Kisah Anisa Di Sekolah

Kisah Anisa Di Sekolah
Episode 184


__ADS_3

Tidak beberapa lama panggilan telepon pun mati.


"Huff kak Marsel benar-benar keterlaluan sekali. Bagaimana bisa dia sangat jahat dan menjadi kan Tri Yang tidak tau apa-apa menjadi pacar bohongan nya." ucap Anisa dalam hati.


"Ah sudahlah itu sudah menjadi resiko kalau bersama kak Marsel, dan yang membuat aku aneh adalah kenapa harus satu atap? Apa itu arti nya kak Marsel tidak kembali ke kota nya?" ucap Anisa.


"Aku harus menelpon kak Marsel." ucap Anisa langsung mengambil handphone nya dan menelpon kakak nya.


"Namun sampai dua kali menelpon tidak kunjung di jawab.


"Seperti nya dia sedang bekerja, sebaiknya aku tidur dulu, malam nanti akan mencoba menelpon nya lagi." ucap Anisa.


Berbaring di tempat tidur menghilangkan semua penat di nada nya.


Tri lanjut bekerja namun handphone nya berdering.


"Halo " ucap Tri.


"Halo! Kenapa nomor kamu sibuk? Apa kamu sedang bertelepon dengan pria lain?" tanya Marsel.


"Jangan menuduh sembarangan pak, aku berbicara dengan Anisa barusan." ucap Tri.


Marsel menghela nafas panjang.


"Saya tidak percaya." ucap Marsel.


"Terserah bapak saja, mau percaya atau tidak itu adalah urusan bapak." ucap Tri.


"Saya mau kamu pulang sekarang." ucap Marsel.


"Ini masih jam empat pak, aku belum bisa pulang." ucap Tri.


"Jangan banyak alasan! saya sudah di perjalanan kembali ke apartemen." ucap Marsel.


"Tidak bisa pak. Aku tidak mau." ucap Tri.


"Jangan banyak alasan." ucap Marsel.


Panggilan telepon langsung mati.


"Benar-benar sangat keras kepala!" ucap Tri.


Dia melanjutkan pekerjaannya namun kepala toko tiba-tiba datang.


"Tri kamu ke sini dulu." ucap Kepala toko.


"Iyah Pak." ucap Tri.


"Pak Marsel baru saja menelpon saya dan meminta kamu pulang." ucap kepala toko.

__ADS_1


"Tapi ini bukan waktu nya untuk pulang." ucap Tri.


"Sudah waktunya, pulang saja dari pada pak Marsel marah." ucap kepala pelayan.


Tri menghela nafas panjang. "Sebaiknya aku pulang saja dari pada aku kena marah, aku tidak ingin membuat masalah." ucap Tri.


Dia pulang menggunakan taksi. Marsel akan marah kalau dia memakai ojek pulang itu sebabnya dia memaksa kan diri untuk naik Taksi pulang.


Tidak beberapa lama akhirnya dia sampai di rumah.


Kebetulan juga Marsel baru sampai.


Dia melihat mobil Marsel parkir di samping nya.


"Akhirnya kamu pulang, kalau kamu tidak pulang saya akan datang menjemput kamu." ucap Marsel.


"Apa bapak tidak melihat ini jam berapa? Aku datang ke sini karena ingin bekerja, aku tidak mau membuang-buang waktu seperti ini." ucap Tri.


"Saya akan tetap membayar kamu, tidak perlu khawatir. Justru saya akan membayar kamu lebih." ucap Tri.


"Huff sudah lah aku tidak mau membahas itu lagi, sebaiknya kita ke atas." ucap Tri langsung pergi terlebih dahulu.


Marsel mengikuti nya ke atas. Mereka masuk ke dalam apartemen nya.


"Apa kamu tidak mau masak untuk saya? Saya sangat lapar sekali." ucap Marsel.


"Huff kenapa Bapak tidak makan dari luar?" tanya Tri.


"Apa kamu mau memasak?" tanya Marsel. "Baiklah, aku akan masak nanti." ucap Tri.


Marsel tersenyum.


Tri menukar pakaian nya terlebih dahulu. Setelah itu dia masak di dapur sendirian. Sementara Marsel pergi mandi untuk membersihkan seluruh tubuh nya.


