Kisah Anisa Di Sekolah

Kisah Anisa Di Sekolah
Episode 73


__ADS_3

"Aku baru saja bangun mah." ucap Dika.


"Oohh, kamu tidur di mana itu?" tanya mamah nya karena melihat tempat yang sedikit berbeda.


"Oohh ini di tempat teman mah." ucap Dika.


"Teman kamu suka warna pink?" tanya Mamah nya.


"Iyahh mah, dia suka warna pink." ucap dika dengan gugup karena dinding kamar.


"Oohh begitu, Mamah hanya merindukan kamu, Mamah Masih lama di sini, kamu jaga diri baik-baik yah." ucap Mamah nya.


"Baiklah lah mah." ucap Dika.


"Kamu jangan lupa sarapan sebelum berangkat bekerja." ucap Mamah nya lagi.


"Iyah mah." jawab Dika.


"Seharusnya kamu harus cepat menikah agar Mamah dan Papah tidak terlalu mengkhawatirkan kamu seperti ini." ucap mamah nya.


"Ya sudah mamah mau pergi dulu sama kakak kamu, assalamualaikum." ucap mamah nya langsung mematikan handphone nya.


"Cepat lah menikah." ucap Anisa. Dika menatap Anisa.


"Menikah lah dengan saya." ucap Dika.. Anisa terkejut.


"Kenapa kamu diam? saya serius." ucap Dika.


Anisa langsung turun dari kasur.


"Aku masih anak SMA, mana mungkin aku menikah." ucap Anisa.


"Jangan aneh-aneh deh, aku mau mandi dulu." ucap Anisa.


Setelah Anisa selesai Dika gantian mau mandi.


"Kamu sedang apa?" tanya Dika melihat Anisa di dapur.


"Kakak tenang saja, aku tidak akan memasak karena aku tidak bisa, aku hanya bisa membuat roti bakar untuk sarapan kita." ucap Anisa.


"Kamu tidak perlu melakukan ini, saya akan melakukan nya untuk kamu." ucap Dika.


"Kakak meminta ku untuk selalu belajar mandiri, ini waktu nya aku belajar mandiri. Apa aku salah?" ucap Anisa.


Dika menggeleng kan kepala nya. "Kakak duduk saja di sana, aku akan membuat kan di atas meja.


Mereka sarapan sama-sama.


"Baju saya kenapa bau parfum kamu?" tanya Dika mencium baju nya.


"Kakak gak suka yah? Aku tidak memiliki pewangi pakaian, itu sebabnya aku menyemprotkan parfum ku." ucap Anisa.


"Saya suka." ucap Dika sambil menatap Anisa.


"Hummm..." Anisa langsung menunduk kan pandangan nya karena malu.

__ADS_1


Dika menyuapi roti ke mulut Anisa. Anisa memakan nya dengan lahap.


"Apa kali ini kamu juga tidak ingin berangkat dengan saya?" tanya Dika..Anisa melihat mobil mewah Dika.


Anisa menggeleng kan kepala nya.


"Kenapa? Apa kamu masih marah kepada saya?" tanya Dika.


"Aku tidak ingin berangkat dengan bapak karena aku ingin bawa mobil sendiri, nanti kalau pulang sekolah Bapak tidak perlu mengantarkan aku, Bapak bisa langsung berangkat ke kantor." ucap Anisa.


Dika menghela nafas panjang. "Ini belum di sekolah, kenapa kamu harus memanggil sebutan Bapak?" ucap Dika. Anisa tersenyum.


"Maafin aku, tapi aku harus berangkat sekarang." ucap Anisa langsung masuk ke dalam mobil nya.


Hari ini semua nya berjalan seperti biasa, Dika dan Anisa berpura-pura tidak ada hubungan apapun.. Anisa selalu menghindar dari Dika agar orang lain tidak curiga.


Di sore hari nya Dika sedang duduk bersama teman nya di lobby perusahaan nya.


"Akhir-akhir ini loe sangat sibuk. Punya kesibukan apa sih bro?" tanya teman nya kepada Dika.


"Kamu sudah tau lah." ucap Dika.


"Loe benaran jadi guru di sekolah perempuan yang loe taksir itu?" tanya teman nya.


Dika menganguk sambil tersenyum.


"Benar-benar loe yah, hanya karena anak SMA rela membagi waktu tidak memiliki waktu istirahat." ucap teman nya.


