
Dika Memerhatikan Heri yang mencuri-curi pandang kepada Anisa. Namun dia berusaha untuk biasa saja walaupun dalam hati nya ingin menendang Wiliam yang menatap Anisa dengan tatapan Sangat tertarik.
"Senang bertemu dengan kamu, setelah Papah mu pensiun, saya harap kamu bisa meneruskan jejak nya dengan baik dan membuat perusahaan semakin berkembang." ucap Dika.
"Tentu! Saya lulusan luar negeri, tentu saya bisa. Tidak perlu bekerja sama dengan Bapak, saya akan bisa membuat perusahaan jauh lebih baik." ucap Heri.
"Heri! Jaga Mulut mu! kamu tidak pernah papah ajar kan berbicara seperti itu!" ucap pak Wiliam sangat malu sekali.
"Maaf kan anak saya," ucap Pak Wiliam. Dika mengangguk. "Humm Aku ke toilet sebentar yah." ucap Anisa ijin kepada Dika. Dika mengangguk.
Heri mengikuti nya meninggalkan Dika dan Pak Wiliam yang berbicara sangat serius sekali.
"Hayy..." Sapa Heri kepada Anisa yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kamu.." ucap Anisa. "Boleh minta nomor kamu?" tanya Heri. Anisa menggeleng kan kepala nya.
"Maaf aku tidak bisa." ucap Anisa.
"Kenapa? Kamu takut ketahuan sama Dika? tenang saja tidak akan ketahuan kok." ucap Heri.
"Kak Dika adalah salah satu klien Papah kamu, kenapa kamu mau menghianati dia seperti ini?" ucap Anisa.
"Menghianati? Aku tidak melakukan itu, aku hanya meminta nomor kamu, apa salah nya?" tanya Heri.
"Aku adalah pacar nya kak Dika. Seharusnya kamu menjaga sifat." ucap Anisa.
"Kamu sudah tau bukan kalau Dika itu sudah seorang duda, dia juga sudah memiliki anak, kenapa kamu mau sama dia?" tanya Heri.
"Itu bukan urusan kamu. Permisi." ucap Anisa mau pergi namun langsung di tahan oleh Heri. Anisa langsung menepis tangan Heri yang berani menyentuh nya.
"Kamu kenapa sangat sombong banget sih? Percuma saja kamu cantik kalau sombong seperti ini." ucap Heri.
"Menjauh lah dari ku, aku akan berteriak kalau kamu berani macem-macem!" ucap Anisa.
Heri tersenyum. "Aku yakin kalau Dika hanya menjadikan kamu pelampiasan bukan? Hanya menemani tidur nya. Aku akan membayar kamu berapa pun itu asal kamu mau menemani aku tidur." ucap Heri.
Anisa menatap Heri.
"Jangan berfikir aku perempuan murahan." ucap Anisa langsung mendorong Heri dari depan nya.
__ADS_1
"Kenapa kamu sangat jahat kepada ku? Aku rasa aku bisa membayar dan memuaskan kamu." ucap Heri menyentuh lengan Anisa.
"Bukk!!" Tiba-tiba Dika datang dan melayang kan satu tinjuan keras di wajah Heri.
"Sialan kau!" umpat Dika. Anisa kaget semua orang yang melihat nya kaget.
"Apa yang kau lakukan Dika?" ucap Heri.
"Kau masih bertanya? Berani-beraninya kau menggoda kekasih ku dan Mencoba melecehkan dia!" ucap Dika.
"Bukan kah Itu yang Kau lakukan kepada ku dulu? Kau mengambil Kekasih ku." ucap Heri.
"Aku tidak melakukan itu!" ucap Dika.
"Kau menikah dengan kekasih ku, dan setelah itu meninggalkan dia begitu saja, dan sekarang kau bersenang-senang dengan perempuan ini!" ucap Heri.
"Apa maksud nya?" ucap Anisa.
"Mantan istri Dika adalah mantan kekasih ku yang di rebut pole nya!" ucap Heri.
Anisa kaget karena ternyata mereka sudah saling mengenal sejak lama, namun berpura-pura tidak mengenal.
