
"Aku sudah kehilangan kesabaran karena dia. Sekarang aku sudah menyerah mengahadapi Anisa." ucap Bu Lala.
"Kalau bukan kamu Siapa yang akan mengurus Anisa? dia masih anak SMA. Kalau aku membawa nya bersama ku tidak mungkin. Aku sudah memiliki keluarga baru, aku juga memiliki anak." ucap Fendi.
Bu Lala menggeleng kan kepala nya.
"Awal nya aku sudah bilang kalau aku tidak ingin memiliki anak dengan kamu." ucap Bu Lala langsung pergi begitu saja
Fendi melihat mantan istri pergi begitu saja.
"Bagaimana keadaan Anisa sekarang?" ucap Fendi, dia mencari handphone nya berusaha menelpon Anisa namun tidak bisa di telpon.
"Ada apa sih Pah?" tanya istri nya.
"Anisa sudah tau kalau aku dengan mamah nya sudah bercerai. Sekarang dia pasti sangat sedih." ucap Fendi.
"Ngapain di perduli in sih Pah? Dia juga sudah besar, dia anak yang tidak mau menuruti perintah orang tua.. Berhenti menghuni dia, aku tidak suka." ucap istri nya.
Fendi tidak bisa membantah istri nya.
Sudah waktunya pulang sekolah.
"Loh kenapa supir di suruh pergi?" tanya Anisa kepada Dika yang baru aja selesai berbicara dengan supir sebelum pergi.
"Kamu pulang dengan saya." ucap Dika.
Anisa menghela nafas panjang.
"Pak Dika...." Panggil Rida.
"Iyah ada apa?" tanya Dika.
"Bapak mau pulang? Aku mau ngajakin bapak ikut sama anak-anak yang lain untuk nongkrong." ucap Rida.
Dika tersenyum. "Sebelum nya terimakasih yah sudah menawarkan nya kepada saya, Tapi saya masih ada pekerjaan lain." ucap Dika.
"Sekali ini saja pak." ucap Rida.
"Orang gak mau, kamu kok maksa sih?" ucap Anisa dengan Kesal.
"Kok kamu jadi ikut campur sih? aku kan meminta kepada pak Dika bukan kepada kamu." ucap Rida.
"Karena Pak Dika mau nganterin aku pulang, dia sudah membuat supir ku pergi, aku pulang dengan apa?" tanya Anisa.
"Kamu bisa naik ojek, kenapa harus dengan pak Dika, dasar wanita gatal!" ucap Rida. Anisa kesal namun Langsung di tahan oleh Dika.
"Saya dan Anisa pamit dulu yah." ucap Angga. Mereka meninggalkan Rida di sana.
"Aaaaa!!! ngeselin banget sih! Anisa lagi, Anisa lagi!" ucap Rida dengan sangat jengkel.
__ADS_1
"Kamu kenapa cemberut seperti itu?" tanya Dika setelah sudah di motor.
"Aku kesal melihat Rida yang tidak bisa membiarkan aku bahagia." ucap Anisa.
"Bahagia? Apa kamu bahagia bersama saya?" tanya Dika.
Anisa Menatap wajah Dika.
"Bapak jangan berpikir yang aneh-aneh deh, justru aku sangat menderita ketika bersama bapak. Kepala ku terasa sangat pusing kalau mendengar Bapak berbicara." ucap Anisa.
"Dasar Bawel." ucap Dika langsung memasang kan hlem ke kepala Anisa.
"Kamu terlalu cerewet sekali." ucap Dika.
"Perempuan wajar kalau cerewet, kalau laki-laki bisa nya mengatur doang sangat menjengkelkan sekali." ucap Anisa.
"Walaupun saya seperti ini, tapi saya bisa menjadi tempat bersandar seseorang ketika sedih." ucap Angga. Anisa langsung tersindir.
"Buruan antar aku pulang." ucap Anisa. Dika menganguk.
Di atas motor Anisa senyum-senyum sendiri entah apa yang dia pikirkan.
"Senyum sih boleh, Tapi kamu harus pegangan biar tidak jatuh, karena kalau kamu jatuh tangisan kamu akan membasahi baju saya." ucap Dika.
"Bapak meledek saya?" tanya Anisa..Dika tersenyumlah.