Dika tersenyum. "Tunggu dulu nih, baru tiga bulan kita tidak bertemu namun sudah ada yang berbeda, gw bisa tebak kalau loe Udah dapat tu perempuan kan?" tanya Ohan.


Yohan menggeleng kan kepala nya sambil bertepuk tangan.


"Benar-benar sangat luar biasa. Setelah ini loe meninggalkan dia seperti mantan loe sebelumnya." ucap Ohan.


Dika menggeleng kan kepala nya.


"Yang ini tidak mungkin. Gw menemukan jati diri gw yang sebenarnya sekarang. gw serius dengan perempuan ini." ucap Dika.


"Huff sudah lah Dika, kamu rugi waktu rugi uang tetap saja kalau sudah bosan kamu akan meninggalkan dia." ucap Ohan.


"Kalau tidak percaya, lihat saja." ucap Dika.


Cukup lama mereka berbincang-bincang. Cukup lama juga mereka membicarakan tentang Anisa.


"Pak Dika, ada telpon." ucap sekretaris nya.


"Dari siapa?" tanya Dika. Sekretaris nya memberikan kepada Dika. Seketika Dika tersenyum melihat nama Anisa.


Sekretaris dan Ohan hanya bisa senyum-senyum melihat Dika langsung menghindar.


"Halo... Tumben sekali kamu menelpon saya, apa kamu sudah sangat merindukan saya?" tanya Dika.


"Huff jangan lebay dulu deh.. Aku hanya ingin bertanya tanggal ujian kapan?" tanya Anisa.


Dika menghela nafas panjang. "Kamu bisa melihat di group." ucap Dika.

__ADS_1


"Oohh oke baiklah." ucap Anisa.


"Hanya itu saja?" tanya Dika.


"Humm hanya itu saja, apa kakak sedang bekerja? Apa aku mengganggu? Maafin aku." ucap Anisa.


"Kamu sekarang di mana?" tanya Dika.


"Aku lagi ada di toko buku. Aku membeli buku yang kemarin kakak suruh pelajari." ucap Anisa.


"Baiklah kalau begitu segera lah pulang kalau sudah selesai." ucap Dika. "Baiklah." ucap Anisa langsung mematikan sambungan telepon.


"Nih anak Benar-benar.. Bisa-bisa nya dia tidak memberikan kata semangat, atau menanyakan kapan pulang." batin Dika.


"Bro loe mau ikut bergabung nanti malam tidak?" tanya Ohan.


"Ada acara apa?" tanya Dika.


"Biasa lah bro, menghilangkan penat badan." ucap Ohan.


Dika sudah lama tidak minum-minum akhirnya dia mau ikut.


Selepas pulang kerja dia langsung menyusul teman-teman nya yang sudah ada di bar.


Anisa baru saja selesai mandi karena baru pulang. Dia melihat handphone nya hidup.


"Maaf yah malam ini saya tidak bisa pulang cepat..Kamu belajar sendiri." ucap Dika.


"Seperti nya dia sangat sibuk di kantor nya." batin Anisa.


"Baiklah." Hanya itu balasan dari dia.


Anisa belajar sendirian setelah selesai mandi.


"Huff ternyata belajar sendiri tidak betah," ucap Anisa bersandar.


Dia menutup bukunya dan menghidupkan TV, dia lebih memilih menonton tv dari pada belajar, karena pikiran nya hanya pada Dika.


Lagi-lagi dia ketiduran di sofa sehingga tidak sadar sudah pagi, dia melihat Dika tak kunjung datang.


"Mungkin Kak Dika kembali ke apartemen nya." batin Anisa. Karena tidak sabar ingin bertemu Dika dia langsung mandi, dia berdandan tipis.


"Pak Dika tidak berhenti mengikuti aku sehingga aku tidak fokus berfikir." ucap Anisa sambil tersenyum. Sudah rapi dia keluar dari kamar nya.


Dia melihat mobil masuk ke halaman rumah nya ia tersenyum karena berfikir itu adalah Dika.


Namun setelah keluar ternyata itu adalah Arya.


"Pagi Anisa." ucap Arya.


Anisa tersenyum terpaksa.


"Pagi juga, kamu ngapain ke sini pagi-pagi?" tanya Anisa.


"Aku ke sini mau jemput kamu lah. Kamu ikut dengan aku yah." ucap Arya.

__ADS_1


__ADS_2