Kisah Anisa Di Sekolah

Kisah Anisa Di Sekolah
Tamat...


__ADS_3

"Baiklah kalau begitu, kalau kamu tidak mau pergi. Saya juga tidak bisa memaksa kan kamu." ucap Marsel dengan suara yang sangat lesu dan duduk di sofa.


Tri menghela nafas panjang dan masuk ke kamar nya.


Di kamar dia terdiam sejenak dia memikirkan apa yang sudah dia katakan dan mengingat wajah Marsel yang benar-benar sangat lesu tadi nya.


"Apa yang aku katakan keterlaluan?" ucap Tri.


"Aku tidak boleh lemah, aku harus tegas agar pak Marsel tidak semena-mena kepada ku!" ucap Tri.


Hari semakin sore, Tri melihat ke jam dinding.


"Huff kok pak Marsel diam saja sih? Dia kok gak ngajakin?" ucap nya kebingungan.


Akhirnya dia memutuskan untuk keluar dia sangat kaget melihat Marsel di balik pintu.


"Saya mau pergi ke rumah keluarga saya." ucap Marsel.


"Owh begitu." ucap Tri.


"Iyah." ucap Marsel dia pun pergi.


"Bapak pergi sendiri saja?" tanya Marsel.


"Saya tidak akan memaksa kamu." ucap Marsel.


Tri menghela nafas panjang. Marsel pun pergi sendirian.


Tidak beberapa lama Marsel sampai di rumah keluarga nya. Lebih tepatnya di rumah neneknya.


"Loh kok kamu datang sendirian?" tanya Nenek nya.


"Hummm."


"Assalamualaikum." Tiba-tiba Tri datang. Semua mata tertuju kepada Tri. Begitu juga dengan Marsel.


"Maaf saya datang tidak bersama Marsel karena ada urusan sebentar." ucap Tri.


"Kamu yang bernama Tri?" tanya Nenek nya Marsel.


Tri mengangguk. Tiba-tiba nenek nya memeluk Tri dan menangis.


Semua keluarga tersenyum. Sementara Tri bingung.


"Kamu sangat mirip sekali dengan almarhum Mamah nya Marsel." ucap Nenek Marsel.


Tri tersenyum saja.


Melihat keluarga Marsel sangat merindukan sosok mamah nya Marsel yang mirip kepada nya membuat dia pasrah.


Dia juga bahagia melihat mereka bahagia melihat dia.


"Jadi benar kamu adalah calon istri nya Marsel? Nenek ini segera kamu menikah dengan Marsel, jangan menunda-nunda lagi." ucap Nenek nya.


"Nek..." ucap Marsel mau meluruskan namun Langsung di potong oleh Tri.


"Iyah Nek, itu semua tergantung Marsel kok, aku mau menikah Kapan saja." ucap Tri.


"Minggu depan." ucap Tante Marsel. Semua nya langsung setuju. Tri kaget namun dia berusaha untuk tersenyum.


setelah acara makan malam selesai mereka pamit pulang.


Tidak ada percakapan di perjalanan pulang. Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah.


Tri mendekati Marsel yang hendak ke kamar.


"Aku minta maaf tiba-tiba datang." ucap Tri. Marsel berbalik dia menatap Tri.


"Kenapa kamu mengatakan hal seperti itu kalau kamu terpaksa." ucap Marsel. Tri menggeleng kan kepala nya.


"Aku mengatakan itu karena mengikuti kata hati ku. Aku akan menjalani nya. Ini sebagai tanda terima kasih karena bapak sudah banyak membantu ku." ucap Tri.


"Semua nya imbang, Bapak menikahi ku karena mirip almarhum Mamah bapak, aku mau menikah karena tanda terima kasih." ucap Tri.


Marsel menggeleng kan kepala nya. "Kamu pikir menikah dengan alasan seperti itu akan bahagia? Saya meminta kamu menjadi istri saya bukan hanya karena mirip dengan Mamah, karena saya nyaman, saya mencintai kamu Tampa alasan, ternyata kamu berfikir berbeda kepada saya." ucap Marsel.


Dia terlihat sangat kecewa. Tri menahan baju Marsel di saat Marsel mau pergi.


"Maafin aku kalau aku berbicara hal seperti itu, aku tidak yakin kalau orang seperti bapak mencintai perempuan seperti aku." ucap Tri.


