
"Kamu pikir minum seperti ini membuat badan sehat? Pikiran tenang?" ucap Dika. "Bapak tidak perlu banyak protes, aku tau yang terbaik untuk hidup ku. Ini bukan di sekolah." ucap Anisa.
"Kalau orang tua kamu tau kamu seperti ini, mereka pasti sangat marah dan juga Akan sangat kecewa Sama kamu." ucap Dika.
Anisa menatap Dika. "Bapak jangan sesekali mengancam saya seperti itu!" ucap Anisa.
"Saya tidak mengancam kamu! Saya mengatakan kebenaran nya." ucap Dika. Anisa tertawa.
"Orang tua saya tidak perduli dengan saya, mereka tidak akan mau tau tentang saya. Saya hanya takut fasilitas saya di ambil." ucap Anisa.
Dika menghela nafas panjang.
"Kamu harus segera jauh-jauh dari Candra! Candra membawa pengaruh buruk kepada kamu." ucap Dika.
Anisa menggeleng kan kepala nya. "Candra adalah satu-satunya orang yang perduli, selalu ada dan selalu menemani aku." ucap Anisa.
Dika menghela nafas panjang. "Kamu sudah mabuk, sebaiknya kamu pulang saja." ucap Dika.
Anisa mendorong Dika. "Jangan sentuh-sentuh aku! Bapak sengaja kan menyamar ke sini seperti pengusaha kaya raya agar bisa mengikuti aku?" ucap Anisa.
"Saya tidak berfikir untuk seperti itu, saya ke sini karena undangan pernikahan teman saya!" ucap Dika.
"Bohong!" ucap Anisa. Dia meminum minuman yang ada di tangan nya menghabis kan nya.
Dika sudah mencoba melarang nya namun tidak di hiraukan oleh Anisa.
Hari semakin malam. Dika dan pasangan nya hendak pulang. Dika melihat Candra masih asik dengan teman-teman nya namun dia tidak melihat Anisa di sana.
"Kemana wanita itu? Apa dia pergi pulang duluan?" ucap Dika.
"Siapa yang kamu maksud!" tanya pasangan nya.
Dika Menggeleng kan kepala nya.
"Ayo kita pulang saja." ucap Dika. Mereka berdua pun meninggalkan acara itu.
"Aaarrrhh... Tolong aku... Aku sangat pusing..." Anisa di depan pintu gedung itu.
Dika segera membantu nya.
"Kamu pulang duluan saja." ucap Dika kepada pasangan nya yang juga sudah mabuk.
"Wanita ini Siapa? Lalu aku Bagaimana?"
"Kamu pulang dengan supir saja, aku mengantar kan dia pulang duluan, aku akan menyusul kamu nanti." ucap Dika.
Wanita itu menganguk. Dika membuka tas Anisa mau mengambil kunci mobil.
"Candra... Kamu akhirnya keluar juga, aku sudah sangat pusing." ucap Anisa.
Dika hanya diam saja. Dika mendudukkan Anisa di tempat duduk tepat di samping supir.
__ADS_1
Dika menatap wajah Anisa sangat dekat sekali.
"Kamu sangat cantik sekali kalau berpakaian seperti ini.." ucap Dika.
Baju dress yang menunjukkan bagian dada dan punggung.
"Kamu benar-benar sudah wanita yang dewasa. Bukan anak sekolah lagi." ucap Dika.
"Husss!! Aku memikirkan apa ini?" ucap Dika menepis pikiran nya langsung menutup pintu mobil bagian Anisa.
Dika sudah sangat Lelah, kalau mengantarkan Anisa ke rumah nya di bingung harus pulang pakai apa karena mereka naik mobil Anisa.
Alhasil Dika membawa Anisa ke apartemen nya.
Sampai di apartemen Anisa di tidur kan di tempat tidur Dika.
Keesokan harinya....
Candra baru saja bangun Tepat di penginapan tidak jauh dari sana bersama perempuan.
Dia berfikir itu adalah Anisa, saat melihat wajah nya ternyata bukan.
Candra baru ingat setelah Anisa pamit pulang duluan dia langsung membooking wanita untuk menemani dia.
"Bagaimana keadaan Anisa sekarang? Aku janji akan membangun kan dia." ucap Candra segera memakai pakaian nya.
