Kisah Anisa Di Sekolah

Kisah Anisa Di Sekolah
Episode 145


__ADS_3

Dika menggeleng kan kepala nya. "Tidak lah semudah itu, saya sudah tidak ingin membahas tentang itu lagi.. Sebaiknya kita kembali ke rumah." ucap Dika.


Anisa menghela nafas panjang.


"Maafkan saya.." ucap Dika tidak meletakkan Kepalanya di pundak Anisa.


"Kenapa?" tanya Anisa.


"Karena saya, kamu jadi terlibat seperti ini. Saya tidak rela melihat kamu di sentuh oleh Heri." ucap Dika.


"Aku juga yang salah tidak bisa menjaga diri, sudah-sudah jangan merasa bersalah seperti itu." ucap Anisa mengelus rambut Dika


Dika tersenyum dia mencium pipi Anisa.


"Sebaik nya kita pulang saja." ucap Anisa. Dika mengangguk.


Setibanya di rumah Anisa kaget melihat Kakak nya Marsel sudah ada di depan rumah Dika.


Melihat Marsel dan Dika datang Marsel langsung menghampiri mereka berdua.


"Kak Marsel, kenapa kakak bisa di sini?" tanya Anisa.


Marsel menatap Dika. Dia langsung menarik Anisa ke belakang nya.


"Berengsek kamu! Bisa-bisa nya kamu membiarkan adik ku datang ke sini sendiri an mendatangi pria pengecut seperti kamu!" ucap Marsel menarik baju Dika.


"Kak! Kak Marsel." ucap Anisa.


"Maafin saya kak." ucap Dika.


"Tidak cukup hanya maaf, saya awalnya percaya kepada kamu untuk menjaga Anisa. Namun ternyata saya salah!" ucap Marsel mendorong Dika.


"Sekarang kamu Pulang Anisa. Untuk apa bersama pria yang tidak bertanggung jawab seperti dia." ucap Marsel.


"Dan untuk kamu, jangan pernah lagi datang mencari Anisa, saya tidak akan pernah mengijinkan kamu berhubungan dengan adik saya." ucap Marsel kepada Dika.


Dika langsung berdiri. "Maafin saya Kak, saya minta maaf.. tapi saya mohon jangan melarang saya bersama Anisa, saya sangat mencintai Anisa." ucap Dika.


"Kalau kamu mencintai nya dengan tulus tidak mungkin kamu meninggalkan dia!" ucap Marsel.


"Saya memiliki alasan sendiri kak, tapi saya mohon jangan melarang dan memutuskan hubungan saya dengan Anisa." ucap Dika memohon.


Namun Marsel tetap marah. "Saya tidak bisa percaya kepada pria seperti kamu yang sudah pernah gagal dan sekarang mau mempermainkan adik saya!" ucap Marsel.

__ADS_1


"Kak bukan seperti itu kak, aku mohon jangan salah paham." ucap Anisa.


"Berhenti membela dia Anisa! Pikiran kamu sudah di cuci oleh dia sehingga kamu nekad kabur dari rumah." ucap Marsel.


"Kakak mau kamu pulang sekarang, kakak datang menjemput kamu dan jangan pernah berhubungan lagi dengan dia." ucap Marsel.


Anisa menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak mau kak, aku mau bersama dengan kak Dika." ucap Anisa.


"Anisa! Jangan keras kepala kamu!" ucap Marsel.


"Kak! saya mohon biarkan Anisa bersama saya, saya akan membawa nya pulang." ucap Dika.


Marsel melihat Anisa langsung memeluk Dika.


Marsel bingung harus mengatakan apa.


"Ada apa ini Rame-rame di luar? Ayo masuk dulu ke dalam tidak enak di lihat oleh banyak orang." ucap Mamang yang baru saja datang.


Mereka masuk ke dalam.


"Jadi ceritanya bapak Ini datang mau menjemput non Anisa?" tanya Mamang. Marsel mengganguk.


"Tapi aku akan pulang besok dengan Kak Dika Mang." ucap Anisa.


"Anisa.. kamu masih muda, kenapa kamu lebih memilih bertahan dengan pria seperti dia?" ucap Marsel.


Marsel menghargai Mamang yang tua di sana, akhirnya dia berusaha menahan emosi nya berfikir tentang adiknya.


