandi, saya akan tetap memasak, dan kamu harus memakan nya. Setelah itu saya akan membawa kamu ke klinik terdekat memeriksa kesehatan kamu." ucap Dika.
"Baiklah Baby..." ucap Anisa. Dika tersenyum Anisa sengaja dan langsung pergi.
"Anisa.. Anisa.." ucap Dika. Dia senyum-senyum.
"Dua hari yang lalu aku bahkan tidak bisa tersenyum, sekarang aku merasa senang, bahagia tenang ketika bersama Anisa." ucap Dika.
Di Tempat lain Marsel bertemu dengan Candra.
"Sekarang kamu jawab jujur kemana adik saya? Kamu pasti tau kan? setelah kembali dari sini dia menghilang entah kemana." ucap Marsel.
Anisa sudah memiliki berpesan kepada Candra agar tidak memberi tau kepada kakak nya kalau Anisa mencari Dika ke alamat itu.
"Kamu pasti tau, jawab dengan jujur!" ucap Marsel.
"Sudah tiga hari Anisa tidak kembali dan tidak ada kabar. Saya takut terjadi sesuatu kepada dia, beritahu saya kemana dia." ucap Marsel.
Karena Candra ikut khawatir akhirnya Tri membujuk Candra memberi tau nya.
"Sebaik nya kasih tau saja Dra, siapa tau Anisa dalam bahaya." ucap Tri. Akhirnya Candra ngasih tau.. Marsel marah besar kepada Candra karena penyebab adik nya pergi yah karena Candra.
Namun Tri berusaha menenangkan. Marsel pun pergi dari sana.
Sementara di Sekolah Putri dan Arya baru saja ke kantin.
"Sepi banget yah kalau tidak ada Anisa, sekarang dia di mana yah?" ucap Putri.
"Kalau seandainya aku yang tidak ada, kamu mencari aku gak?" tanya Arya, putri menghela nafas panjang.
"Huff kamu membahas apaan sih? yang enggak-enggak saja deh." ucap Putri.
"Aku seriusan, karena Minggu depan aku akan ikut menemani papah ku ke rumah orang tua nya, mungkin satu Minggu di sana." ucap arya.
"Ya enggak lah, ngapain aku nyariin kamu, sudah jelas aku tau kamu ikut dengan Papah kamu, kalau Anisa tidak ada Yang tau dia kemana." ucap Putri.
__ADS_1
"Oohh begitu." Arya seketika langsung terdiam.
Putri tidak sadar kalau Arya tiba-tiba diam. Tidak beberapa lama akhirnya mereka masuk lagi ke kelas. Arya jadi diam saja.