
"Aku tidak suka dengan orang pendiam. Aku lebih suka orang yang ramah." ucap Tri.
"Saya tidak meminta kamu suka kepada saya!" ucap Marsel. Tri menghela nafas panjang.
"Aku rasa Bapak bukan lah kakak dari Anisa. Kalian sangat berbeda." ucap Tri.
"Sebaiknya kamu diam saja!" ucap Marsel. Tri menganguk dan langsung diam.
Tidak beberapa menit kemudian..
"Kalau boleh tau bapak sudah memiliki pacar kah? Aku yakin sih sudah. Walaupun bapak terlihat galak dan juga cuek aku akui kalau bapak memiliki Wajah yang tampan." ucap Tri.
Mendengar pujian dari Tri membuat Marsel senang.
"Kenapa bapak diam saja sih? bapak sudah punya belum?" tanya Tri.
"Kalau saya sudah punya kenapa? Kalau belum kenapa? Itu bukan urusan kamu!" ucap Marsel.
"Yahh memang sih bukan urusan ku, hanya saja aku penasaran perempuan mana yang sabar dengan laki-laki dingin seperti Bapak!" ucap Tri.
"Humm kamu benar, tidak ada satu pun perempuan yang mau menjadi pacar saya karena saya seperti ini." ucap Marsel.
Tri seketika langsung Diam. "Maafin aku Pak, aku tidak bermaksud apa-apa." ucap Tri.
"Saya tidak akan memaafkan kamu!" ucap Marsel.
"Loh kenapa?" tanya Tri.
"Karena kamu sudah menanyakan hal pribadi seperti itu saya mau kamu menjadi pacar saya." ucap Marsel.
Tri terdiam sejenak, apa maksud Bapak? Itu tidak lah mungkin." ucap Tri.
"Kenapa tidak?" tanya Marsel.
"Sebelum nya bapak sudah pernah pacaran belum? Kenapa Bapak sangat aneh sekali." ucap Tri.
"Kamu mau tidak? Saya akan membayar kamu perbulan nya Tiga kali lipat dari gaji kamu di Toko." ucap Marsel.
Tri terdiam sejenak.
"Jadi aku hanya menjadi pacar bohongan bapak?" tanya Tri.
Marsel tiba-tiba diam.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah Anisa.
"Kakak sudah sampai." ucap Anisa kepada Dika. Mereka langsung keluar. Anisa memeluk Marsel. Dan setelah itu bersalaman dengan Tri.
"Apa kabar kamu Tri?" tanya Anisa. "Baik kok." ucap Tri.
__ADS_1
"Kamu sangat cantik berpenampilan seperti ini. Aku yakin kamu pasti sudah banyak di dekatin oleh pria-pria." ucap Anisa.
Tri tersenyum. "Apa yang aku katakan benar?" tanya Anisa. Tri menganguk sambil tersenyum.
"Ya udah kalau begitu ayo kita masuk saja." ucap Anisa.
Dika hanya diam saja.
"Kita perlu berbicara." ucap Marsel kepada Dika.
Dika berhenti.
"Iyah kak." ucap Dika.
"Kenapa sudah satu Minggu kamu masih di sini? Apa kamu tidak berniat kembali ke rumah mu dan menyiapkan masalah?" tanya Marsel.
Dika memikirkan perkataan Marsel.
"Kalau kamu ingin terus bersama Anisa mempunyai hubungan yang baik. Seharusnya kamu memulai nya dari keluarga kamu dulu. Jangan lari dari masalah." ucap Marsel karena sikit banyak nya dia sudah tau sifat Dika.
"Sebaiknya kamu menghadapi apapun yang terjadi. Saya ingin kamu dewasa menghadapi masalah. Saya juga ingin Anisa mendapatkan pendamping hidup yang bisa bertanggung jawab." ucap Marsel.
"Kamu mengerti kan?" tanya Marsel. Dika menganguk.
"Kalau begitu saya masuk dulu, saya mau istirahat,. malam ini kamu Akan menginap di sini." ucap Marsel.
Dika duduk sendiri di Luar. "Loh kak Dika mana? Kok tinggal di luar?" tanya Anisa melihat Marsel masuk sendiri.