"Hentikan Heri!" ucap pak Wiliam datang. "Kamu membuat papah malu saja. Kalau seperti ini papah tidak akan bisa mempercayai kamu untuk mengurus perusahaan." ucap papah nya.
"Aku tidak perduli! Aku hanya ingin balas dendam kepada pria ini. Aku sangat mencintai Ranti, namun dia tidak memiliki hati sama sekali sehingga tega melakukan itu kepada ku." ucap Heri.
"Hentikan Heri! Ayo pergi dari sini." ucap pak Wiliam.
"Aku akan segera membalas kan dendam ku kepada mu. Kita tunggu saja tanggal mainnya!" ucap Heri langsung pergi.
"Pak Dika, saya minta maaf, saya sangat minta maaf karena sifat anak saya." ucap Pak Wiliam.
"Sebelum nya bapak sudah tau tentang ini bukan?" tanya Dika. Pak Wiliam mengangguk.
"Saya tidak tau kalau ternyata Heri masih mempermasalahkan tentang ini, saya sangat minta maaf." ucap pak Wiliam. "Tidak apa-apa pak." ucap Dika.
"Saya akan menyusul Heri." ucap pak Wiliam dan segera pergi.
"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Dika memeriksa Anisa. Anisa menggeleng kan kepala nya dia menatap Dika.
__ADS_1
"Aku ingin mendengar penjelasan kakak. Apa yang terjadi sebenarnya? Siapa pria itu?" tanya Anisa.
"kenapa dia mengatakan kalau Kakak yang meninggal Mantan istri Kakak?" tanya Anisa.
"Cerita nya tidak seperti itu." ucap Dika.
"Lalu?" tanya Anisa.
"Ranti mantan istri saya sebelumnya berpacaran dengan Heri dua tahun. Saya tidak tau tentang itu. Setelah menikah dengan nyai saya baru tau." ucap Dika.
"Kamu tau sendiri kalau saya menikah dengan Ranti bukan karena cinta tapi paksaan orang tua saya. Begitu juga dengan Ranti. Dia di paksa oleh orang tua nya." ucap Dika.
"Kamu mengatakan sebelum nya kalau dia kembali lagi kepada mantan nya, Lalu kenapa Heri mengatakan seperti itu?" tanya Anisa.
"Sebaik nya kita duduk di dalam dan berbicara." ucap Dika. Mereka Duduk di dalam dan membicarakan nya baik-baik.
"Saya tidak tau pasti Kenapa Heri menyalahkan saya, tapi setau saya Ranti berhubungan dengan mantan kekasih nya walaupun bersama saya. Dan setelah melahirkan Dia kembali kepada Heri." ucap Dika.
"Kalau begitu kakak harus mencari tau apa yang terjadi di antara mereka, aku tidak ingin Heri menyalahkan kakak, kelihatan nya kan Wiliam sangat baik. Aku tidak enak kepada nya." ucap Anisa.
Dika menggeleng kan kepala nya. "Saya tidak ingin ikut campur lagi dengan urusan mereka. "Biarkan saja lah mereka mengurus urusan mereka sendiri." ucap Dika.
"Kelihatan nya Heri sangat mencintai Ranti. Sebagai rasa bersalah kamu, seharusnya kamu membantu mencari Ranti dan memberi tau kepada Heri." ucap Anisa.
Dika menggeleng kan kepala nya. "Tidak lah semudah itu, saya sudah tidak ingin membahas tentang itu lagi.. Sebaiknya kita kembali ke rumah." ucap Dika.
Anisa menghela nafas panjang.
"Maafkan saya.." ucap Dika tidak meletakkan Kepalanya di pundak Anisa.
"Kenapa?" tanya Anisa.
"Karena saya, kamu jadi terlibat seperti ini. Saya tidak rela melihat kamu di sentuh oleh Heri." ucap Dika.
"Aku juga yang salah tidak bisa menjaga diri, sudah-sudah jangan merasa bersalah seperti itu." ucap Anisa mengelus rambut Dika
Dika tersenyum dia mencium pipi Anisa.
"Sebaik nya kita pulang saja." ucap Anisa. Dika mengangguk.
__ADS_1