Kisah Anisa Di Sekolah

Kisah Anisa Di Sekolah
Episode 54


__ADS_3

"Ini sudah jam satu siang, kamu pasti belum makan, saya akan masak terlebih dahulu. Kamu bersihkan wajah kamu." ucap Dika.


"Aku tidak lapar, tidak ada lagi yang bisa di masak di dapur, Bapak pergi saja." ucap Anisa. Dika tersenyum.


"Saya baru aja belanja. Buruan mandi sana, saya juga sudah sangat lapar." ucap Dika.


Anisa menggeleng kan kepala nya. "Kamu harus mandi, agar lebih segar dan Wangi." ucap Dika.


"Aku tidak mau mandi, bapak pergi lah dari rumah ku, karena hari ini aku libur tidak ada belajar les." ucap Anisa.


"Apa kamu mau saya mandikan?" tanya Dika, Anisa seketika terdiam.


"Aku akan mandi sendiri." ucap Anisa langsung kabur dari depan Dika.


Dika tersenyum sambil menggeleng kan kepala nya. Dia turun ke bawah untuk memasak.


Tidak beberapa lama akhirnya Anisa selesai mandi dia memakai baju santai yang khusus di rumah.


Karena rambut nya basah dia mengulung nya dengan handuk kering. "Humm perut ku sangat lapar sekali." ucap Anisa.


"Seperti nya Pak Dika sudah selesai masak, aku turun aja deh, kalau keluar aku sangat malas sekali." ucap Anisa.


Anisa turun dan ternyata Dika masih Sibuk masak di dapur.


"Aaaa!!!" Dika tiba-tiba menjerit..Anisa berjalan cepat.


"Bapak kenapa?" tanya Anisa kepada Dika. Ternyata tangan Dika terkena pisau mengeluarkan darah yang begitu banyak.


"Kenapa bapak tidak hati-hati?" ucap Anisa sambil membersihkan darah.


Dika senyum-senyum sendiri. sebenarnya dia Sengaja melakukan itu karena melihat Anisa turun, dia butuh perhatian dari Anisa.


"Masih sakit?" tanya Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya sambil tersenyum. Anisa membungkus dengan pembungkus luka.


"Sudah lebih baik seperti ini, lain kali hati-hati, kalau bapak tidak bisa memasak tidak perlu memasak!" ucap Anisa.


Dika menatap wajah Anisa.


"Kenapa bapak menatap saya seperti itu?" tanya Anisa. "Masker yang kamu pakai seperti nya sangat bagus untuk kulit kamu. Jadi terlihat cerah dan juga lembut." ucap Dika mengelus.


Anisa mengawas kan tangan Dika. "Aku tau Bapak hanya modus saja, lebih baik bapak lanjut masak karena saya sudah sangat lapar." ucap Anisa.


Dika melihat sayur yang belum Masak.


"Saya butuh bantuan kamu." ucap Dika. Anisa membantu dikit-dikit karena tangan Dika tidak berfungsi dua-duanya.


Namun Dika selalu saja mengambil kesempatan yang membuat Anisa Kesal.

__ADS_1


Tidak beberapa lama akhirnya masakan pak Dika selesai. Mereka makan siang bersama di Meja makan.


"Sore ini Mamah kamu akan datang." ucap Dika..Anisa yang tadi nya sangat enak makan tiba-tiba terdiam karena kata-kata Dika.


"Untuk apa?" tanya Anisa.


"Saya juga tidak tau, Bu Lala meminta saya datang ke sini mengatakan itu dan kamu jangan kemana-mana."' ucap Dika.


"Sebaiknya mereka tidak perlu pulang ke sini, kalau aku melihat mereka akan membuat aku sedih dan juga marah." ucap Anisa.


"Kamu tidak boleh seperti itu. Mau bagaimana pun keputusan orang tua mu sudah jalan yang terbaik. Dari pada mereka memaksa untuk bersama namun tidak pernah bahagia." ucap Dika.


"Aku tidak tau Siapa yang salah antara Mamah dan papah.. Tapi aku sangat kecewa kenapa mereka menikah dan mengucap kan janji di hari pernikahan kalau mereka akan berpisah dan memiliki keluarga baru." ucap Anisa.


"Karena kita tidak tau apa yang akan terjadi ke depan nya, kita hanya bisa merencanakan tuhan lah yang mengatur nya." ucap Dika.


