Kisah Anisa Di Sekolah

Kisah Anisa Di Sekolah
Episode 118


__ADS_3

"Apa ini?" tanya Anisa.


"Buka saja." ucap Candra. Setelah di buka ternyata isi boneka kecil.


Anisa sangat suka sekali. Namun Candra salfok dengan jari manis Anisa.


"Mana cincin yang aku kasih? Kenapa kamu tidak memakai nya?" tanya Candra.


Anisah gugup. "Kamu membuang nya yah? Kamu tidak suka? Kalau kamu tidak suka tidak harus membuang nya, kamu tidak menghargai aku sedikit Pun!" ucap Candra.


"Enggak kok, aku memasukkan nya ke dalam tas ku karena takut hilang, cincin itu lumayan kebesaran di tangan ku." ucap Anisa.


Anisa mengeluarkan dari tas nya dan memasang di cincin nya. "Nah gitu dong, kalau seperti ini kamu cantik." ucap Candra.


Anisa tersenyum. "Aku temanin mereka main dulu yah." ucap Anisa. Candra mengganguk.


Candra diam-diam mengambil video dan membuat Story akun media sosial nya.


"Calon keluar yang bahagia." caption dari Story Candra.


Dika yang sudah sampai di apartemen nya melihat postingan Candra. Kekhawatiran dan ketakutan Dika semakin besar.


Dia mau marah, namun bingung mau kepada siapa, dia memegang kepala nya yang terasa sangat sakit sekali.


Tidak terasa sudah malam, Putri, Candra mengantarkan Anisa dan Boni pulang ke rumah.


"Aku pamit pulang yah." ucap Candra kepada Anisa yang mengantarkan nya ke Depan.


"Baiklah kamu hati-hati." ucap Anisa. Candra mengganguk dia memeluk Anisa.


"Aku minta maaf atas semua kesalahanku kepada kamu, semoga saja hubungan kita segera membaik, aku tidak mau semakin jauh dari kamu, aku sangat lah mencintai kamu." ucap Candra.


Anisa membalas pelukan Candra.


"Kalau seperti ini aku sangat sulit untuk memilih, aku benar-benar sangat sulit memilih antara Kak Dika dengan Candra. Aku sama-sama mencintai mereka." ucap Anisa dalam hati.


"Ya sudah kalau begitu aku pamit dulu yah." ucap Candra. Setelah Candra pergi. Putri langsung menghampiri Anisa.

__ADS_1


"Aku langsung pulang juga yah." ucap Putri. Anisa menahan tangan Putri.


"Jangan pulang dulu, aku mohon." ucap Anisa.


"Aku mesti ngapain lagi di sini?" tanya Putri. "Kamu sengaja menghindari aku agar tidak mendengar kan curhatan ku kan?" tanya Anisa.


Putri diam. "Iyah aku tau kalau pasti akan menyalah kan aku, tapi aku mengikuti semua nya sesuai keadaan, sesuai hati ku." ucap Anisa.


"Yahh kalau begitu, itu arti nya kamu harus berani juga mengambil keputusan." ucap Putri.


"Sekarang ini kamu dengan pak Dika marahan, sementara dengan kak Candra kamu berpura-pura semua nya baik-baik saja." ucap Putri.


"Aku tidak tau harus melakukan apa." ucap Anisa.


"Kamu harus memilih salah satu di antara mereka, kamu tidak boleh egois Anisa, kamu jangan membiarkan masalah ini semakin dalam." ucap Putri.


"Aku menginginkan kak Dika dan Candra, aku membutuhkan mereka." ucap Anisa. "Tidak bisa seperti itu Anisa, kamu harus dewasa, kamu juga harus tegas." ucap Putri.


Anisa menghela nafas panjang. "Aku mohon bantu aku mencari jalan keluar nya putri, aku tidak tau harus melakukan apa sekarang." ucap Anisa.


Putri menepuk-nepuk pundak Anisa. "Aku sudah bilang kalau kamu harus memilih salah satu di antara mereka. Kamu harus jujur." ucap Putri.


