Kisah Anisa Di Sekolah

Kisah Anisa Di Sekolah
Episode ,190


__ADS_3

"Rumah sakit mana?" tanya Dika.


"Tenang dulu Pak." ucap polisi.


"Bagaimana bisa saya tenang? Perempuan itu adalah calon istri saya!" ucap Dika.


Polisi langsung memberikan alamat rumah sakit terdekat itu.


Dika sudah sangat panik dia berlari ke rumah sakit itu karena tidak jauh.


"Anisa kamu pasti selamat. Ini semua salah saya, Anisa..." Dia tidak berhenti menangis mengingat semua nya mengatakan kalau korban luka parah.


Bahkan Mobil besar itu juga Terluka parah.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai Dika langsung menanyakan di mana Anisa.


Dokter baru memeriksa sehingga keluarga ataupun siapapun itu tidak Akan bisa melihat ke dalam.


Dika sudah sangat khawatir dia tidak bisa tenang menunggu di luar.


"Apa yang harus aku lakukan?" ucap Dika dia langsung menelpon Marsel memberitahu tentang Anisa.


Marsel yang sedang bersama Tri terkejut mendengar itu.


Mereka langsung berangkat ke Rumah sakit. Tidak beberapa lama akhirnya mereka datang bersama papah nya Anisa mamah nya Anisa juga tidak beberapa lama datang.


Mereka semua menunggu di luar sudah sangat khawatir, hanya bisa menangis.


Tidak beberapa lama akhirnya dokter keluar dari ruangan ICU.


Mereka menanyakan keadaan Anisa.


Keadaan Anisa sangat parah sekarang sedang koma karena mengalami pendarahan di bagian kepala nya dan luka-luka di seluruh badan nya sementara korban yang lain meninggalkan dunia.


Hanya Anisa yang selamat. Kecil harapan mereka untuk Anisa sembuh.


Mereka satu keluarga hanya bisa berdoa keajaiban tuhan.


Tidak beberapa lama Keluarga Dika datang bersama Lita.


Dika berdiri melihat Mamah dan papah nya.


"Papah sama Mamah ngapain ke sini?" tanya Dika takut orang tua nya marah di rumah sakit.


Orang tua Dika melihat orang tua Anisa dan semua keluarga sudah menangis.


"Papah bagaimana keadaan Tante Anisa?" tanya Boni. Dika menggeleng kan kepala nya.


"Papah tidak tau nak, sekarang keadaan nya sangat parah. Kita hanya bisa berdoa." ucap Dika.


"Bagaimana kalau Tante Anisa tidak selamat papah?" tanya Boni.


"Ssstthh jangan berbicara seperti itu, pasti akan selamat kok. Tante Anisa pasti selamat." ucap Dika.


Boni menghapus air mata Dika.


"Maafin aku yah papah, karena aku memaksa papah sama Mamah untuk tinggal bersama Tante Anisa jadi salah paham dan akhirnya Tante Anisa seperti ini." ucap Boni.

__ADS_1


"Kamu tidak salah nak, jangan berbicara seperti itu." ucap Dika.


Boni memeluk Dika yang menangis.


"Maafin aku papah. Aku yang salah." ucap Boni.


"Tidak apa-apa Nak, tidak apa-apa." ucap Dika.


"Aku juga minta maaf yah, aku sama sekali tidak dewasa untuk memahami posisi kamu seperti apa." ucap Lita.


Dika menoleh ke arah Lita.


"Tidak ada gunanya minta maaf lagi sekarang. Kalian sudah puas kan melihat Anisa di rumah sakit seperti ini? Kalian sudah puas kan? Termasuk mamah sama Papah." ucap Dika.


"Aku melakukan apapun yang kalian mau selama ini namun kalian sangat jahat." ucap Dika.


Keluarga nya terdiam. Tidak ada yang berani berbicara.


Tidak beberapa lama Putri dan Arya datang. Melihat suasana sangat tegang membuat nya panik khawatir tidak tau apa yang terjadi membuat nya semakin takut.


Dia tidak ingin mengganggu dia bertanya kepada dokter. Setelah mendengar dari dokter dia dan Arya sangat terkejut sekali.


