
"Putri orang yang sulit sekali untuk di tebak, mungkin dia kalau sudah move on dari Mantan nya dia pasti akan membuka hati kepada siapapun itu." ucap Anisa.
"Mantan?" ucap Arya. Anisa mengangguk.
"Mantan di SMP membuat nya sangat trauma mengenal cinta lagi, dia berpacaran dengan sahabat nya sendiri. Namun ternyata dia si selingkuhi setelah beberapa bulan bersama. Dia sangat sakit hati dan sangat sedih." ucap Anisa.
"Lalu aku harus bagaimana?" ucap Arya.
"Terus berjuang mendapatkan nya, dia pasti akan luluh kalau kamu berhasil membuka hati nya lagi dan jangan pernah mengecewakan dia, karena kalian berdua sangat lah cocok." ucap Anisa.
Arya diam. Cukup lama Anisa di sana membicarakan tentang Putri memberikan saran kepada Arya.
Sementara di rumah Dika sudah mondar-mandir memegang handphone nya sambil menelpon kekasih nya.
"Kenapa jam segini dia belum pulang? dia juga tidak menjawab telpon ku." ucap Dika. Dika sudah berfikir yang aneh-aneh.
"Seharusnya aku harus ikut dengan Anisa tadi, aku tidak bisa percaya begitu saja." ucap Dika dalam hati.
Tidak bisa berfikir dengan baik. Dia berfikir untuk mengikuti Anisa ke rumah Arya.
Baru saja mau masuk ke dalam mobil tiba-tiba Anisa datang. Dika melihat Anisa keluar dari dalam mobil.
"Kakak mau kemana?" tanya Anisa melihat Dika memegang kunci mobil. Dika menggeleng kan kepala nya dia mendekati Anisa dan langsung memeluk nya.
Anisa bingung namun dia membalas pelukan Dika.
"Kenapa kamu begitu lama? Apa Arya menahan kamu?" tanya Dika. Anisa tersenyum.
"Enggak kak, aku hanya bercerita cukup lama dengan Arya itu sebab nya aku lama, kakak jangan berfikir yang aneh-aneh." ucap Anisa.
Dika menghela nafas panjang. "Bagaimana saya tidak berfikir demikian kamu tidak menjawab dan tidak membalas pesan saya." ucap Dika.
"Aku minta maaf. Handphone ku ada di mobil tadi nya." ucap Anisa. Dika menghela nafas panjang.
"Sudah jangan marah, aku minta maaf sudah membuat kakak lama menunggu. Lihat aku bawa apa untuk kakak." ucap Anisa sambil mengangkat Makanan yang dia bawa.
"Saya tidak ingin itu, saya ingin kamu kembali dengan cepat." ucap Dika. Anisa tersenyum. "Ya sudah kalau begitu ayo kita masuk." ucap Anisa.
Dika menahan Anisa dia mencium Aroma badan Anisa terlebih dahulu. "Apa yang kakak lakukan?" tanya Anisa.
__ADS_1
"Saya ingin tau apa ada bau laki-laki di badan kamu." ucap Dika. "Kakak sangat berlebihan sekali, apa kakak berfikir aku tidak jujur? Kakak tidak percaya kepada ku?" ucap Anisa.
"Bukan seperti itu, saya hanya tidak ingin orang lain aneh-aneh kepada kamu." ucap Dika.
"Tapi yang kakak lakukan ini sudah berlebihan. Aku tidak suka dengan cara kakak yang seperti ini." ucap Anisa.
Dika menunduk kan kepala nya dia menghela nafas panjang. "Saya minta maaf." ucap Dika.
"Sudah ayo kita masuk saja, sudah magrib." ucap Anisa.
Sementara di Tempat lain Mamah nya Arya baru saja masuk ke dalam kamar Arya melihat keadaan anak nya itu.
"Arya.. Kamu tidak makan satu harian, apa kamu tidak lapar? mau yah mamah suapi." ucap mamah nya. Arya menggeleng kan kepala nya.
"Tidak perlu mah, Kaka aku mau makan aku ambil sendiri kok. Mamah istirahat lah." ucap Arya.