Marsel menggeleng kan kepala nya.
Anisa langsung keluar.
"Bapak kenapa sih kerjaan nya marah mulu?" ucap Tri.
"Saya tidak marah." ucap Marsel. "Lalu kenapa tuan Dika duduk di luar sendiri?" tanya Tri.
"Dia mau duduk di luar apa yang salah? Kamu selalu saja berfikir negatif terhadap saya." ucap Marsel.
"Saya lelah, saya mau istirahat." ucap Marsel langsung pergi ke kamar nya.
"Apa-apaan? Dia marah kepada ku lagi?" tanya Tri.
"Kak Dika... Kenapa kakak duduk sendiri? Ayo masuk ini sudah gelap." ucap Anisa.
Dika menoleh ke arah Anisa.
"Kak Marsel marah yah? Maafin yah, kak Marsel memang seperti itu." ucap Anisa.
Dika menggeleng kan kepala nya. "Enggak kok, kak Marsel tidak mengatakan apa-apa." ucap Dika.
__ADS_1
"Lalu kenapa Kakak diam?" tanya Anisa.
Dika memeluk Anisa. "Apa menurut kamu sebaiknya saya kembali ke rumah orang tua saya?" tanya Dika.
Anisa terdiam sejenak.
"Yahh kalau itu sudah keputusan kakak, aku akan selalu mendukung kakak." ucap Anisa. Dika menganguk.
Anisa dan Dika masuk sementara Tri duduk sendiri di sofa sambil bermain handphone nya.
"Kakak istirahat lah, aku mau berbicara dengan Tri dulu." ucap Anisa. Dika menganguk. Tri tersenyum ke arah Dika begitu juga dengan Dika.
"Ada apa dengan Tuan Dika Anisa?" tanya Tri. Anisa menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak tau, anak nya memang seperti itu suka tiba-tiba diam" ucap Anisa.
"Kepribadian nya hampir sama dengan Pak Marsel." ucap Tri. Anisa mengangguk.
"Sangat sama, tidak ada beda nya." ucap Anisa. Tri tersenyum.
"Oh iya ngomong-ngomong bagaimana bekerja di toko?" tanya Anisa.
"Sangat buruk sekali.. Semua karyawan di sana tidak suka kepada ku karena merasa aku terlalu spesial di buat oleh pak Marsel." ucap Tri.
"Kenapa begitu?" tanya Anisa.
Tri menggeleng kan kepala nya. "Mereka semua memberikan pekerjaan kepada ku, dan sangat berat sekali setiap malam aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena kesakitan." ucap Tri.
"Apa kak Marsel sudah tau?" tanya Anisa. Tri menganguk.
"Mungkin dia sudah tau, namun karyawan seperti ku mana mungkin di perduli kan." ucap Tri.
"Kalau begitu aku akan mencoba berbicara dengan Kak Marsel." ucap Anisa. Tri menggeleng kan kepala nya.
"Tidak perlu Anisa. Aku tidak ingin menjadi masalah bagi ku di toko nanti. Aku juga sangat membutuhkan uang dan pekerjaan itu." ucap Tri.
Anisa menghela nafas panjang. "Kamu yang sabar yah, aku yakin kamu akan baik-baik saja nanti."ucap Anisa
"Semoga saja Anisa." ucap Tri.
"Oh iya ngomong-ngomong pak Marsel sudah memiliki pacar belum?" tanya Tri. Anisa menatap dengan tatapan Aneh.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Anisa.
"Aku hanya penasaran saja, perempuan mana yang betah dengan pak Marsel kalau sifat nya seperti itu." udah Tri.
Anisa tersenyum.
"Untuk sekarang kak Marsel tidak memiliki pacar. Tapi dia pernah berpacaran dengan perempuan satu kuliah nya namun itu sudah sangat lama sekali." ucap Anisa.
"Setelah itu pak Marsel tidak memiliki pacar lagi?" tanya Tri. Anisa mengangguk.
__ADS_1
"Aku juga heran kenapa, sementara banyak perempuan yang suka sama dia." ucap Anisa.
"Pacar nya yang sebelumnya berapa lama dengan dia?" tanya Tri. "Mungkin sekitar dua bulan." ucap Anisa.