Marsel bekerja di kota itu untuk satu bulan ini, jadi setiap hari dia akan kelelahan untuk pergi ke lokasi jauh-jauh sekali.


Satu jam kemudian Marsel keluar dari kamar dia melihat Tri sudah menyusun makanan di atas meja.


"Sudah masak?" tanya Marsel.


"Sudah, bapak makan lah." ucap Tri.


Marsel menarik kursi dan langsung duduk di samping.


"Kamu pasti belum makan, Ayo lah duduk." ucap Marsel menarik tangan Marsel agar duduk di kursi samping nya.


Tri sebenarnya juga lapar, tapi dia mau mandi dulu.


"Aku belum mandi pak, sebaiknya aku mandi dulu." ucap Tri.

__ADS_1


Marsel menggeleng kan kepala nya,


"Sebaik nya kamu makan dulu, setelah perut kamu berisi baru mandi." ucap Marsel.


Tri pun mau makan. Tidak lupa juga dia mengambil kan nasi untuk Marsel dan juga Untuk diri nya.


Lagi enak-enak makan Marsel membuka pembicaraan.


"Saya tidak suka kalau kamu terlalu dekat dengan karyawan toko yang lain di toko." ucap Marsel.


"Maksud bapak?" tanya Tri Heran.


"Saya tau kalau kamu dekat dengan Andi." ucap Marsel.


"Kami hanya berteman, apa itu salah?" tanya Tri.


"Tidak salah, tapi saya tidak suka..Kamu adalah pacar saya." ucap Marsel.


"Andi hanya rekan kerja ku yang mengajarkan ku bagaimana kerja di sana. Tidak ada hubungan apapun." ucap Tri.


"Intinya kamu harus tetap menjaga jarak." ucap Tri.


"Baiklah kalau begitu, aku tidak bisa menentang perkataan bapak." ucap Tri.


"Sudah jangan membahas itu lagi, aku tidak ingin itu menjadi masalah." ucap Tri.


"Kamu harus berjanji untuk tidak dekat dengan Andi!" ucap Marsel.


"Baiklah aku berjanji, aku akan segera keluar dari sana dan mencari pekerjaan baru." ucap Tri.


"Maksud kamu?" tanya Marsel. "Aku tidak betah bekerja di sana aku tidak betah bersama bapak." ucap Tri


"Kenapa kamu mengatakan hal seperti itu?" tanya Marsel.


"Bapak sangat egois, Bapak tidak pernah mengijinkan aku bekerja dengan tenang, aku seperti hidup di penjara. Banyak aturan, banyak perintah." ucap Tri.


Marsel seketika langsung diam, dia menatap wajah Tri lalu tiba-tiba saja dia memalingkan pandangannya karena di tatap oleh Tri.


Tri bisa melihat wajah Marsel.


"Aku tidak tau apa yang bapak lihat dari aku, aku mau hidup dengan tenang, aku mau kembali ke kota ku sebelum nya." ucap Tri.


"Kalau awalnya aku tau semua nya seperti ini, aku tidak akan mau ke sini, aku tidak ingin hidup seperti ini. Aku ingin bebas." ucap Tri.


"Aku ingin kembali ke kota ku, kalau bisa memilih aku mau ke rumah tuan Dika saja, aku ingin bekerja dengan tuan dika saja." ucap Tri.


"Saya minta maaf kalau saya melakukan kesalahan yang membuat kamu tidak nyaman, namun saya melakukan ini karena saya ingin kamu bersama saya di sini." ucap Marsel.


Dia menatap wajah Tri.

__ADS_1


"Saya mengakui kalau sebenernya saya merasa melihat orang tua saya hidup di badan kamu. Saya sangat nyaman bersama kamu di sini, tidak ada lagi yang saya takutkan, tidak ada yang saya khawatir kan. Rindu saya terhadap orang tua saya sudah terobati." ucap Marsel.


"Kalau bapak menganggap seperti itu, kenapa bapak harus seperti ini kepada aku? Bapak tidak membiarkan aku tinggal dengan nyaman." ucap Tri.


__ADS_2