Anisa menyudahi makan nya. "Kenapa kamu berhenti makan? Apa kamu marah? Saya salah bicara?" tanya Dika.


"Aku sudah kenyang.. Sudah banyak yang habis oleh ku." ucap Anisa. Dika melihat dan ternyata benar.


"Saya berfikir kamu tidak suka." ucap Dika.


"Hari ini saya tidak akan kemana-mana, bapak bisa pergi." ucap Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya.


"Kalau bapak di sini akan membuat orang lain yang melihat berfikir yang tidak-tidak." ucap Anisa.


"Saya tidak perduli dengan apa kata orang lain. Sebelum orang tua kamu datang saja ingin mengajak kamu keluar." ucap Dika.


"Sebentar saja. Saya ingin bertemu dengan seseorang." ucap Dika.


Anisa menggeleng kan kepala nya. "Pergi saja sendiri, kenapa harus mengajak aku?" ucap Anisa.


"Saya tidak betah sendirian."' ucap Dika.


"Kalau kamu mau ikut menemani saya, kamu boleh meminta satu hal kepada saya." ucap Dika.


"Bapak seriusan?" tanya Anisa, Dika menganguk. "Baiklah kalau begitu aku ikut." ucap Anisa.


Akhirnya Anisa menukar baju nya. "Sudah siap ayo kita berangkat." ucap Anisa. Dika melihat penampilan Anisa.


"Kenapa? apa terlihat sangat Aneh? aku hanya menyesuaikan diri dengan bapak." ucap Anisa.


"Maksud kamu? Kamu berdandan dewasa seperti ini karena saya sudah tua?" ucap Dika. "Tuh tau?" ucap Anisa. Dika menahan Kesal nya.


"Satu hal yang harus kamu tau adalah." ucap Dika. Anisa sudah siap mendengar nya kalau Dika akan marah.


"Apa?" ucap Anisa.

__ADS_1


"Kamu cantik." ucap Dika kurang jelas.


"Apa? Bapak berbicara seperti kumur-kumur." ucap Anisa.


"Lupakan saja. Ayo berangkat" ucap Dika.


"Bapak mengatakan apa?" tanya Anisa.


Dika tidak menjawab. Dia hanya senyum-senyum.


"Apa? Kita akan naik motor?" ucap Anisa kaget karena Dika naik ke atas motor.


"Saya hanya memiliki ini." ucap Dika. Anisa menggeleng kan kepala nya.


"Bagaimana bisa bapak mengatakan mencintai saya, sementara Bapak hanya memiliki motor butut ini." ucap Anisa. Dika menghela nafas panjang.


"Perjalanan saya dengan motor ini sudah sangat banyak, kamu tidak boleh berbicara dan menghina seperti itu." ucap Dika.


"Baiklah-baiklah aku minta maaf pak. Tapi kalau naik motor penampilan ku akan berantakan, apa Bapak tidak malu membawa perempuan yang sangat berantakan bertemu dengan teman Bapak?" ucap Anisa.


Dika menggeleng kan kepala nya.


"Karena kamu sangat cantik walaupun berpenampilan sederhana." ucap Dika.


Anisa tersipu malu.


"Ayo buruan naik, saya akan membawa motor pelan-pelan agar kamu bisa duduk dengan nyaman." ucap Dika.


Anisa naik ke atas motor.


"Sebenarnya sih naik motor lebih asik karena bisa menikmati angin." ucap Anisa.. Dika tersenyum.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di sebuah gedung.


Dika parkir di parkiran motor.


"Sini saya bantu." ucap Dika membuka hlem Anisa.


Dika menatap wajah Anisa. Merapikan lipstik Anisa yang sedikit berantakan.


Anisa menepis tangan Dika langsung.


"Jangan seperti ini di depan umum!" ucap Anisa.


Dika tersenyum. "Bibir kamu sangat lembut sekali." ucap Dika. Anisa menatap kesal kepada Dika.


"Kalau bapak mesum seperti ini kenapa bapak tidak menikah saja?" ucap Anisa dengan kesal.

__ADS_1


"Kalau begitu menikah lah dengan saya." ucap Dika.. Anisa memukul tangan Dika yang memegang tangan nya.


"Pria seperti Bapak tidak bisa di percaya sama sekali." ucap Anisa.


__ADS_2