
"Ya sudah kalau begitu bapak istirahat saja." ucap Anisa, Dika memejamkan matanya. Tiba-tiba Anisa memijit-mijit kepala Dika.
Dika semakin rileks. Anisa sebenernya sudah tidak nyaman karena jantung nya berdetak cepat, badan nya panas dingin ketika Dika memegang tangan nya agar tidak terlalu kuat memijat kepala nya.
Tidak terasa sudah malam, Dika terbangun, dia membuka mata nya perlahan dan melihat Anisa yang ternyata masih ada di kamar nya.
Dia melihat Anisa yang sedang belajar di meja yang ada di ruangan Dika.
"Kamu belum pulang? ini sudah jam berapa?" tanya Dika sambil duduk. "Bapak kalau belum sembuh jangan bangun dulu." ucap Anisa.
"Saya hanya pusing, sekarang keadaan saya sudah jauh lebih baik." ucap Dika. "Humm kalau begitu apakah Bapak sudah bisa menerangkan ini kepada ku?" tanya Anisa sambil menunjuk kan buku kepada Dika.
Dika Menatap Anisa dengan tatapan aneh.
"Bapak belum bisa yah? Aku dari tadi sudah mencoba mencari rumus-rumus nya namun aku tidak juga menemukan nya." ucap Anisa.
Dika berdiri dia duduk di depan Anisa. Dika menjelaskan kepada Anisa. Anisa mendengar kan dan menangkap penjelasan Dika dengan sangat baik.
Tidak lama pelajaran mereka selesai. "Ini sudah malam, waktu nya kamu pulang." ucap Dika.
"Bapak tidak ingin aku di sini yah? Bapak seperti nya selalu mengusir ku." ucap Anisa.
"Bukan seperti itu, hanya saja kamu belum mandi, kamu juga harus istirahat." ucap Dika. Anisa mengangkat tas nya.
"Malam ini aku akan tidur di sini. Pulang ke rumah terasa sangat sepi." ucap Anisa. Dika menghela nafas panjang.
"Ada apa dengan kamu hari ini? Hari ini kamu sangat berbeda sekali." ucap Dika.
"Berbeda kenapa? Aku tetap lah aku." ucap Anisa. Dika terdiam sejenak.
"Bapak pasti belum Makan obat, tapi sebelum makan obat Bapak harus makan untuk mengisi perut." ucap Anisa keluar dari kamar.
Dika masih keheranan karena Anisa yang berubah drastis kepada nya. "Biasanya dia berbicara seperti membenci ku, tidak suka dan sekarang kenapa tiba-tiba perduli bahkan mau tidur di sini." ucap Dika.
Dika mengikuti nya keluar. "Kamu mau ngapain?" tanya Dika mengambil sendok dari tangan Anisa.
"Aku mau masak nasi goreng untuk Bapak." ucap Anisa.
"Tidak perlu! Kita bisa memesan nya dari luar saja, terakhir kali kamu masak masakan kamu gosong sekarang kamu bisa-bisa membakar dapur saya." ucap Dika.
Anisa terdiam. "Sebaiknya kamu pulang saja. Kamu mau menginap di sini Bibik hari ini tidak ke sini." ucap Dika.
__ADS_1
"Aku gak mau pulang, aku mau di sini saja, aku bisa tidur di ruang tamu kalau Bapak tidak mengizinkan aku tidur di kamar." ucap Anisa.
Dika menarik tangan Anisa mengambil pakaian Anisa semua barang-barang nya.
"Saya mohon kamu pulang dari sini." ucap Dika. Anisa mengambil barang-barang nya.
"Bapak balas dendam kepada ku yah karena sering mengusir dan berkata-kata kasar?" tanya Anisa.
"Bukan seperti itu, justru kamu lebih baik pulang agar bisa istirahat dengan nyaman." ucap Dika.
"Kalau tidak balas dendam Bapak pasti tidak akan marah-marah dan mengusir ku seperti ini, padahal aku berniat baik kepada Bapak." ucap Anisa.
Dika menghela nafas panjang. "Baiklah-baiklah terserah kamu saja." ucap Dika, tidak bisa mengatakan apapun akhirnya dia mengijinkan Anisa tidur di Sana.
