
"Perlahan aku Akan tau kak, aku hanya butuh dukungan kakak, arahan kakak untuk keputusan ku." ucap Anisa.
"Kak, ijinkan aku menjaga Anisa, saya sangat mencintai dia, saya tidak Akan pernah menyia-nyiakan dia." ucap Dika.
Marsel bingung harus mengatakan apa lagi, dia melihat wajah Anisa dan Dika.
"Baiklah. Kakak akan memberikannya ijin, tapi kakak minta, di antara kalian berdua harus saling jujur, karena hubungan yang langgeng harus ada kejujuran." ucap Marsel.
Anisa mengangguk sambil tersenyum, "Iyah kak." ucap Anisa.
"Makasih yah kak." ucap Anisa langsung memeluk Marsel.
Marsel menoleh ke arah Dika.
"Jangan coba-coba untuk menyakiti adik saya! Karena kalau sempat kamu membuat nya sedih kamu akan berhadapan dengan saya!" ucap Marsel.
Dika mendekati Marsel. "Saya berjanji kak, saya sangat mencintai Dika, saya akan menjaga dia dengan segenap jiwa saya." ucap Dika.
Marsel menepuk-nepuk Pundak Dika.
"Bagus lah kalau kamu berperinsif seperti itu." Ucap Marsel.
"Sudah-sudah jangan membahas itu lagi, saya sebelumnya sudah berbuat kasar kepada kamu, maafkan saya." ucap Marsel.
"Iyah kak, saya juga minta maaf sebelumnya tidak langsung jujur kepada kakak." ucap Dika.
"Kakak ke sini sebenarnya mau memberikan ini kepada kamu Anisa." ucap Marsel memberikan paper bag.
"Apa ini kak?" tanya Anisa.
"Kamu buka lah." ucap Marsel.
Anisa bersemangat membuka nya. "Wahh bagus banget." ucap Anisa melihat sepatu sekolah yang baru.
Marsel Tersenyum. "Kamu suka?" tanya Marsel. Anisa mengangguk.
"Aku sangat suka sekali." ucap Anisa.
"Terimakasih yah kak, kebetulan sepatu ku sudah lama. Jadi aku ingin yang baru, biar tambah semangat." ucap Anisa.
"Kamu harus berterimakasih sama papah, ini hadiah dari papah untuk kamu." ucap Marsel. Anisa seketika langsung terdiam.
Anisa meletakkan kembali sepatu itu. "Aku tidak ingin menerima itu." ucap Anisa.
"Loh kenapa? Bukan nya tadi kamu suka?" ucap Dika, Anisa menggeleng kan kepala nya.
"Berapa kali saya harus bilang kepada kamu, agar menghargai pemberian orang lain? Saya beberapa kali juga menasehati kamu." ucap Dika.
"Tapi.."
__ADS_1
"Saya yakin Papah kamu memberikan itu dengan sangat tulus, kamu tidak boleh menolak nya." ucap Dika.
Anisa menoleh ke arah Marsel.
"Papah sangat merindukan kamu, papah ingin bertemu dengan kamu." ucap Marsel.
Anisa menggeleng kan kepala nya. "Aku menerima sepatu ini bukan berarti aku ingin bertemu, aku tidak ingin membahas itu lagi!" ucap Anisa.
"Baiklah kakak paham kok. Kakak tidak bisa lama-lama di sini Kakak pamit pulang yah." ucap Marsel.
"Kakak mau kemana?" tanya Anisa.
"Humm sebenarnya kakak ada janji menemui Papah di luar hari ini, namun kakak Belum dapat pesan dari dia, mungkin istri baru nya melarang." ucap Marsel.
Anisa menghela nafas panjang. "Ya sudah kalau begitu hati-hati kak, katakan pada nya aku berterimakasih sudah membeli sepatu untuk ku. Walaupun ini yang pertama kali." ucap Anisa.
Marsel mengelus rambut Anisa.
"Kakak tau kamu sangat kecewa kepada orang tua kita, tapi kamu tidak boleh berlarut-larut lama marah kepada mereka." ucap Marsel.
"Bagaimana caranya agar aku bisa memaafkan mereka kak? mereka saja tidak perduli lagi kepada ku." ucap Anisa.