"Kamu masih pusing? Atau badan kamu masih lemas?" tanya Mamah nya.
"Sedikit Mah, besok pasti sudah sembuh kok." ucap Arya.
"Obat dan minum kamu mamah letak di sini saja, kamu jangan lupa untuk minum." ucap mamah nya.
Mamah nya mengganguk. Setelah Mamah nya keluar Arya bangun dia melihat ke arah obat itu. "Huff Kapan sih sakit di badan ku ini hilang." ucap Arya dengan kesal.
"Aku tidak boleh memikirkan tentang Putri terlebih dahulu agar aku bisa sehat." ucap Nya.
Namun beberapa detik dia mengatakan itu dia sudah mengingat Putri lagi.
"Kamu sangat jahat Putri. Bahkan kamu tidak ada di sini berhasil menyiksa hati saya." ucap Arya.
Anisa dan Dika makan malam bersama di meja makan. Anisa menyuapi Dika yang minta di manja, wajah nya belum bisa tersenyum karena kesal tentang Anisa menjenguk Arya.
"Kakak sudah berumur namun tetap saja manja." ucap Anisa. Dika hanya diam dia terus menatap wajah Anisa.
"Kalau Boni tau papah nya seperti ini aslinya dia pasti akan sangat malu." ucap Anisa. Dika menghela nafas panjang.
"Saya justru sangat takut kalau dia tidak bisa menerima saya sebagai Ayah kandung nya." ucap Dika.
"Boni anak yang pintar, tidak mungkin dia tidak mau?" ucap Anisa.
__ADS_1
"Sebaiknya untuk saat ini dia tidak perlu tau, saya mohon sama kamu jangan kasih tau dia dulu." ucap Dika. Anisa mengangguk.
"Baiklah aku mengerti kok." ucap Anisa.
Tepat jam delapan malam Tri baru saja kembali ke apartemen nya. Dengan wajah lesu, kusam dan badan lemas dia langsung tidur di kasur nya.
"Aaarrggg!!! Akhirnya aku bisa merebahkan badan ku." ucap nya.
"Tiga hari bekerja di sana sudah membuat Badan ku hancur. Aku tidak tau kalau seperti ini, kalau aku tau aku tidak akan mungkin bekerja di sini." ucap Tri.
Dia melihat pergelangan kaki nya biru, tangan-tangan nya luka.
"Aku sudah seperti bekerja di penjajahan saja, bahkan jam istirahat ku hanya 30 menit, nasi belum turun namun sudah harus bekerja lagi." ucap Tri.
"Pak Marsel benar-benar sangat tidak adil, aku melihat banyak kok karyawan lain nya santai bekerja hanya apa yang di lihat saja, dan mereka semua membuat pekerjaan yang seharusnya bukan pekerjaan karyawan baru jadi harus kerjaan." ucap Tri.
Karena sudah cukup berbaring dia harus mandi agar segar setelah itu dia bisa istirahat dengan nyaman.
Setelah selesai mandi dia mengoleskan obat terlebih dahulu ke badan nya yang pegal-pegal, setelah itu dia berbaring di kasur.
Baru saja Memejamkan mata nya namun ketua anggota sudah menelpon dari restoran.
"Ada apa kak?" tanya Tri.
"Bahan makanan yang ini sudah ada belum? Kamu sudah mencatat nya?"
Ternyata Tri belum mencatat dia harus membuat catatan dulu baru di kirim kepada ketua setelah itu dia baru lanjut istirahat.
"Huff aku tidak mau di ganggu lagi, waktu nya untuk istirahat." ucap nya langsung mematikan handphone nya.
Tidak beberapa lama karena kecapean dia sudah tidur dengan sangat nyenyak sekali.
Begitu juga dengan Anisa dan Dika. Kedua nya sama-sama lelah.
"Aku tidur duluan yah, besok aku harus ke sekolah dengan cepat." ucap Anisa. Dika mengangguk dia mencium bibir Anisa.
"Good night." ucap nya.
"Good night Baby." ucap Anisa sambil tersenyum.
__ADS_1