"Saya tidak suka melihat perempuan menangis, perempuan itu tidak boleh di sakiti." ucap Dika.
"Kenapa kamu bilang pacar-pacar?" tanya Dika heran.
"Bukan kah kata-kata ku benar? Sudah berapa kali kita bertemu di luar bapak selalu bersama wanita yang berbeda." ucap Anisa.
"Mereka hanya teman dekat, bukan pacar." ucap Dika.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai. "Loh Bapak kok ikut turun?" tanya Anisa.
"Kamu lupa kalau saya masih guru les kamu, saya akan mengganti jam les kemarin hari ini." ucap Dika.
Anisa menghela nafas panjang. Akhirnya mereka masuk ke dalam.
Dika sangat terkejut melihat rumah Anisa yang sangat berantakan sekali.
"Maaf.. Aku akan merapikan nya." ucap Anisa. "Ini ulah kamu?" tanya Dika. Anisa Terdiam.
"Tadi nya Anisa sudah mulai menunjukkan wajah ceria nya sekarang sudah berubah jadi sangat Sedih.
Dika membantu merapikan kekacauan yang Lakukan oleh Anisa.
Setelah semua nya sudah Rapi Anisa sudah menukar pakaian nya dia turun membawa buku. Dika sudah menunggu dari tadi di meja belajar yang ada di ruang tamu.
__ADS_1
"Apakah bapak tidak merasa kalau rumah ini sangat sepi? Rumah ini terasa tidak ada kehidupan sama sekali." ucap Anisa.
"Rumah ini sangat cantik dan juga nyaman." ucap Dika. Anisa memasang wajah sedih.
"Seandainya saja ada Candra di sini, di pasti akan bisa menghibur ku, dia akan melakukan apapun untuk menghibur ku." ucap Anisa.
"Apa kamu tidak melihat perjuangan ku untuk membuat kamu tidak kesepian Anisa? aku harus melakukan apa lagi agar kamu tidak kesepian." batin Dika yang sangat cemburu ketika Anisa membahas Candra.
"Aku tidak mood untuk belajar. Aku tidak bisa fokus." ucap Anisa.
"Bagaimana kalau kali ini kita belajar di luar?" tanya Dika.
Anisa menggeleng kan kepala nya.
"Aku sudah sangat lelah, aku tidak ingin kemana-mana lagi sekarang." ucap Anisa.. Akhirnya mereka lanjut belajar..
Anisa memerhatikan Dika belajar, namun Dika merasa tidak bersemangat melihat wajah Anisa yang sedih.
tiba-tiba bel berbunyi.
"Siapa yang datang?" tanya Anisa..
"Aku buka sebentar yah." ucap Anisa. Dika menganguk.
"Wahh ini bapak yang pesan yah?" tanya Anisa yang kembali membawa banyak makanan di tangan nya.
"Untuk kamu." ucap Dika.
"Bapak seriusan? Kok bapak tau sih aku suka jajanan ini?" tanya Anisa.
"Kebetulan saja. Kamu harus lebih semangat lagi belajar nya." ucap Dika. Anisa menganguk.
Sambil makan dia juga belajar, mendengar kan penjelasan Dika.
Sampai jam les selesai, Anisa mulai mengantuk dan akhirnya dia tertidur.
Dika tersenyum melihat Masih ada popcorn di mulut Anisa.
"Saya akan melakukan apapun yang membuat kamu senang, yang membuat kamu tersenyum." ucap Dika sambil mengelus kepala Anisa.
Dia merapikan semua buku.
Tidak terasa sudah sangat larut malam, Anisa terbangun.
"Loh kok aku ketiduran sih?" tanya Anisa melihat jam, ternyata sudah jam sebelas malam.
Perasaan nya jadi sangat sunyi karena bangun di tengah malam, dia berfikir kalau dia sendiri dan ternyata dia tidur berbantal kan paha Dika dan Dika juga tidur.
Anisa kaget namun melihat wajah Dika tidur membuat Anisa terkesima.
__ADS_1
"Saat Pak Dika tidur kenapa ketampanan nya semakin bertambah Sih?" ucap Anisa dalam hati.. Tiba-tiba handphone yang ada di atas Meja berdering.
"Itu handphone siapa? Perasaan aku sudah membanting handphone ku." batin Anisa. Dia melihat dan ternyata handphone Dika telpon dari orang tua nya.