
"Kakak malam-malam ke sini ngapain? kenapa tidak mengabari aku?" ucap Anisa.
Dika menghela nafas panjang.
"Ambil ini dulu." ucap Dika memberikan Paper bag yang begitu banyak kepada Anisa.
"Apa ini?" tanya Anisa.
"Ini adalah barang-barang yang kamu minta." ucap Dika.
"Barang-barang yang aku minta?" ucap Anisa bingung.
Dia melihat semua isinya dan sangat terkejut ternyata semua yang pernah dia katakan kepada Dika dan benar saja semua nya mahal-mahal.
"Ini Seriusan untuk aku?" tanya Anisa.
Dika menganguk. "Akhir-akhir ini kita berdua sama-sama sibuk, jadi saya berinisiatif meminta Sekretaris perempuan saya untuk memilih ini semua.. Kalau kamu tidak suka saya akan membeli yang kamu suka." ucap Dika.
Anisa melihat semua nya benar-benar bermerk dan juga jam tangan yang dia minta. "Wahh bagus banget sih, ini yang aku minta." ucap Anisa.
"Bagus deh kalau kamu suka, saya senang kalau kamu suka." ucap Dika, Anisa tersenyum.
Dia melihat semua barang-barang itu.
"Oh iya aku juga punya sesuatu untuk kakak, kakak tunggu di sini dulu." ucap Anisa meninggalkan Dika sebentar dan tidak beberapa lama kembali membawa kotak yang kecil.
"Ini." ucap Anisa. "Apa ini? Jam tangan?" tanya Dika karena sudah tau dari tempat nya. Anisa menganguk.
"Aku sengaja mencari yang sesuai dengan kakak, jam tangan yang cocok untuk Pria dingin, aneh dan juga tampan." ucap Anisa.
Dika tertawa kecil.
Anisa membuka nya.
"Mana tangan kakak?" ucap Anisa. Dika memberikan Pergelangan nya. Anisa menghela nafas panjang melihat jam tangan yang ada di tangan Dika.
"Kamu marah karena saya memakai jam tangan yang di berikan oleh Rida?" tanya Dika. Anisa Diam.
"Kamu sudah tau Alasan saya memakai ini bukan?" ucap Dika.
Anisa mengingat beberapa hari yang lalu. Anisa marah-marah karena Dika memakai nya, namun setelah tau kalau Rida membeli jam tangan itu menabung, dia hanya ingin memberikan tanda terimakasih kepada Pak Dika sebelum ujian.
Anisa mencoba untuk bersifat dewasa.
"Dia sudah melihat kakak memakai jam tangan ini, sekarang kakak sudah punya dari aku." ucap Anisa membuka jam itu dan memasang kan pembeli an nya sendiri.
__ADS_1
Dika melihat jam tangan hitam itu sangat cocok di kulit dan juga dia suka.
"Aku ingin kamu terus melihat jam, agar tidak lupa waktu istirahat, makan minum, terutama adalah agar tidak lupa kepada ku." ucap Anisa.
dika tersenyum. "Mana mungkin saya lupa kepada kamu Anisa, kamu adalah kehidupan saya sekarang." ucap Dika. "Huff sungguh Pria yang bermulut buaya." ucap Anisa.
Dika menghela nafas panjang. "Kamu harus percaya kepada saya, kalau saya tidak akan pernah meninggalkan kamu. Tidak mungkin saya meninggalkan kamu." ucap Dika.
"Bagus deh kalau begitu, aku senang mendengar nya." ucap Anisa.
"Kamu sudah makan?" tanya Dika. Anisa menganguk.
"Sudah kok. Kakak sendiri? Apa mau aku buatin kopi?" tanya Anisa.
"Boleh juga." ucap Dika. Anisa langsung ke dapur membuat kopi untuk Dika. Tidak beberapa lama dia kembali ke meja ruang tamu.
"Beberapa hari lagi ujian, saya ingin kamu lebih fokus, kamu jangan banyak memikirkan hal yang membuat kamu stress." ucap Dika.
Anisa tersenyum.
"Iyah pak guru ku. Aku tau kok, bawel banget." ucap Anisa.
"Saya serius Anisa. Saya adalah orang yang paling kecewa kalau melihat nilai kamu jelek." ucap Dika.
