
"Tidak perlu kak, kak!" ucap Anisa menahan namun Marsel sudah mengajak Dika.
Dika sebenarnya tidak ingin pergi bersama Marsel, namun karena ada Anisa dia harus ikut demi bisa melihat kekasih pujaan hati nya itu.
"Ngomong-ngomong bapak sudah berapa lama mengajar di sekolah itu? Dulu waktu Anisa kelas satu saya tidak melihat Bapak ada di Sekolah itu." ucap Marsel.
"Saya baru empat bulan menjadi guru di sana." jawab Dika.
"Oohh masih baru. Ternyata bapak sangat berpengaruh besar untuk perubahan adik saya. Saya berterima kasih banyak kepada bapak." ucap Marsel.
"Itu semua karena kegigihan dan Niat Anisa. Saya hanya mengajarkan mata pelajaran yang semestinya harus saya jelaskan." ucap Dika.
Cukup lama mereka berbincang-bincang. Tiba-tiba handphone Marsel berdering.
"Papah.." Ucap Marsel. Dia menoleh ke arah Anisa.
"Kenapa Kakak menoleh ke arah ku?" ucap Anisa.
Marsel Menghela nafas panjang.
"Ya udah kalau begitu, kalian tunggu sebentar, kakak jawab telpon Dulu." ucap Marsel.
"Iyah halo Pah." ucap Marsel.
"Halo nak, kamu masih bersama Anisa?" tanya papah nya. Marsel melihat ke arah dalam.
"Ada sih Pah, tapi aku yakin dia pasti tidak mau berbicara dengan papah." ucap Marsel. "Katakan padanya kalau papah tidak bisa datang.. Papah minta maaf." ucap papah nya.
"Loh kenapa Pah? Bukan nya papah akan datang sore ini?" tanya Marsel.
"Maafin papah, tapi ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal kan." ucap papah nya.
"Oohh ya udah kalau begitu pah, nanti kalau ada waktu luang baru datang melihat Anisa..Dua Minggu kedepan nya papah jangan khawatir, karena aku akan menjaga Anisa di sini." ucap Marsel.
"Iyah nak, terimakasih yah sudah mau menemani adik kamu." ucap papah nya.
"Bagaimana dengan mamah Pah? Apa dia tidak mau datang memberi kata selamat kepada Anisa?" Tanya Marsel.
"Tidak perlu mereka datang, aku tidak suka mereka datang. Sebaiknya mereka mengurus keluarga nya masing-masing." ucap Anisa langsung pergi.
Dika mau mengejar namun di tahan oleh Marsel.
"Sudah biar kan saja dia sendiri." ucap Marsel menahan Dika.
Dika melihat Anisa pergi meninggalkan mereka di sana.
"Sebaiknya saya pulang juga pak." ucap Dika langsung pergi dari sana.
Di dalam mobil Taksi Anisa menangis.
__ADS_1
"Bahkan percuma.. Aku sangat percuma belajar giat, percuma semua nya, bahkan orang tua ku tidak datang." ucap Anisa.
Dika langsung memotong mobil taksi itu.. Anisa melihat keluar hujan dan Dika mengetuk pintu mobil.
"Anisa buka pintu nya. Saya ingin berbicara dengan kamu." ucap Dika.
'Ini hujan, kenapa kamu keluar dari mobil?' ucap Anisa. "kalau kamu tidak mau saya kehujanan sekarang ikut dengan saya pulang." ucap Dika.
Dika membawa Anisa ke dalam mobil yang ia tumpangi.
Anisa hanya diam saja di dalam mobil.
Dika tidak lupa mengabari Marsel kalau Anisa sudah bersama nya.
Dika menoleh ke arah Anisa, Anisa pura-pura tidak tau dia langsung mengarahkan pandangannya ke arah yang lain.
"Kamu jangan membuat orang khawatir seperti ini Anisa, kakak kamu pasti sangat Sedih kalau kamu seperti ini." ucap Dika.
"Aku tidak ingin berhubungan lagi dengan orang tua ku, percuma saja aku mendapat kan nilai yang bagus atau menjadi lebih baik. Semua nya tidak berguna." ucap Anisa.