"Baiklah, untuk kali ini kakak akan membiarkan kamu dengan Dika, namun bukan berarti kakak memberikan ijin kalian memiliki hubungan lagi." ucap Marsel.


Anisa dan Dika Hanya bisa diam.


"Pak Marsel pasti sangat lelah sekali, bagaimana kalau Pak Marsel istirahat terlebih dahulu di kamar tamu." ucap Mamang.


"Tidak perlu mang, saya langsung pulang saja." ucap Marsel.


"Pantangan masuk ke kota ini adalah baru datang langsung pulang, setidaknya menginap lah satu malam saja setelah itu lakukan perjalanan lagi." ucap Mamang.


Marsel menghela nafas panjang akhirnya dia mau.


"Mari saya antar pak." ucap Mamang.


Marsel menoleh ke arah Anisa dan Dika yang hanya diam saja karena sudah takut.

__ADS_1


"Sudah-sudah tidak apa-apa.." ucap Dika mengelus kepala Anisa yang mau menangis. Anisa menatap Dika.


"Maafin saya, ini semua karena saya." ucap Dika memeluk Anisa.


"Aku tidak mau berpisah dari kakak, aku sangat mencintai Kakak, aku takut sekali kalau kak Marsel melarang aku bersama kakak." ucap Anisa.


"Saya akan berusaha untuk membuat kak Marsel percaya kepada saya, kamu tidak perlu khawatir karena kita akan terus bersama." ucap Dika.


Anisa tersenyum sambil mengangguk.


"Lain kali kalau non Anisa mau kemana-mana harus ijin dulu, kelihatan nya Pak Marsel hanya khawatir saja, itu sebabnya dia marah'." ucap Mamang.


"Kalau aku ijin kak Marsel tidak akan mengijinkan nya mang." ucap Anisa. Mamang terdiam. "Ya sudah kalau begitu Mamang mau mandi dulu." ucap Mamang.


Di malam hari nya mereka makan malam sama-sama. Tidak ada percakapan sama sekali.


"Kamu semakin kurus, makan lah yang banyak." ucap Marsel kepada Anisa.


Anisa mengangguk. Dika menghela nafas panjang karena Marsel seperti nya menyindir dia dari tadi.


"Kakak malam ini menginap di sini kan?" tanya Anisa. Marsel mengganguk.


"Kakak sudah memutuskan untuk kembali bersama kamu dan juga Dika. Kakak ragu kalau Dika tidak jadi pulang membawa kamu. Secara dia kan tidak bertanggung jawab." ucap Marsel.


"Kak Marsel.. Berhenti lah berbicara tentang kak Dika seperti itu. dia tidak lah bermaksud seperti itu." ucap Anisa.


"Humm iyalah. Kamu selalu membela dia.. Kalau mungkin ada pilihan mendadak si suruh memilih Dika atau kakak, kamu pasti akan memilih dia." ucap Marsel.


Anisa tersenyum. "Kamu Tidur lah, istirahat yang banyak, maafin kakak datang-datang ke sini langsung marah." ucap Marsel.


Anisa mengangguk dia langsung memeluk kakak nya.


"Papah sangat mengkhawatirkan kamu, dia meminta kakak segera membawa kamu kembali dengan Selamat." ucap Marsel.


"Kenapa papah bisa tau?" tanya Anisa.


"maafin kakak, kakak pikir dengan cara memberi tau papah bisa membantu mencari kamu kemana, dan ternyata sekarang Papah sakit karena bergadang dan kecapekan mencari kamu." ucap Marsel.


"Ya ampun." ucap Anisa dia jadi sangat khawatir. Marsel melihat wajah Khawatir Anisa membuat nya tersenyum.


"Kenapa kakak tersenyum? Apa kakak berbohong? kakak membohongi aku?" tanya Anisa.


Marsel menggeleng kan kepala nya. "Kakak tersenyum karena tidak pernah kamu sekhawatir ini kepada papah." ucap Marsel.

__ADS_1


"Kak Dika pernah bilang kalau mereka tetap lah orang tua ku walaupun banyak sudah kesalahan yang mereka buat, dia juga bilang kalau aku boleh marah tapi jangan lama-lama." ucap Anisa.


Marsel menghela nafas panjang. "Dika lagi yang berhasil menasehati kamu, seandainya saja kakak yang menasehati kamu, tidak mungkin lah kamu mau mendengarkan nya." ucap Marsel.


__ADS_2