Di tempat lain Dika terbangun karena matahari sudah menembus sela-sela jendela nya. Dika bergeliat perlahan membuka mata nya.
"Ya ampun kenapa aku telat bangun?" ucap Dika dalam hati, dia mau bergegas ke kamar mandi namun tangan nya di tahan.
Dika menoleh ke samping nya ternyata Anisa yang berbantal di lengan nya.
"Aaaaa!!!!" Anisa bangun dan kaget melihat Dika di depan nya. Dika juga ikutan kaget.
"Bapak kenapa bisa di sini? Bapak kenapa bisa tidur dengan ku di sini?" ucap Anisa
"Ini Kamar saya!" ucap Dika. Anisa melihat ke sekeliling.
"Kenapa aku bisa di sini?" ucap Anisa.
"Karena kamu mabuk, Masih untung saya membawa kamu ke sini, kalau tidak kamu akan tidur di jalanan." ucap Dika.
Anisa melihat baju nya sudah ganti.
"Bapak membuka baju ku?" ucap Anisa.
"Kenapa? Apa kamu lupa apa yang kita lakukan tadi Malam?" ucap Dika mendekati Anisa.
Anisa sangat takut dia terus mundur.
"Kamu ternyata sangat hebat... Dan badan kamu cukup bagus..." ucap Dika.
__ADS_1
Anisa semakin takut.
"Gakk!!!! Gak mungkin,..." ucap Anisa berteriak dan dia terjatuh.
Dika menghela nafas panjang. "Sebaiknya kamu segera siap-siap." ucap Dika.
"Aku tidak akan ke sekolah hari ini, Lagian sudah telat. Aku akan pulang." ucap Anisa.
"Kamu yakin mau pergi dengan keadaan seperti ini?" ucap Dika.
Anisa melihat dirinya di cermin. Ternyata banyak bercak merah di leher nya.
"Tidak mungkin... Tidak mungkin.. Ini pasti alergi." ucap Anisa. Dika tersenyum.
"Bapak akan saya laporkan!"' ucap Anisa.
"Kita melakukan nya karena sama-sama mau, bukan karena paksaan." ucap Dika. Anisa mendorong Dika.
"Aku sudah menjaga kesucian ku selama ini namun bapak sangat jahat! Aku membenci bapak." ucap Anisa marah dan pergi.
"Paha ku sangat sakit, aku sudah tidak suci lagi." ucap Anisa.
Di kembali ke rumah nya dia melihat mobil Candra di depan rumah nya.
"Apa yang harus aku jelaskan kepada Candra?" ucap Anisa bingung, dia takut bertemu dengan siapa pun.
Dia menunggu Candra pergi baru dia pergi.
"Tidak ada lagi yang bisa di harapkan dari ku." ucap Anisa.
Dia masuk ke rumah nya.
"Pak Dika kenapa hari ini gak masuk sih?" ucap Rida sedih.
"Padahal kalau Anisa tidak masuk, aku mempunyai kesempatan untuk dekat-dekat dengan Pak dika." ucap Rida.
"Hanya satu hari saja, kamu lebay banget sih." ucap teman nya.
"Aku sangat merindukan nya. Kalian tidak tau bagaimana rasanya merindu kan orang yang kita sayangi." ucap Rida.
"Kamu jangan terlalu berharap kepada Pak Dika deh, mana mungkin orang setampan pak Dika tidak memiliki pasangan." ucap Teman nya.
"Tapi aku yakin kalau pak Dika mau sama ku, secara aku kan pintar, baik, cantik, perhatian." ucap Rida.
"Semoga saja kamu nanti gak patah hati. Sangat banyak saingan kamu di luar sana untuk mendapatkan pak Dika."'
Rida memasang wajah cemberut.
"Sebenarnya Kalian tuh mendukung aku atau enggak?" tanya Rida.
"Dukung kok, hanya saja kamu tau sendiri lah kalau Pak Dika incaran wanita-wanita, guru-guru saja banyak yang suka sama pak Dika. otomatis saingan kamu adalah Guru."' ucap Teman nya.
__ADS_1
"Ah bodo amat, pokoknya aku harus terus semangat mendapatkan cinta Pak Dika. Aku tidak boleh menyerah begitu saja." ucap Rida.