
Putri datang membawa teh dan roti untuk mereka.
"Kamu sudah makan? Kalau belum makan biar di antar oleh Putri sarapan di dapur." ucap ayah nya.
"Pasti sudah Ayah, lagian Arya tidak mau makan di rumah orang lain." ucap Putri.
"Aku belum makan. Sekarang aku sangat lapar." ucap Arya.
"Kamu sering sekali memburuk kan Arya tidak baik seperti itu!" ucap Mamah nya.
Putri menghela nafas panjang.
"Ya udah sana kamu anterin Arya makan." ucap ayah nya.
Putri menghela nafas panjang, Arya mengikuti Putri ke dapur.
"Kamu bisa gak sih kalau ke sini sarapan dulu, tidak perlu menyusahkan aku!" ucap Putri.
Arya hanya senyum-senyum sendiri mengikuti Putri ke meja makan.
"Ini masih pagi kamu sudah sangat cerewet saja." ucap Arya. "Bagaimana aku tidak kesal, kamu datang ke sini membuat ku kesal!" ucap Putri.
"Kamu gak suka aku di sini? Kalau begitu aku pergi saja. Aku tidak mau merepotkan kamu." ucap Arya.
"Ehh bukan gitu, aku minta maaf deh, kamu duduk saja aku ambil kan sarapan untuk kamu." ucap Putri.
"Kamu bilang aku membuat kamu kesal, aku akan pergi kalau begitu." ucap Arya. "Kalau kamu pergi itu akan membuat ku semakin kesal karena nanti orang tua ku pasti sangat Marah." ucap Putri.
"Aku minta maaf kalau kata-kata ku membuat kamu tidak nyaman, duduk lah aku akan mengambil sarapan." ucap Putri.
Arya tersenyum. "Kamu sudah seperti istri yang marah-marah sama suami nya." ucap Arya.
Putri berbalik dia menatap tajam seketika Arya langsung tersenyum.
"Kamu ngomong apa tadi?" ucap Putri. "Kamu sangat cantik kalau cerewet seperti ini." ucap Arya.
"Aku tidak mendengar seperti itu!" ucap Putri.
Arya menghela nafas panjang. "Aku tidak sabar mau menjadi kan kamu istri ku." ucap Arya.
"Jangan aneh-aneh yah! aku tidak mau menjadi istri kamu." ucap Putri.. Arya tertawa kecil dia melihat Putri masuk ke dapur.
Tidak beberapa lama dia kembali. "Nih makan lah." ucap Putri.
"Kamu mau kemana? Temanin aku makan di sini, kalau hanya aku di sini aku merasa segan." ucap Arya. Putri duduk di depan Arya.
"Kamu sudah makan?" tanya Arya. "Kamu makan saja," ucap Putri.
"Ini pasti masakan kamu, aku tidak pernah mencicipi masakan kamu, aku makan yah." ucap Arya.
"Humm enak banget." ucap Arya.
__ADS_1
"Kamu terlalu berlebihan, itu hanya sarapan biasa." ucap Putri.
"Ini benar-benar sangat enak, kamu coba deh." ucap Arya menyuapi Putri. Putri mencoba nya Arya tersenyum.
"Aku tidak berbohong ini sangat enak." ucap Arya sambil memasukkan sendok bekas mulut Putri ke mulut nya.
Putri menyadari itu namun dia hanya diam saja.
Di tempat lain Anisa menghampiri Dika yang ada di balkon.
"Hari ini Kakak tidak kemana-mana?" tanya Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya sambil menoleh manja ke arah Anisa.
"Saya ingin menghabiskan waktu bersama kamu, namun karena ada kakak kamu saya harus menjaga jarak." ucap Dika.
Anisa tersenyum.
Sementara di bawah Tri melihat Marsel bermain PS.
"Bapak tidak memiliki lawan main? apa bapak mau bermain bersama ku?" tanya Tri.
Marsel menoleh ke arah Tri.
"Ma-maksud kamu apa?" tanya Marsel gugup dan juga kaget.
"Main bersama, aku melihat bapak sendiri saja, kalau memiliki teman bermain itu pasti sangat seru.. Kebetulan aku sangat suka bermain ini." ucap Tri.