"Kata siapa? Mereka sangat perduli kepada kamu, hanya saja mereka memiliki kesibukan, bukti nya sampai sekarang fasilitas kamu lengkap kan?" ucap Marsel.
"Sangat banyak anak yatim-piatu yang terlantar di luar sana. Namun mereka tetap bersyukur. Mereka tetap merindukan orang tua nya." ucap Marsel.
Anisa menghela nafas panjang.
Marsel memegang tangan Anisa.
"Jangan terlalu egois yah dek, kakak sangat mencintai kamu." ucap Marsel. setelah itu Marsel pergi meninggalkan Anisa.
"Jaga Anisa baik-baik, saya percaya kepada kamu, jangan mencoba-coba untuk menghancurkan kepercayaan saya kepada kamu!" ucap Marsel kepada Dika.
Dika mengangguk. "Jangan lupa memakai baju! Kalian tidak boleh satu rumah sering-sering, karena kalian belum menikah," ucap Marsel setelah itu langsung pergi.
Dika mengantarkan ke depan dan setelah itu kembali ke dalam.
"Anisa.." ucap Dika melihat Anisa termenung di ruang tamu.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Dika. Anisa hanya diam.
Dika mendekati nya. "Ada apa?" tanya Dika, Anisa memeluk Dika dan langsung menangis.
"Aku sangat merindukan orang tua ku," ucap Anisa. Dika menepuk-nepuk badan Anisa.
"Yang sabar yah. Kalau kamu merindukan mereka, datang lah dan temui dia." ucap Dika.
Anisa menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak ingin menemui mereka, karena aku yakin pasangan mereka pasti sangat melarang." ucap Anisa.
__ADS_1
Dika menghela nafas panjang. "Sudah jangan menangis, kalau nanti ada waktu untuk bertemu, pasti bertemu." ucap Dika.
Anisa menghapus air mata nya dia menatap Dika.
"Cup!! Cup!!" Sangat gadis yang cengeng." ucap Dika sambil menghapus air mata yang membasahi pipi Anisa.
"Aku tidak cengeng, aku sangat ingin berkumpul dengan keluarga ku," ucap Anisa.
"Siapa pun ingin seperti itu, hanya saja kamu harus menghilangkan ego mu, kamu harus berfikir dewasa." ucap Dika.
Anisa mengangguk.
"Kamu boleh kecewa kepada mereka, kamu boleh marah, tapi jangan lama-lama." ucap Dika.
Anisa mengangguk.
"humm kakak benar. Tidak ada gunanya juga aku membenci mereka lama-lama, justru aku yang semakin menderita." ucap Anisa.
"Nah itu dia, kamu paham sendiri kan." ucap Dika. Anisa tersenyum Dika membawa ke pelukan nya.
"Sudah jangan sedih lagi, saya akan selalu ada untuk mu, apapun keadaan nya." ucap Dika.
Anisa tersenyum. "Kakak janji kan?" tanya Anisa, Dika mengangguk.
Keesokan harinya..
"Kak Dika buruan bangun...." Anisa memaksa membangun kan Dika yang sedang enak tidur.
"Hummm??" Hany itu yang keluar dari mulut Dika, sambil bergeliat.
"Kak Dika ayo buruan bangun, kita Akan telat ke panti asuhan kalau seperti ini." ucap Anisa.
Dika membuka mata nya dia melihat Anisa di samping nya dia tersenyum dan langsung memeluk nya begitu erat.
"Kak Dika! bangun!" ucap Anisa kesal. Namun Dika menahan diri nya begitu kuat. Anisa menghela nafas panjang.
"Baiklah kalau kakak tidak mau bangun, aku juga tidak akan mau berangkat, kakak berangkat sendiri saja." ucap Anisa.
"Baiklah-baiklah saya akan bangun." ucap Dika. Anisa melepaskan tangan Dika dari nya.
"Berikan saya. penyemangat." ucap Dika memegang tangan Anisa. Anisa menggeleng kan kepala nya.
"Saya mohon, saya tidak memiliki tenaga." ucap Dika.
Anisa menghela nafas panjang, dia mencium bibir Dika.
"Cupp!! Sudah! Ayo buruan bangun dan siap-siap." ucap Anisa.
"Tolong buatkan saya kopi terlebih dahulu." ucap Dika. Anisa membangun. Dia turun dari kasur keluar membuat kopi untuk Dika.
__ADS_1