Kisah Anisa Di Sekolah

Kisah Anisa Di Sekolah
Episode 173


__ADS_3

Dika menghela nafas panjang.


"Baiklah." ucap Dika.


Setelah beberapa hari akhirnya Anisa selesai makan.


"Hari ini Kakak tidak ada kegiatan apapun kan?" tanya Anisa.


Dika menggeleng kan kepala nya. "Tidak ada, kenapa?" tanya Dika.


"Aku ingin bertemu dengan Boni, aku juga yakin dia sudah merindukan kita." ucap Anisa.


"Baiklah kalau begitu." ucap Dika.


Sebenernya Dika juga merindukan anak nya itu. Namun karena marahan dengan Anisa dia berfikir kalau Anisa tidak mau ikut dengan nya ke sana.


Mereka berdua siap-siap mau berangkat. Anisa terlebih dahulu menyiapkan pakaian untuk Dika.


Setelah itu mengurus badan nya sendiri. Dika menunggu cukup lama di sana.


Anisa dan Dika berangkat ke panti asuhan.


"Aku tidak sabar bertemu dengan Boni kak." ucap Anisa. Dika tersenyum.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai juga di panti asuhan.


"Pak Dika, mbak Anisa." ucap ketua yayasan.


Dika dan Anisa tersenyum.


"Sudah lama Mbak dan Pak Dika tidak berkunjung ke sini. Boni setiap hari menanyakan bapak." ucap ketua yayasan.


"Saya baru sempat sekarang Bu, kalau begitu kami bole bertemu dengan dia?" tanya Dika.


"Ini berita yang sangat buruk untuk di dengar oleh bapak. Kalau Boni sudah di bawa oleh Ibu kandung nya." ucap Ketua yayasan.


"Maksud nya?" tanya Anisa kaget.


"Ibu kandung nya datang mengasuh Boni dalam satu Minggu yang lalu." ucap ketua yayasan.


"Kenapa di berikan Bu? Bagaimana kalau mereka berniat buruk kepada Boni? bagaimana kalau mereka tidak benar ibu kandung Boni?" tanya Dika.


"Ibu kandung nya?" tanya Anisa kaget.


"Iyah yang di katakan oleh bapak benar, tapi Panti asuhan kami bukan lah sembarangan, kamu memastikan terlebih dahulu kemana anak asuh kami akan pergi dan di bawa oleh siapa dan ibu kandung nya Boni bisa membuktikan kalau dia adalah ibu nya." ucap ketua yayasan.


"Apa buktinya? Kenapa dia tiba-tiba datang mengambil Boni?" tanya Dika.

__ADS_1


Karena Ketua yayasan menghargai Dika mereka menjelaskan semua nya dari awal.


Dika terlihat sangat pusing Anisa sangat sedih. Mereka berdua bingung.


"Kenapa bapak dan ibu memberikan nya Tampa berbicara kepada saya terlebih dahulu?" tanya Dika.


"Kami sudah menghubungi bapak namun nomor Bapak tidak aktif." ucap Ketua yayasan. Dika terdiam.


"Bapak bisa melihat anak yang lain. Mungkin bukan rejeki Boni bersama bapak." ucap mereka.


"Tidak semudah itu! Saya sudah sangat menyanyangi Boni! Saya sudah mengatakan sebelum nya agar membiarkan Boni saya asuh namun kalian tidak mau!" ucap Dika.


"Pak tenang dulu, Boni bersama ibu kandung nya, Boni Akan bahagia bersama ibu nya." ucap mereka penjaga yayasan.


"Boni adalah anak kandung saya, saya adalah ayahnya. Bagaimana bisa dia hidup bahagia dengan ibu kandung nya yang sudah membuang nya di sini sampai saya tidak bisa mengambil nya lagi." ucap Dika.


Semua nya seketika langsung terdiam, mereka tidak menyangka itu.


"Tidak mungkin pak, jangan membuat kami semakin bingung." ucap penjaga yayasan.


"Seandainya kalian tidak membuat persyaratan konyol itu sekarang anak saya sudah bersama saya. Tidak dengan perempuan yang jahat itu!" ucap Dika.


"Kami tidak tau masalah bapak sebelum nya seperti apa, kami juga tidak tau kalau Boni adalah anak bapak." ucap mereka.