"Emangnya kamu bisa? Perempuan seperti kamu hanya bisa bermain boneka." ucap Marsel.
"Bapak meragukan ku?" tanya Tri.
"Humm kalau begitu ayo kita bermain." ucap Tri langsung duduk di samping Marsel.
Karena terlalu dekat dan mepet Marsel bergeser sedikit.
"Baiklah kalau begitu. Kalau saya menang kamu harus mau menjadi pacar bayaran saya selama satu bulan." ucap Marsel.
"Oke! Kalau aku menang bapak harus menjadikan aku kepala pelayan di Toko." ucap Tri.
Marsel terkejut dengan permintaan Tri.
"sanggup tidak pak?" tanya Tri.
"Oke baiklah kalau begitu, saya akan menuruti permintaan kamu kalau menang." ucap Marsel.
Mereka mulai bermain. Dika dan Anisa turun ke lantai bawah dan melihat Tri dan Marsel sangat asik bermain.
"Mumpung mereka lagi asyik bermain kamu bantuin saya sebentar." ucap Dika menarik tangan Anisa kembali ke atas.
"Ngapain kak?" tanya Anisa.
"Ikut saja." ucap Dika membawa ke kamar.
__ADS_1
"Apa kak?" tanya Anisa. Dika mendorong Anisa dengan pelan ke kasur.
"Jangan aneh-aneh kak, kak Marsel akan marah." ucap Anisa. Dika menindih Anisa.
"Kak Dika!!!" ucap Anisa.
Dika tersenyum. "Bantu saya memijit-mijit badan saya." ucap Dika mengambil obat urut dan memberikan nya kepada Anisa yang sudah berfikir kotor.
"Lah!" ucap Anisa kaget.
"Saya tidak tau kenapa badan dan leher saya terasa sangat sakit sekali." ucap Dika membuka baju nya.
"Kak Dika! Apa yang kakak lalukan? Kenapa membuka baju?" tanya Anisa. Dika tersenyum.
"Kalau saya tidak membuka baju saya, kamu tidak akan bisa memijat badan saya dengan baik." ucap Dika.
Dia langsung naik ke kasur dan tengkurap.
"Saya akan membayar kamu kalau kamu memijit badan saya dengan benar dan ikhlas." ucap Dika.
Anisa mulai memijit-mijit Punggung Dika.
Tidak ada percakapan Anisa fokus memijit badan Dika yang seperti nya benar-benar masuk angin.
"Hore!!!!!" Ucap Marsel bersorak sangat senang sekali karena dia menang.
"Kenapa bisa?" ucap Tri kaget.
"Kamu harus menjadi pacar saya!" ucap Marsel kepada Tri.
"Bapak bermain curang, aku tidak suka, kita harus memulai nya dari awal." ucap Tri mengambil remote dari tangan Marsel.
"Ini sudah deal, tidak ada kecurangan." ucap Marsel.
Namun tiba-tiba Marsel menghindar sehingga Tri terjatuh ke badan Marsel yang tidur di lantai sambil tertawa puas.
Kedua nya saling tatap.
"Mungkin Ibu waktu muda pasti secantik Tri." batin Marsel.
"Walaupun pak Marsel sudah bisa di bilang tua, dia masih ganteng saja." ucap Tri dalam hati.
"Huff seandainya saja sifat pak Marsel tidak buruk seperti ini, aku akan bersenang hati mau menjadi pacar nya, tidak perlu di bayar." ucap Tri dalam hati.
"Apa yang kamu pikirkan? Menyingkir lah dari say!" ucap Marsel. Tri langsung duduk.
"Maaf-maaf." ucap Tri. "Tidak ada penolakan lagi, mulai dari sekarang kamu sudah harus menjadi pacar saya!" ucap Marsel.
"Bapak benar kan akan membayar gaji saya lima kali lipat?" tanya Tri. "Tiga! Saya mengatakan nya tiga bukan lima." ucap Marsel.
"Huff iya deh, dari pada tidak sama sekali." ucap Tri. Marsel kelihatan sangat senang sekali.
__ADS_1
"Ini sudah jam sebelas. Sebaiknya kamu siap-siap ." ucap Marsel.
"Nanti saja, aku masih mau bermain." ucap Tri.