Keluarga Dika tidak bisa lama-lama di sana. Lita juga begitu. Namun Boni memilih untuk tinggal di sana.


"Maafin aku Mah, pah." ucap Lita kepada orang tua Dika.


"Kenapa nak?" tanya mamah Dika.


"Karena aku memaksa kalian untuk menjodohkan aku kepada Dika akhirnya semua nya seperti ini, aku sangat minta maaf." ucap Lita.


Mereka berpelukan.


Satu Minggu kemudian....


Anisa sudah sadar. Dika dan Marsel yang tidak pulang-pulang dari rumah sakit mendengar Anisa bangun mereka langsung melihat ke dalam.


"Apakah sebaik nya kamu duluan yang masuk?" ucap Marsel kepada Dika.


"Kakak yakin?" tanya Dika.


Marsel mengangguk.


Akhirnya Dika masuk terlebih dahulu.


"Anisa..." panggil Dika memegang tangan Anisa yang masih tidur.


Anisa perlahan menggerakkan tangan nya dan menggenggam tangan Dika.


Dia membuka mata nya.


Dika menangis. Anisa menatap wajah Dika.


"Kak Dika." ucap Anisa. Dika menatap wajah Anisa dia merasa sangat bersalah sekali.


"Kenapa kakak menangis?" tanya Anisa.


Dika menggeleng kan kepala nya.

__ADS_1


"Maafin saya... Maafin saya... " ucap Dika.


Anisa tersenyum dia meletakkan kepalanya di Kepala Dika.


"Kenapa kakak di sini? Kakak harus pulang, Boni pasti menunggu kakak." ucap Anisa.


Dika terdiam sejenak. "Kakak pergi lah aku bisa di sini sendiri kok." ucap Anisa.


"Pergi lah.. Aku tidak ingin melihat kakak." ucap Anisa.


Akhirnya Dika keluar.


Marsel heran kepada Dika keluar sangat cepat dan dengan wajah yang masih sangat sedih.


"Ada apa?" tanya Marsel.


"Sebaiknya kakak masuk melihat keadaan Anisa." ucap Dika. Marsel masuk ke dalam.


Satu Minggu kemudian Anisa sudah bisa pulang dia di jemput oleh Marsel dan juga Tri serta keluarga nya.


Dia sangat bahagia sekali dua Minggu di rumah sakit semua keluarga nya ada.


"Akhirnya kamu pulang Anisa." ucap Marsel.


"Iyah kak, aku sudah sangat bosan di kamar rumah sakit." ucap Anisa.


Marsel tersenyum.


Tiba-tiba Dika, Lita dan Boni Serta kedua orang tua Dika ada di depan menunggu Anisa Keluar.


"Kak aku mau langsung ke dalam mobil." ucap Anisa.


"Anisa tunggu dulu." ucap Dika menahan Anisa.


Anisa diam.


"Aku mau sendiri kak, aku ingin menenangkan pikiran ku. Dan aku rasa kita harus memperjelas hubungan kita. Sebaiknya kita Putus saja." ucap Anisa.


"Anisa... Saya mohon jangan seperti ini." ucap Dika. Anisa menggeleng kan kepala nya.


"Aku sudah cukup sakit menahan nya kak, aku rasa kita tidak lah jodoh." ucap Anisa.


Dika menggeleng kan kepala nya.


"Kita tidak boleh putus. Aku akan menjelaskan semua nya." ucap Dika.


Anisa menoleh ke arah Orang tua Dika.


"Orang tua Kakak adalah orang yang sangat penting, kakak tidak boleh menjadi anak yang durhaka. Aku sudah mengikhlaskan hubungan kita. Aku ingin kakak kembali bersama Mbak Lita demi Boni." ucap Anisa.


Dika menggeleng kan kepala nya.


"Jangan berbicara seperti itu Anisa." ucap Dika. Anisa tersenyum.


"Boni adalah anak yang pintar, aku tidak ingin nasib nya sama seperti aku, kekurangan kasih sayang dari orang tua. Jangan memikirkan ego kakak, kembali lah bersama Mbak Lita aku bahagia kok kalau kakak bahagia." ucap Anisa.


Anisa langsung pergi di bawa oleh Marsel.

__ADS_1


__ADS_2