
Anisa tersenyum. Dika mencicipi nya. Dia tiba-tiba berbaring di paha Anisa.
"Apa yang kakak lakukan? aku menggunakan celana pendek, aku tidak nyaman." ucap Anisa.
"Tapi saya sangat nyaman, saya belum tidur dari kemarin, saya ingin di manja oleh kamu." ucap Dika.
Anisa menggeleng kan kepala nya sambil tersenyum. "Ya udah kalau begitu istirahat lah di kamar." ucap Anisa, namun Dika menggeleng kan kepala nya.
"Saya mau tidur di sini saja." ucap Dika, tapi di kamar Akan jauh lebih nyaman." ucap Anisa. Dika tetap menggeleng kan kepala nya.
"Kalau kakak tidak mau, aku akan ke kamar sendiri." ucap Anisa. "Tapi kalau kamu temanin saya mau." ucap Dika langsung duduk.
Anisa tertawa kecil. "Sungguh pria yang manja." ucap Anisa mencubit hidung Dika. Dia memegang tangan Dika dan naik ke lantai atas.
Anisa berbaring Dika langsung ikut dan membantal kan lengan Anisa memeluk nya.
Baru beberapa menit dia sudah tertidur begitu lelap sekali. Anisa tersenyum melihat itu dia mengelus kepala Dika.
"Benar-benar sangat manja." ucap Anisa. Karena flim yang dia Tonton sudah habis, akhirnya dia memutuskan untuk mematikan TV dan juga ikut tidur siang bersama kekasih nya itu.
Namun handphone nya tiba-tiba berbunyi dia melihat telpon dari Candra. Dia menolak dan mengirim kan pesan.
Candra mengajak nya ketemu Sore nanti. Anisa menolak karena Dika pasti menginap malam ini di rumah nya, sudah banyak dia menghabiskan waktu dengan Candra itu sebabnya dia memilih dengan Dika hari ini.
"Kamu membalas pesan siapa? Kenapa begitu berisik?" tanya Dika karena sangat menggangu pendengaran nya.
"Enggak kok, nih aku matiin." ucap Anisa, Dika mengambil ponsel Anisa dan langsung mematikan nya.
"Sudah jangan main handphone Mulu, tidur lah." ucap Dika, Anisa mengangguk.
"Huff untung saja kak dika tidak membaca pesan ku." ucap Anisa.
Dia membalas pelukan Dika dan dia pun ikut tertidur.
Sementara di tempat lain Candra sedang menunggu balasan dari Anisa.
"Anisa kemana sih? Kenapa tiba-tiba dia tidak aktif?" ucap Candra.
Teman nya menoleh ke arah Candra. "Kenapa aku berfikir kalau Anisa sudah memiliki pengganti kamu yah." ucap teman nya yang bisa di katakan ceplas-ceplos.
__ADS_1
Teman yang di sebelah nya menepuk kepala teman nya yang berbicara.
"Jangan membuat cerita yang tidak pasti dan membuat orang lain memiliki masalah!" ucap temannya.
"Bukan kah yang aku katakan benar? apa kalian semua tidak merasa seperti itu? beberapa orang bilang kalau Anisa terciduk pernah keluar bersama pria yang tidak tau itu siapa." ucap temannya lagi.
Candra terdiam. "Orang seperti Anisa sangat butuh kasih sayang, beberapa bulan kamu tidak bersama nya, dia pasti akan mencari orang yang baru. Apa lagi orang itu sangat sayang kepada dia." ucap Teman Candra.
"Tidak mungkin, kamu sengaja membuat ku pusing." ucap Candra.
"Semoga saja yang aku katakan benar, hanya saja kamu harus cari tau. Aku melihat Anisa cukup curiga." ucap teman nya.
Candra menghela nafas panjang.
"Aku tetap lah percaya kepada Anisa." ucap Candra. "Ya sudah kalau begitu, semoga saja yang kami tebak itu tidak benar." ucap Teman nya.
Candra mengganguk.
