
Dika berjalan ke dapur dan di ikuti oleh Anisa.
"Kamu tidak perlu ikut bekerja, saya bisa melakukan nya sendiri." ucap Dika, Anisa tersenyum sambil mengangguk.
Dia awalnya memerhatikan Dika saja namun dia memikirkan Sifat iseng dia memeluk Dika dari belakang.
"Apa yang kamu lakukan Anisa?" tanya Dika. Anisa tersenyum .
"Kakak lanjut Masak saja, aku hanya ingin memeluk kakak." ucap Anisa. Dika membiarkan Anisa untuk memeluk nya walaupun sedikit mengganggu.
Karena Anisa Dika jadi lama masak. Setelah selesai masak Dika menyiapkan nya di depan Anisa.
"Kakak temanin aku Makan dulu." ucap Anisa memegang tangan Dika yang mau pergi.
Dika melihat jam. "Tapi Anisa..."
Anisa langsung memasang wajah melas.
"Baiklah-baiklah." ucap dika langsung. Anisa tersenyum.
Dika memerhatikan wajah Anisa yang benar-benar membuat nya ingin lama-lama di sana.
"Kamu senang gak bisa mendapatkan juara?" tanya Dika. Anisa menganguk.
"Aku sangat senang, hanya saja aku tidak senang karena banyak orang yang mengira aku membayar guru lagi, aku membayar kakak." ucap Anisa.
"Banyak orang yang tidak suka dengan keberhasilan kita, itu sebab nya kamu harus membuktikan kepada mereka kalau kamu itu benar-benar bisa mengalahkan mereka." ucap Dika. Anisa tersenyum.
"Kakak mau makan." ucap Anisa sambil menyodorkan sendok yang berisi nasi ke arah Dika.
Dika tersenyum dan langsung memakan dari sendok Anisa.
Dika tidak jadi berangkat ke kantor dia terpaksa ijin karena Anisa menginginkan Dika bersama nya terus menerus, dia membuat alasan agar Dika tidak pergi.
Sekarang mereka berdua lagi duduk di ruang tamu sambil menonton. Anisa bersandar di pundak Dika. lagi enak-enak nya nonton handphone Dika berdering.
"Nomor baru? siapa yah." batin Dika.
Dika menjawab nya. Anisa memerhatikan Dika.
"Halo.."
"Halo Pak Dika, ini saya Rida. Saya dapat nomor bapak dari Bu Lilis." ucap Rida.
"Rida! Kenapa kamu menelpon saya malam-malam?" tanya Dika. Mendengar nama Rida, Anisa langsung duduk dan menatap wajah Dika dengan tatapan aneh.
__ADS_1
"Aku sedang di depan apartemen Bapak, apa bapak bisa menemui aku sebentar?" tanya Dika.
"Saya sedang tidak di rumah. Ada apa yang sangat penting sehingga kamu mencari saya?" tanya Dika.
"Ini sangat penting pak, saya mohon bapak agar segera datang ke sini menemui saya." ucap Rida.
"Saya tidak bisa Rida." ucap Dika karena tatapan Anisa sudah siap untuk membunuh nya.
"Sebentar saja pak, Saya mohon. Saya akan terus menunggu bapak di sini." ucap Rida. Dika menghela nafas panjang.
"Saya tunggu bapak di sini." ucap Rida langsung mematikan sambungan telepon.
Dika menghela nafas panjang. "Ada apa ? Kenapa dia menelpon kakak?" tanya Anisa langsung, Dika menatap wajah Anisa.
"Dia menunggu saya di depan apartemen saya. Apa saya harus menemui di sekarang juga ke sana?" tanya Dika.
"Yahh terserah kakak saja." ucap Anisa..Dika sudah tau Anisa Cemburu.
"Kamu ikut dengan saya." ucap Dika menarik tangan Anisa mengajak nya ikut bersama dengan dia.
"lepaskan! aku tidak mau ikut. Pergi saja sana menemui Rida." ucap Anisa.
"Tidak mungkin saya tidak pergi Anisa, dia menunggu saya Di sana, agar kamu tidak marah dan berfikir yang aneh-aneh, kamu harus ikut dengan saya." ucap Dika.