"Terimakasih pak, kalau begitu aku juga sudah bisa masak kan?" ucap Anisa, Dika menggeleng kan kepala nya.
"Tidak! kamu akan membakar apartemen saya nanti." ucap Dika.
"Tapi bukan hanya bapak saja yang lapar, aku juga lapar Sekarang." ucap Anisa. Dika memesan makanan dari luar karena mau memasak dia sudah sangat malas.
Setelah selesai makan Anisa ijin mau mandi.
"Aaaaa!!!!" Tiba-tiba Anisa berteriak dan melempar kan handuk kepada Dika yang masuk ke kamar sementara Anisa lagi memasang baju.
"Bapak ngapain? Keluar!" ucap Anisa berteriak dan mendorong keluar menutup pintu. Dika menghela nafas panjang.
Tidak beberapa lama akhirnya Anisa membuka pintu.
"Jangan mentang-mentang aku mau menginap di sini,. Bapak suka-suka mau mengintip aku berpakaian!" ucap Anisa.
"Siapa yang mau mengintip kamu? Saya tidak berselera mengintip anak yang baru puber seperti kamu." ucap Dika.
"Bapak dasar mesum!" ucap Anisa.
"Kamu ngapain mandi di kamar mandi saya? Kamu juga berpakaian di kamar saya?" tanya Dika.
"Yah karena di kamar mandi luar tidak ada sabun, tidak ada handuk juga di sana." ucap Anisa.
Dika menghela nafas panjang. "Terserah kamu saja, kamu keluar saya mau istirahat." ucap Dika menarik Anisa keluar dan langsung masuk ke kamar tidak lupa juga untuk menutup pintu.
Anisa berjalan ke ruang tamu. "Huff seperti nya aku harus membeli handphone baru agar tidak Bosan seperti ini." ucap Anisa. Akhirnya dia memilih untuk keluar sebentar.
__ADS_1
"Anisa... Ambil ini untuk kamu." ucap Dika memberikan bantal dan juga selimut.
Namun Dika tidak melihat Anisa.."Loh kemana dia?" tanya Dika. mencari ke seluruh ruangan itu Namun tidak ada.
Mencoba menelpon namun tidak bisa dihubungi.
"Mau bagaimana pun aku menelpon nomor tidak akan masuk karena dia sudah merusak handphone nya." batin Dika.
"Na.. Na.. na.." Anisa baru saja pulang sambil bersenandung bahagia.
"Dari mana kamu jam segini baru pulang, dan pergi tampa ijin dari saya?" tanya Dika.
"Ya ampun pak bikin terkejut saja!" ucap Anisa karena Dika berdiri di depan pintu.
"Jawab pertanyaan saya!" ucap Dika.
"Hanya beberapa jam saja." ucap Anisa.
"Ini apartemen saya bukan rumah kamu, jadi kamu tidak bisa sesuka hati keluar masuk Tampa ijin dari saja." ucap Dika.
"Lihat ini sudah jam berapa!" ucap Dika. Annisa melihat sudah jam Sepuluh lewat.
"Aku hanya bertemu sebentar dengan Arya, membeli ponsel baru." ucap Anisa.
"Arya?" tanya Dika.. Anisa menganguk.
"Bapak bisa berhenti marah-marah tidak? Aku sudah Bosan mendengar bapak mengoceh tampa henti setiap hari. Aku mau mencoba ponsel baru ku." ucap Anisa masuk melewati Dika.
"Kamu membeli ponsel baru yang lebih mahal untuk apa? Kamu membuang-buang uang orang tua kamu." ucap Dika.
"Huff aku tidak perduli, mereka hanya bisa memberikan uang kepada ku, jadi tidak ada salah nya aku menghabiskan uang." ucap Anisa.
Dika menghela nafas panjang. "Kamu harus berfikir dewasa Anisa." ucap Dika. Anisa Menghela nafas panjang.
"Aku sudah lama menginginkan ponsel ini, kenapa Bapak harus protes lagi Sih?" ucap Anisa.
Dika menatap Anisa.
"Untuk kali ini saya memaklumi nya, tapi kedepannya kamu harus bersifat dewasa." ucap Dika menatap Anisa.
"Humm..." jawab Anisa.
__ADS_1