"Kalian semua mau kemana?" tanya Candra.
"Kami mau pulang lah, pekerjaan kami masih sangat banyak." ucap Teman nya.
"Oohh ya udah kalau begitu." ucap Candra.
"Tidak apa-apa, kalian seperti ini bukan kah sekali." ucap Candra. Teman-teman nya tertawa.
Setelah mereka pergi Candra duduk di sofa sendiri.
"Awalnya aku berfikir seperti itu, namun karena melihat Anisa biasa saja dan tetap seperti dulu aku tidak lah Curiga." batin Candra.
"Dan lagi, Anisa adalah orang yang tulus, dia orang yang setia juga." ucap Candra. Tiba-tiba handphone nya berdering telepon dari orang tua nya.
"Halo mah."
"Halo! Kamu ada di mana?" tanya mamah nya. "Aku masih di Indonesia mah." ucap Candra.
"Sebaiknya kamu segera kembali ke sini!" ucap orang tua nya. "Belum bisa pah, mah, aku masih lama di sini." ucap Candra.
"Pokoknya kamu harus pulang." ucap Orang tua nya.
__ADS_1
"Maafin aku pah, aku masih lama di sini." ucap Candra langsung mematikan panggilan telepon. Orang tua nya menelpon lagi.
Candra menjawab lagi.
"Kami sudah menyiapkan pernikahan kamu, segera lah kembali ke sini, sebelum kami memaksa kamu!" ucap orang tua nya.
"Aku tidak mencintai perempuan pilihan mamah dengan papah, aku mohon jangan memaksa ku seperti itu." ucap Candra.
"Kamu adalah anak kami, kamu harus mendengarkan kan perintah kami." ucap orang tua nya lagi.
"Aku hanya mencintai Anisa Mah, pah, aku tidak akan pernah meninggalkan dia, aku akan terus bersama Anisa." ucap Candra.
"Jangan melawan kata-kata orang tua sebelum kamu kualat!" ucap orang tua nya semakin marah.
Candra hanya diam saja. "Tidak ada gunanya kamu bersama Anisa, mamah dan papah tidak akan pernah merestui hubungan kamu, kamu juga Akan tau akibat nya kalau menentang perkataan Mamah dan papah." ucap orang tua nya.
Candra diam, panggilan telepon langsung mati. "Argh!!!!" Tiba-tiba Candra berteriak sangat kesal.
"Anisa membuat aku Over tingkhing, sekarang orang tua ku yang membuat aku sangat pusing." ucap Candra.
Dia membaringkan tubuhnya agar lebih tenang.
"Tidak bisa, aku akan mencari cara agar orang tua ku merestui hubungan kami, aku tidak ingin membuat Anisa kecewa lagi." ucap Candra.
Sementara di tempat lain Marsel baru saja sampai di rumah papah nya.
Setelah beberapa Minggu tidak kembali ke rumah orang tua nya dia datang lagi ke sana hanya ingin melihat keadaan papah nya yang sudah tua.
"Permisi..." Ucap Marsel. Tiba-tiba pintu terbuka yang membuka adalah istri dari papah nya.
"Marsel! Kamu ngapain ke sini?". tanya istri papah nya dengan tatapan tidak suka.
"Saya mau bertemu dengan papah saya." ucap Marsel. "Dia tidak ada di rumah. Sebaik nya kamu pergi saja, mengganggunya orang lagi istirahat saja." ucap ibu tiri nya.
"Tapi mobil papah ada di rumah, pasti nya dia ada di rumah." ucap Marsel.
"Jangan keras kepala yah kamu di bilangin! Kamu dan juga adik kamu itu sudah tidak lagi di terima oleh papah kamu!" ucap ibu tiri nya.
"Apa yang ibu katakan? Saya di sini karena ingin bertemu dengan papah saya." ucap Marsel.
__ADS_1
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut." tanya papah Marsel baru keluar. Marsel melihat papah nya.
"Kenapa ibu mengatakan tidak ada? Sementara papah ada di rumah?" ucap Marsel.