"Jangan berbicara seperti itu! Karena yang kamu lakukan sekarang sudah sangat baik, semua nya benar-benar sangat memuaskan sekali." ucap Dika.
"Kalau kamu merasa orang tua kamu tidak perduli tapi banyak orang yang perduli, banyak yang bangga kepada kamu termasuk saya dengan kakak kamu." ucap Dika.
"Kalau kamu putus asa seperti ini, saya akan sangat kecewa, kamu berjanji akan memperbaiki diri menjadi lebih baik.. Jauh lebih baik dari pada sekarang." ucap Dika.
Anisa menangis dia memeluk Dika.
"Aku tidak bisa.. Aku masih membutuhkan orang tua ku, Kapan mereka akan kembali kepada ku?" ucap Anisa.
Dika mengelus punggung Anisa.
"Kamu yang sabar yah." ucap Dika. Anisa menangis di peluk Dika.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah Anisa.
"Kamu duduk dulu." ucap Dika, dia membawa teh hangat kepada Anisa.
"Terimakasih." ucap Anisa. Dika mengangguk dia duduk di samping Anisa.
"Sebaiknya kamu tukar baju, nanti kamu bisa masuk angin." ucap Dika.
Anisa melihat baju Dika. "Kakak juga sangat Basah." ucap Anisa.
"Saya tidak membawa baju ganti, kalau begitu saya akan pulang." ucap Dika.
Anisa menahan tangan Dika. "Aku mohon tidur lah di sini malam ini." ucap Anisa.
Andre menganguk.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu." ucap Dika. Anisa mengambil baju Dika yang masih tersisa di lemari nya.
"Kak Marsel di mana?" tanya Anisa.
"Kakak kamu sudah kembang ke penginapan nya. Dia tidak ke sini lagi karena takut kamu marah kepada nya." ucap Dika.
Anisa menghela nafas panjang.
"Apakah aku terlalu kelewatan? apa kah aku tidak bersifat dewasa?" tanya Anisa.
"Bukan tidak dewasa ataupun berkelebihan, hanya saja kamu harus menerima kenyataan, kamu harus bisa menerima semua kekurangan ataupun kelebihan dari kedua orang tua kamu." ucap Dika.
Anisa menundukkan kepalanya.
"Kakak benar." ucap Anisa.
"Sudah jangan sedih lagi. Bagaimana kalau Besok kita berkunjung ke panti asuhan bertemu dengan Boni?" tanya Dika.
"Kakak seriusan?" tanya Anisa, Dika menganguk.
"Aku mau, aku mau." ucap Anisa. Dika tersenyum.
"Ya udah kalau begitu kamu istirahat yah, saya harus kembali karena saya harus bertemu dengan klien saya malam ini." ucap Dika.
Anisa melihat Dika.
"Kenapa sangat cepat sih? Ini baru jam tiga sore." ucap Anisa. "Saya harus mengerjakan pekerjaan yang lain nya." ucap Dika.
Anisa Menghela nafas panjang di mendekati Dika dan memeluk nya.
"Aku mau makan masakan kakak." ucap Anisa. Dika mengelus kepala Anisa.
"Bukan nya kamu baru selesai makan di luar?" tanya Dika.
"Aku memang sudah makan, tapi aku lapar lagi, sekarang aku mau Makan Masakan kakak'." ucap Anisa.
Dika melihat jam.
"Ya sudah kalau begitu saya akan memasak makanan yang cepat." ucap Dika.. Anisa menganguk sambil tersenyum.
Dika berjalan ke dapur dan di ikuti oleh Anisa.
"Kamu tidak perlu ikut bekerja, saya bisa melakukan nya sendiri." ucap Dika, Anisa tersenyum sambil mengangguk.
Dia awalnya memerhatikan Dika saja namun dia memikirkan Sifat iseng dia memeluk Dika dari belakang.
"Apa yang kamu lakukan Anisa?" tanya Dika. Anisa tersenyum .
"Kakak lanjut Masak saja, aku hanya ingin memeluk kakak." ucap Anisa. Dika membiarkan Anisa untuk memeluk nya walaupun sedikit mengganggu.
__ADS_1