Marsel Menatap wajah Tri.

__ADS_1


"Saya akan membuktikan nya." ucap Marsel. Tri terdiam.


"Sekarang kamu jujur saja kalau sebenernya kamu juga mencintai saya kan?" ucap Marsel. Tri langsung mengalihkan pandangannya, namun Marsel memaksa untuk menatap nya.


"Jawab dengan jujur." ucap Marsel. Tri mengangguk sambil tersenyum. "Iyah.." jawab Tri.


"Karena apa kamu mencintai saya?" tanya Marsel.


"Karena tampan dan kaya." ucap Tri.


Marsel tiba-tiba mencubit hidung tri.


"Huff tidak apa-apa, setidaknya kamu mencintai saya." ucap Marsel. Tri tersenyum.


Di tempat lain di dalam kamar Anisa dia sedang menghapusi semua foto-foto nya bersama Dika dengan Air mata mengalir di pipinya.


Di tempat lain Dika duduk di balkon kamar nya di rumah Lita.


"Papah..." panggil Boni.


"Iyah kenapa nak?" tanya Dika.


"Mamah sakit." ucap Boni. Dika langsung keluar dari kamar dan melihat Lita.


"Kamu kenapa?" tanya Dika.


"Gak tau kenapa jantung ku tiba-tiba sakit." ucap Lita.


"Kita ke rumah sakit." ucap Dika. Lita menggeleng kan kepala nya.


"Tidak perlu.." ucap Lita.


Namun Dika langsung menggendong nya keluar dan membawa ke rumah sakit.


Satu Minggu kemudian...


Hari H pernikahan Marsel dengan Tri.


"Aku tidak menyangka kalau akhirnya kamu menjadi kakak ipar ku." ucap Anisa kepada Tri.


Tri tersenyum.


"Kakak kamu memaksa ku." ucap Tri.


"Kakak sudah sangat mencintai Tri. Kakak tidak akan melepaskan nya." ucap Marsel. Tri tersenyum begitu juga dengan Anisa.


"Ya udah kalau begitu ayo kita foto." ucap Anisa.


Setelah selesai berfoto Anisa turun dari pelaminan.


Ayah nya Tri datang. Marsel langsung berdiri mengucapkan terimakasih. Ayah nya Tri juga memberikan nasehat kepada mereka berdua.


Anisa sedang duduk sendiri namun terkejut karena melihat Dika datang bersama Boni.


"Tante Anisa." ucap Boni dia langsung berlari kepada Anisa.


Anisa tersenyum. "Sudah lama kita tidak bertemu, apa kabar?" tanya Anisa kepada Dika.


Dika tersenyum. "Seperti yang kamu lihat." ucap Dika. Anisa tersenyum.


"Tante sehat kan? Kenapa kelihatan nya Tante semakin kurus. Tapi semakin cantik." ucap Boni.


"Humm kamu bisa saja." ucap Anisa.


"Kamu sehat kan?" tanya Dika.


Anisa mengangguk.


"Ya sudah kalau begitu saya ke depan dulu. Ayo Boni." ajak Dika. Boni menggeleng kan kepala nya.


"Aku mau sama Tante Anisa boleh pah?" tanya Boni.


Dika mengangguk.


Dika pergi. Anisa melihat orang tua Dika datang. Dia menyusul Anisa.


"Bu, pak." sapa Anisa.


"Apa kabar dengan kamu?" tanya orang tua Dika. Anisa menjawab dengan santai walaupun sebenarnya dalam hati nya sedikit takut.


"Apa kamu tau kalau Mamah nya Boni sudah meninggal dunia?" tanya Mamah nya Dika.

__ADS_1


Anisa terdiam dia sangat kaget seperti tidak percaya.


Tidak beberapa lama acara selesai Anisa menemui Dika dan Boni di depan gedung.


"Sudah mau pulang?" tanya Dika kepada Anisa. Anisa mengangguk.


"Ya Allah aku sangat merindukan sosok pria yang sudah sangat berarti, sudah sangat aku cintai selama ini." ucap Anisa dalam hati Menatap Dika.


Dika begitu juga menatap Anisa. "Kenapa ini semua harus begitu Sulit, ini semua salah ku." ucap Dika dalam hati.