"Kalau nilai kamu Bagus, saya akan memberikan apapun yang kamu minta kepada saya." ucap Dika.
"Sungguh?" tanya Anisa, Dika menganguk.
"Baiklah kalau begitu, aku akan berusaha lebih keras lagi." ucap Anisa. Dika tersenyum.
"Tapi saya yakin kamu pasti bisa, karena saya adalah guru nya." ucap Dika. "Humm sangat percaya diri sekali." ucap Anisa.
"Malam ini aku tidak belajar lagi karena semua buku nya sudah selesai aku baca, aku harap aku masih bisa mengingat yang aku pelajari." ucap Anisa.
"Kalau begitu kamu istirahat lah." ucap Dika.
"Kakak mau langsung pulang juga?" tanya Anisa, Dika menggeleng kan kepala nya. "Saya tidak pulang hari ini. Saya boleh kan menginap di sini?" tanya Dika.
"Boleh kok." ucap Anisa.
"Kalau begitu aku membuat tempat tidur nya dulu." ucap Anisa. Dika juga ijin ke kamar mandi.
Tidak beberapa lama Dika kembali. Dia sudah memakai pakaian biasa.
"Huff akhirnya saya bisa meluruskan punggung saya." ucap Dika langsung tidur.
__ADS_1
"Aku belum selesai." ucap Anisa. "Tidak perlu terlalu rapi." ucap Dika. Anisa menghela nafas.
"Ya udah, kakak tidur lah." ucap Anisa tersenyum. Dika menatap wajah Anisa.
"Kamu mau membicarakan apa? kenapa kelihatan nya kamu terlihat sangat terbebani?" tanya Dika.
"Aku mau minta maaf tentang kemarin." ucap Anisa. Dika mengusap wajah nya.
"Kamu seperti melakukan kesalahan-kesalahan yang begitu banyak sampai kamu meminta maaf beberapa kali kepada saya." ucap Dika.
"Tapi kali ini aku benar-benar mau minta maaf, kamu pasti pada saat itu kebingungan..Kamu pasti marah dan juga sakit hati." ucap Anisa.
Dika membawa Anisa berbaring di lengan nya. Dika mengelus kepala Anisa.
Tidak mengatakan apapun dia mencium kening Anisa memeluk nya dan dia tertidur.
"Loh kok Malah tidur sih?" ucap Anisa. Dia mau pergi namun di tahan oleh Dika.
"Kamu jangan kemana-mana, kalau kamu mau saya maaf kan, temanin saya tidur malam ini." ucap Dika.
Akhirnya Anisa tidur dengan Dika di ruang tamu.
Tidur mereka berdua begitu nyenyak sekali.
"Mamah." panggil papah nya Dika mencari istri nya. Dan ternyata istri nya Duduk di luar sendiri.
"Mah, kenapa Mamah duduk di sini sendirian? Ini sudah malam, Sudah sangat dingin, ayo kita masuk."
Mamah nya Dika menggeleng kan kepala nya.
"Mamah mau di sini saja." ucap Mamah nya.
"Mau sampai kapan Mamah seperti ini? Sampai kapan mamah termenung seperti ini?" tanya suaminya.
"Pah, Mamah hanya ingin Dika menikah dengan perempuan yang baik seperti Gisel. Jangan Anisa. Dia adalah perempuan yang tidak tau sopan santun."
"Ya ampun mah, hanya hal seperti ini bisa di Bicarakan, Mamah tidak harus seperti ini." ucap Suami nya.
"Mamah hanya tidak ingin Dika gagal lagi Pah, Mamah sangat trauma. itu sebabnya Mamah ingin mencari calon istri yang baik untuk nya.. Menurut mamah Gisel itu baik."
"Dika sudah tau yang terbaik untuk dia mah, kita orang tua hanya bisa mendukung, mengarah kan ke jalan yang baik." ucap suami nya.
"Papah tidak akan mengerti apa yang Mamah pikir kan, mamah Kesal sama papah." mamah nya Dika langsung pergi meninggalkan suami nya dengan wajah yang begitu marah sekali.
Papah nya Dika hanya bisa mengelus dada nya menghadapi sifat istri nya yang menurut nya sudah seperti anak kecil.
__ADS_1