Anisa masuk ke dalam mobil dan ikut bersama Dika. Tidak beberapa lama akhirnya sampai di depan apartemen Dika.
"Aku tunggu di sini saja." ucap Anisa. Dika mengelus rambut Anisa. "Di hati saya hanya ada kamu, jangan berfikir yang aneh-aneh karena saya tidak pernah berpaling dari kamu." ucap Dika mencium pipi Anisa dan pergi.
Anisa memegang pipi nya sambil tersenyum. Dia melihat Rida memberikan sesuatu kepada Dika. Dika berbicara sebentar dan setelah itu langsung ijin pulang.. Namun Rida terus menahan Dika agar tidak pulang dulu.
Dika merasa tidak nyaman akhirnya dia membuat alasan karena sangat sibuk dan akhirnya Rida membiarkan Dika pergi.
"Apa yang dia kasih?" tanya Anisa.
"Saya tidak tau, dan tidak ingin tau." ucap Dika.. Anisah melihat Rida seperti menangis.
"Ada apa dengan Rida? Kenapa dia menangis?" tanya Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya.
"Kakak mengatakan apa kepada dia? Apa yang sudah kakak lakukan sampai membuat dia menangis seperti itu." ucap Anisa.
"Saya tidak mengatakan apapun." ucap Dika. Anisa menghela nafas panjang.
"Walaupun aku tidak suka kepada Rida, tetap aja aku tidak tega melihat nya menangis dan sedih seperti itu." ucap Anisa.
"tidak perlu di perduli kan, sebaik nya kita pulang saja." ucap Dika.
__ADS_1
"Jawab dulu.. Rida kenapa? dia mengatakan apa sama kamu?" tanya Anisa.
"Tidak ada kok, kamu jangan berfikir yang aneh-aneh." ucap Dika.
"Bagaimana aku tidak berfikir yang aneh-aneh? Kakak datang ke dalam mobil langsung diam seperti memikir kan sesuatu sementara Di sana Rida menangis." ucap Anisa.
Dika menjalankan mobilnya dan kembali ke rumah Anisa.
Sampai di sana Dika langsung berbaring di sofa.
"Sebaik nya kakak tidur di kamar." ucap Anisa..Dika menggeleng kan kepala nya.
Anisa menghela nafas. Dia menarik tangan Dika.
"Ayo buruan.." ucap Anisa.
"Apa kamu tidak takut?" tanya Dika.
"Aku jauh lebih takut kalau tidak ada yang menempel."ucap Anisa.
"Maksud saya bukan itu." ucap Dika.
"Aku sudah menjadi pacar kakak, aku juga mencintai kakak. Aku akan memberi kan semua nya apa yang kakak ingin kan agar kakak tidak bosan kepada ku." ucap Anisa.
Dika Menggeleng kan kepala nya. "Jangan mengatakan hal seperti itu! Saya hanya bercanda, tidak mungkin saya melakukan itu kepada perempuan yang belum menjadi istri saya." ucap Dika.
Anisa tersenyum dia memeluk Dika.
"Aku sangat senang mendengar nya, jadi aku tidak perlu takut lagi." ucap Anisa..Dika tersenyumlah.
Mereka pun langsung ke kamar, Anisa sudah berbaring terlebih dahulu sambil memainkan handphone nya.
Dika yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat ke arah Anisa. "Waktu nya tidur." ucap Dika mengambil handphone Anisa dan meletakkan nya di atas meja.
Anisa menatap Dika. Dika dengan Manja langsung berbaring di lengan Anisa.
"Malam ini saya ingin merasakan di manjakan oleh kamu." ucap Dika.
"Tiap hari kakak selalu Manja." ucap Anisa..Dika tersenyum.
Keesokan harinya... Anisa bangun lebih awal dia merasakan sesak di dada karena pelukan Dika yang sangat erat sekali.
"Aarrrr... Aku sulit bernafas." ucap Anisa melepaskan tangan Dika, namun Dika semakin mempererat nya.
"Apa yang kamu lakukan? Saya ingin tidur dulu, jangan menganggu saya." ucap Dika. Anisa menghela nafas panjang dia memukul tangan Dika.
__ADS_1
"Aku hampir saja mati karena sesak nafas." ucap Anisa.