Beberapa bulan kemudian...


Anisa sudah tamat dari SMA nya dia memiliki nilai yang sangat bagus.


"Anisa kamu di cari seseorang." ucap guru nya. Anisa yang sedang asik bersama teman-teman nya di hari perpisahan bingung karena tidak biasa nya.


Dia berjalan ke depan namun tidak dengan bertemu dengan Arya dan Putri yang sedang pacaran.


"Huff lihat tempat dong kalau pacaran, hargai yang jomblo." ucap Anisa. Mereka berdua tersenyum.


"Kamu mau kemana?" tanya Arya.


"Kata guru ada yang mencari ku di depan, aku lihat sebentar yah." ucap Anisa.


Anisa sudah di depan dia melihat Dika sedang memegang bunga tersenyum kepada nya. Begitu juga dengan Boni di samping nya sambil memegang bunga.


"Kak Dika, Boni, apa yang kalian lakukan di sini?" ucap Anisa.


Beberapa bulan ini hubungan Dika dengan Anisa sudah baik, namun tidak balikan, hanya karena Boni mereka bisa kembali dekat.


"Saya dan Boni ke sini datang mau mengucapkan selamat atas kelulusan nya." ucap Dika.


"Ya ampun ini berlebihan sekali, ini hanya lulusan SMA bukan Wisuda." ucap Anisa.


"Kami datang bukan hanya itu saja Tante, Aku datang ingin meminta Tante menjadi mamah ku, menjadi istri Papah." ucap Boni sambil memberikan kotak cincin.


Anisa terkejut. Dia menatap Dika yang malu-malu.


"Papah malu, dia takut di tolak, aku mohon jangan di tolak." ucap Boni.


"Tante tidak mau menikah dengan pria yang tidak pemberani." ucap Anisa.


Dika menatap wajah Anisa. "Anisa.. Kamu mau kan menikah dengan saya? Jadi mamah nya Boni." ucap Dika.


Anisa berfikir sejenak dia membuat Dika deg-degan.


"Iyah aku mau." ucap Anisa. Dika langsung memeluk Anisa.


Tiba-tiba satu sekolah memberikan tepuk tangan yang sangat meriah membuat Anisa kaget.


Dika memasang kan cincin di jari Anisa. Boni ikut senang juga.


Dika membawa Anisa ke rumah orang tua nya. Ternyata orang tua nya sudah langsung setuju dan mengatur pertunangan mereka.


"Malam ini kamu nginap di sini saja yah." ucap Dika. Anisa menggeleng kan kepala nya.


"Aku tidak enak sama Mamah dan papah nya kakak. sebaiknya aku pulang saja ke rumah." ucap Anisa.


"Saya masih sangat merindukan kamu." ucap Dika.


"Kalau begitu ikut lah ke rumah ku." ucap Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya.


"Saya sungkan kepada mamah dan papah kamu, mereka pasti di rumah kamu karena sebentar lagi acara pertunangan kita." ucap Dika.


"Sabar yah sampai kita menjadi halal." ucap Anisa. Dika menghela nafas panjang.


"Ekhem-ekhem... apa yang kalian lakukan?" ucap papah nya Dika lewat bersama Boni. Dika langsung menjaga jarak.


Beberapa Minggu kemudian mereka bertunangan, Minggu depan nya langsung menikah.


Anisa sudah menemukan kebahagiaan nya, dia sudah tidak lagi sendiri, kesepian sekarang keluarga nya kembali kepada nya, semua yang sedih sudah dia lewati.


Anisa juga menemukan pria yang sangat hebat, pria yang mencintai dia dan dia cintai. Hidup nya benar-benar berubah setelah menikah.


Walaupun sambil kuliah dia meluangkan waktu untuk Suami nya.


"Sayang.. Lihat deh "' ucap Anisa membangun kan suami nya yang masih tidur bersama Boni.


Dika membuka mata nya dia melihat alat tes kehamilan garis dua di tangan Anisa.


Dia menoleh ke arah Anisa.

__ADS_1


"Kamu hamil?" tanya Dika. Anisa mengangguk.


"Alhamdulillah.." Dika sangat senang sampai bersujud, setelah beberapa bulan akhirnya Anisa hamil.


__ADS_2