
Namun dia sangat terkejut melihat Dika di tempat tidur.
"Kak Dika." ucap Anisa. Dika tersenyum berbaring di tempat tidur.
"Kenapa kakak bisa di sini? Kenapa aku tidak melihat mobil kakak di depan?" tanya Anisa.
"Kejutan.." ucap Dika. Anisa tersenyum dia langsung memeluk Dika.
"Aku sangat merindukan kakak, Kakak kemana saja? Kenapa kakak tidak memberikan aku kabar?" tanya Anisa.
"Maafin saya, saya sangat sibuk." ucap Dika.
"Kakak baik-baik aja kan? aku tidak bisa berhenti memikirkan kakak." ucap Anisa.
"Semua nya baik-baik saja, saya juga sangat merindukan kamu sayang." ucap Dika mencium kening Anisa.
Anisa tersenyum. "Kamu dari mana jam segini baru pulang?" tanya Dika.
"Aku sangat bosan di rumah saja, terasa sangat sepi sekali itu sebabnya aku nongkrong bersama Arya dan Putri di luar." ucap Anisa.
"Kamu sangat nakal kalau tidak ada saya di sini, ini sudah jam sepuluh lewat kamu baru pulang." ucap Dika.
Anisa tersenyum. "Aku sudah mengatakan kalau aku sangat bosan di rumah saja." ucap Anisa.
"Humm saya tau, Tapi saya sangat khawatir kalau kamu keluar malam seperti ini, bagaimana kalau terjadi bhal yang tidak di inginkan?" tanya Dika.
"Aku bisa menjaga diri baik-baik kok." ucap Anisa.
Dika menatap wajah Anisa.
"Saya sangat mencintai kamu, jangan membuat saya khawatir terus menerus sayang." ucap Dika.
Anisa mengangguk. "Aku mau tukar baju dulu." ucap Anisa. Dika mengangguk.
Setelah bertukar pakaian Anisa menyusul Dika langsung ke kamar melihat Dika.
"Apa kakak sudah makan?" tanya Anisa.
Dika menggeleng kan kepala nya.
"Saya masih sangat lapar. Sore tadi saya sudah makan namun sekarang jadi sangat lapar." ucap Dika.
"Bagaimana kalau kita makan saja terlebih dahulu?" tanya Anisa.
"Saya sudah sangat lelah bekerja seharian. Saya bisa makan kalau sudah sangat lapar nanti." ucap Dika.
"Kalau sudah lapar tidak boleh di tahan kak." ucap Anisa. Dika menghela nafas panjang.
"Sudah jangan banyak membantah, ayo kita keluar. Aku akan memesan makanan untuk kakak." ucap Dika.
"Kamu tidak makan?" tanya Dika.
"Melihat kakak makan aku pasti makan, ayo turun." ucap Anisa menarik tangan Dika.
"Ssstthh jangan Menarik terlalu kuat." ucap Dika.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Anisa.
"Sakit karena pegal seharian Harus bekerja." ucap Dika.
"Aku minta maaf, aku tidak tau." ucap Anisa.
"Ya udah kalau begitu ayo kita turun.
Mereka turun ke bawah dan langsung makan. Anisa jadi ikut makan karena melihat Dika makan.
Setelah selesai makan mereka lanjut tidur.
Keesokan harinya..
"Kakak mau langsung pergi?" tanya Anisa melihat Dika bangun lebih awal.
"Iyah Anisa. Maaf yah belum bisa nganterin kamu ke sekolah." ucap Dika.
"Tidak apa-apa kok kak." ucap Anisa.
Dika tersenyum dia mendekati Anisa dan mencium kening bibir dan pipi Anisa.
"Kakak hari ini pulang?" tanya Anisa.
"Saya belum tau, semoga saja bisa pula." ucap Dika. Anisa tersenyum dia beranjak dari tempat tidur mendekati Dika dan langsung memeluk nya.
"Ssstt.." dia kesakitan karena Anisa memeluk nya cukup kuat.
Anisa kebingungan.
"Masih sakit yah?" tanya Anisa. Dika mengangguk.
Dika tersenyum. "Saya harus menyelesaikan pekerjaan saya segera agar cepat bisa istirahat." ucap Dika.
Anisa tersenyum.