Putri menghela nafas panjang. "Aku tidak bisa membantu kamu selain memberikan saran, kamu lah yang membuat semua nya seperti ini, jadi kamu juga harus tanggung jawab." ucap Putri.


"Aku tidak bisa lama-lama di sini, aku pamit yah, jangan lupa ada Boni di dalam." ucap Putri.


"Ya udah deh kamu hati-hati di jalan yah, terimakasih sudah mau menemani dan mengantarkan kami pulang." ucap Anisa .."Sama-sama." ucap Putri dia pun pulang.


Anisa melihat ke arah luar. "Apa kak Dika tidak pulang?" ucap Anisa.


"Apa sekarang dia masih bersama Rida?" ucap nya berfikir yang tidak-tidak.


"Huff kira-kira kak Dika kemana yah." ucap Nya mencoba menelpon Kak Dika namun tidak di angkat.


Dika yang ketiduran di Sofa tiba-tiba terbangun karena mendengar Bel kamar nya, dia tidak memerhatikan ponsel nya yang ada di perut sehingga waktu dia langsung berdiri Handphone nya langsung jatuh ke lantai.


"Aaa!! Sial!" ucap nya melihat handphone nya rusak habis. Dia membuka pintu.

__ADS_1


"Kenapa kamu begitu lama membuka pintu?" tanya Candra.


Dika menggeleng kan kepala nya. "Aku ketiduran, ada apa kamu ke sini?" tanya Dika.


"Kau mau bertemu kamu lah, ngapain lagi aku kalau tidak bertemu kamu." ucap Candra.


"Sebaiknya kita berbicara di luar saja." ucap Dika membawa Candra ke bawah apartemen nya.


"Huff sangat menyebalkan sekali! Bagaimana bisa kamu mengajak ku turun ke bawah sementara aku sudah di sini!" ucap Dika.


"kalau masih mau berbicara, sebaiknya ayo turun ke bawah." ucap Dika, akhirnya mereka ke bawah.


"Aku baru saja bertemu dengan Anisa. Dia membawa anak kecil yang sangat mirip dengan mu." ucap Candra.


"Mungkin hanya kebetulan saja." ucap Dika. "Humm bisa jadi, tapi aku merasa kalau Anisa sudah memiliki orang lain mengisi hati nya?" ucap Candra.


"Jangan terlalu berfikir negatif." ucap Dika. Candra menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak ingin kehilangan Anisa, aku harus segera bisa menikah dengan Anisa agar bisa menghindari perjodohan ku." ucap Candra.


Dika menghela nafas panjang. "Apa hanya ini yang ingin kamu ceritakan?" tanya Dika, Candra mengangguk. Dika langsung berdiri.


"Aku rasa aku memiliki kesibukan yang lebih penting, sebaik nya aku pergi." ucap Dika.


"Huff dasar teman es, tidak perduli dan sangat dingin." ucap Candra dengan kesal.


Dika masuk ke dalam kamar nya dia melihat layar handphone nya semua sudah Hitam.


"Huff kenapa harus rusak sih?" ucap nya dengan sangat kesal.


Akhirnya dia memutuskan membenarkan nya ke konter sebentar. Namun ternyata harus menunggu alat-alat, akhirnya dia meninggal kan di sana.


Sampai di apartemen nya Dika mandi dia melihat ke arah jam sudah jam sembilan malam.


"Aku sebaik nya tidak perlu ke sana." batin Dika. Dika tidak lagi mengingat Boni yang sudah dia bawa karena kepala nya yang sakit memikirkan hubungan nya dengan Anisa.


Setelah selesai mandi dia Duduk di kasur kamar nya namun tidak tenang dia tidak bisa melupakan Anisa.


"Apa yang aku lakukan? aku laki-laki, aku harus dewasa, kenapa aku jadi seperti ini hanya karena takut sakit hati di kemudian hari? Apa pun cerita nya aku harus berjuang, aku akan menerima semua resiko nya." ucap Dika mengambil kunci mobil nya.

__ADS_1


"Mendapatkan Anisa tidak semudah meninggalkan dia, aku harus mempertahankan hubungan ini, walaupun sahabat ku menjadi lawan ku." ucap Dika.


__ADS_2