Dika terlihat sangat kecewa, dia tidak boleh marah di sana akhirnya dia memilih untuk pergi meninggalkan Panti asuhan.


"Aaarrggg!!!!" Dika marah.


"Sabar kak, sabar! Sabar." ucap Anisa.


"Bagaimana saya bisa sabar? anak saya di tangan perempuan itu!" ucap Dika.


Anisa diam. "Pasti ada jalan untuk mendapatkan Boni lagi Kak." ucap Anisa berusaha menenangkan suami nya.


Namun Dika masih sedih dan emosi akhirnya Anisa memilih untuk diam saja.


Anisa membawa Dika Pulang terlebih dahulu.


"Sudah lah kak, jangan terlalu di pikirkan. Kalau kakak ingin bertemu dengan Boni kita bisa ke sana untuk mencari nya." ucap Anisa sambil meletakkan satu gelas teh di depan Dika.


"Kita harus mencari nya kemana?" ucap Dika. Anisa memberikan alamat yang dia dapat kan dari yayasan tadi.


"Nih, ini alamat mantan istri kakak. Ketua yayasan bilang kalau mereka tinggal di sana." ucap Anisa.


Dika melihat alamat itu. "Apa kamu mau menemani saya?" tanya Dika.


Anisa mengangguk sambil tersenyum.."Tentu!" ucap Anisa. Dika tersenyum Anisa langsung memberikan pelukan yang erat.

__ADS_1


"Aku yakin kita pasti bisa bertemu dengan Boni." ucap Anisa. Dika menganguk.


Mereka langsung berangkat di hari itu juga ke alamat yang ada di kertas itu.


Selama perjalanan Dika hanya diam saja, dia fokus ke pada jalanan agar tidak salah dan cepat sampai ke tujuan.


Sementara di apartemen Tri...


Tri melihat Marsel duduk di ruang tamu sambil menonton TV.


"Kapan dia akan pergi? Sampai kapan dia akan di sini? Satu hari saja sudah membuat ku kesal dan tidak nyaman bagaimana dengan satu bula?" ucap Anisa.


"Aku sangat menyesal ikut ke sini." ucap Tri. Marsel menoleh ke arah Tri yang duduk di kursi dapur.


"Apa yang kamu lakukan di sana? Duduk lah di sini bersama saya." ucap Marsel. Tri menggeleng kan kepala nya.


"Aku tidak mau " ucap Tri.


"Apa Kamu sudah melupakan janji yang kamu buat sendiri?" tanya Marsel.


Tri menghela nafas panjang. Akhirnya dia mendekati sofa dan duduk di sofa yang lain.


"Apa kamu tidak mendengar kalau saya meminta kamu duduk di samping saya, bukan di sana." ucap Marsel.


"Aku sudah nyaman di sini." ucap Tri.. Marsel menepuk sofa di samping nya.


Tri menghela nafas panjang Akhirnya dia duduk di samping Marsel.


Marsel merangkul pundak Tri membuat nya terkejut.


"Kamu harus terbiasa seperti ini karena saya kalau pacaran selalu romantis." ucap Marsel.


Tri menatap wajah Marsel.


"Setau ku bapak tidak pernah pacaran, bapak pacaran sebelum dengan ku hanya satu kali itu pun pacar bayaran." ucap Tri.


"Dari mana kamu tau? Kamu belum tau kan kalau saya memiliki banyak perempuan di luar Sana." ucap Marsel sambil menunjuk kan foto nya bersama perempuan-perempuan cantik.


"Mereka sangat cantik." ucap Marsel.


"Kalau begitu kenapa bapak tidak membayar mereka saja menjadi pacar bapak?" ucap Tri.


"Saya menyukai kamu, saya jatuh cinta kepada kamu, saya tidak menganggap kamu pacar bayaran saya, tapi pacar sungguhan saya." ucap Marsel.


Tri menggeleng kan kepala nya. "Hanya satu bulan. Setelah itu tidak ada lagi. Bapak juga harus segera keluar dari sini." ucap Tri.


"Kenapa kamu mengusir saya? Ini apartemen saya." ucap Marsel.

__ADS_1


"Kalau begitu aku yang akan pindah dari sini, mungkin aku akan kembali ke kota ku lagi." ucap Tri.


__ADS_2