"Aku yakin kakak pasti bisa, semangat Terus yah kak." ucap Anisa.
Dika mengangguk.
"Saya berangkat dulu yah." ucap Dika langsung pergi. Anisa mengikuti nya ke bawah ternyata ada yang menjemput Dika.
"Siapa yang menjemput Kak Dika? Tidak biasanya kak Dika di jemput oleh seseorang seperti itu. Dan kak Dika terlihat menutupi sesuatu." ucap Anisa.
"Tidak-tidak, kamu tidak boleh berfikir yang aneh-aneh Anisa."
Dia segera mandi agar lebih cepat sampai di sekolah.
Sementara di tempat lain Arya sudah selesai dari tadi dia sarapan bersama keluarga nya.
"Ya ampun nak, parfum kamu sangat wangi sekali, apa kamu mandi parfum? tidak biasanya kamu seperti ini." ucap mamah nya.
"Biasa lah mah, pasti mau menjemput perempuan." ucap Papah nya.
"Ah papah bisa saja." ucap Arya.
__ADS_1
"Papah juga pernah muda kok." ucap papah nya.
"Apa itu Putri? Mamah yakin itu pasti Putri kan? Apa kamu sudah berbaikan dengan Putri?" tanya Mamah nya.
Arya mengangguk.
"Sudah mah, aku juga sudah pacaran dengan dia." ucap Arya.
"Humm pantesan saja kamu berdandan rapi, rambut di sisir rapi, wangi dan juga terlihat sangat beda. Wajah kamu sangat berseri-seri sekali." ucap mamah nya.
"Aku sangat senang sekali Pah, aku sangat suka kepada Putri karena dia berasal dari keluarga yang baik, dia juga baik walaupun kadang-kadang ngeselin." ucap Arya.
Papah dan Mamah nya tersenyum.
"Kami akan mendukung pilihan kamu nak, kamu yang tau seperti apa yang baik untuk kamu. Pesan mamah sama papah jangan merusak anak orang lain, jangan menyakiti nya yah." ucap mamah nya.
. Arya mengangguk.
"Pasti nah, Aku akan mengingat nasehat mamah." ucap Arya.
"Ya udah kalau begitu cepat lah sarapan, jangan sampai lupa menjemput pacar kamu calon mantu Mamah." ucap mamah nya. Arya tersenyum sambil mengangguk.
Arya selesai makan dia langsung berangkat. Tidak beberapa lama akhirnya sampai di depan rumah Putri.
"Selamat pagi Pak, Bu." sapa Arya.
"Nak Arya sudah datang? Putri baru saja selesai mandi, kamu tunggu sebentar yah nak." ucap orang tua putri.
Arya mengangguk. Tidak beberapa lama Putri keluar.
"Ibu, Ayah aku beranjak naik ojek saja yah." ucap Putri kepada ibunya sambil berjalan keluar.
Namun dia kaget melihat pacar nya ada di depan menunggu.
"Kok naik Ojek sih? Arya sudah lama menunggu kamu dari tadi agar berangkat bersama." ucap ibu nya.
"Aku tidak tau tadi Bu, ya udah kalau begitu aku berangkat dengan Arya saja." ucap Putri.
Berpamitan kepada Orang tua nya setelah itu mereka berangkat ke sekolah.
"Aku tidak tau kalau kamu datang menjemput aku." ucap Putri. "Humm maafin aku, sebelum nya aku harus memberikan kamu kabar Dulu." ucap Arya.
"Tidak apa-apa kok." ucap Putri. Arya tersenyum.
"Humm aku mohon Anisa jangan sampai tau yah kita sudah berpacaran." ucap Putri.
"Tapi dia sudah tau." ucap Arya.
"Apa kamu langsung memberi tau nya?" tanya Putri.
Arya mengangguk.
"Huff kamu seharusnya jangan memberi tau dia, aku takut di ejek." ucap Putri.
Arya tersenyum. "Tidak mungkin Putri. Anisa tidak mungkin seperti itu." ucap Arya.
__ADS_1
"Ya sudah lah kalau begitu, mau bagaimana pun dia pasti akan tau." ucap Putri.
Arya tersenyum. "Kamu pasti tidak terbiasa dengan ini, aku akan membuat kamu terbiasa." ucap Arya.