
Dia tidak bisa bangun karena takut Dika terbangun. Dia akhirnya memilih untuk tidur saja menunggu Dika benar-benar sampai nyenyak sekali.
"Badan nya cukup panas." ucap Anisa memegang tangan Dika yang di perut nya.
Tidak terasa dia juga ketiduran di pelukan Dika yang sangat hangat, walaupun sedikit tidak nyaman.
Di sore hari nya Anisa terbangun karena mendengar suara hujan dan juga petir yang begitu kuat.
"Hoammmm..." Dia bergeliat namun baru sadar kalau Dika masih memeluk nya. Anisa menatap wajah Dika yang terlihat sangat pucat.
Anisa meletakkan telapak tangan nya di dahi Dika. "Panas nya tidak berkurang-kurang." batin Anisa, dia hendak turun dari tempat tidur namun di tahan oleh Dika.
"Jangan pergi." ucap Dika dengan suara yang sangat serak.
"Aku mau menutup pintu balkon dan juga jendela." ucap Anisa. Namun Dika tetap memeluk Anisa.
Hujan semakin deras. Petir juga ikut semakin besar. Anisa harus segera menutup pintu dia turun dari tempat tidur menutup pintu.
Dika membuka mata nya dia melihat Anisa. Setelah selesai Anisa Menghidupkan penghangat ruangan.
"Kalau seperti ini aku tidak akan bisa pulang." ucap Anisa. ia menoleh ke arah Dika.
"Sebaiknya Bapak makan dulu, setelah itu aku akan pulang." ucap Anisa. "Pulang? Ini Masih hujan kamu tidak akan bisa pulang." ucap Dika.
"Bapak tidak perlu khawatir karena saya naik mobil bukan naik motor." ucap Anisa. Dika diam.
"Sudah bapak jangan banyak tanya, saya akan membeli makanan di luar sebentar." ucap Anisa. Namun Dika menahan tangan Anisa.
"Saya tidak lapar, saya juga tidak ingin makan." ucap Dika. Anisa melihat tangan nya.
"Kalau Bapak tidak makan bisa satu Minggu bapak akan sakit." ucap Anisa.
Anisa pergi membeli makanan meninggalkan Dika. Tidak beberapa lama kembali membawa bubur untuk Dika.
"Makan!" ucap Anisa. Dika berusaha untuk duduk namun badan nya benar-benar masih sangat lemas sekali.
Dika duduk di atas tempat tidur dan mulai memasukkan bubur ke dalam mulutnya.
"Assalamualaikum Nak." Tiba-tiba orang tua nya Dika datang. "Walaikumsalam mah, Papah." ucap Dika.
Namun orang tua nya kaget melihat Anisa ada di sana.
"Loh kamu.. Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Mamah nya Dika kepada Anisa.
__ADS_1
"Saya di sini membantu merawat Pak Dika Tante. Om." ucap Anisa.
"Bagaimana bisa kamu membiarkan wanita seperti ini masuk ke apartemen kamu nak? Bagaimana kalau dia berniat jahat. Dari penampilan nya saja sudah tidak menyakinkan." ucap Orang tua Dika.
Dika berusaha untuk menenangkan orang tua nya namun orang tua nya benar-benar tidak suka kepada Anisa.
"Saya bukan orang jahat yah Tante, Om. Justru saya ke sini membantu merawat Pak Dika karena dia sakit." ucap Anisa dengan nada yang sedikit kesal.
"Anisa! Kamu jangan berbicara dengan kasar seperti itu. Orang tua saya hanya salah'paham." ucap Dika. "Sebaiknya aku pergi saja." ucap Anisa.
"Anisa! Anisa! Jangan pergi dulu." ucap Dika mau mengejar Anisa namun langsung di tahan oleh orang tua nya.
"Sudah biarkan saja, ngapain kamu ngejar dia." ucap Orang tua Dika.
Dika menghela nafas panjang.
"Mereka pikir dengan penampilan ku yang seperti ini, aku orang jahat? Mana ada orang jahat secantik dan sebaik aku." ucap Anisa tidak berhenti mengomel sampai ke parkiran mobil nya.
"Orang biasa saja, namun penampilan orang tua nya sudah seperti orang tajir. Dasar manusia yang sangat sombong." ucap Anisa.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah.
"Anisa dari mana saja kamu jam segini baru pulang?" tanya Papah Anisa.
"Jawab pertanyaan Papah kamu dari mana? Dan rambut kamu bau laki-laki." ucap Papah nya.
"Enggak kok Pah. Aku dari luar saja main sama teman-teman, karena di rumah juga bosan. Mamah sudah pergi dari Siang tadi." ucap Anisa sembari mencium bau rambut nya dan benar saja rambut nya bau parfum laki-laki.
"Ini bau pak Dika. Aku harus menjelaskan apa pada papah." batin Anisa.
"Kamu adalah anak perempuan. Tidak seharusnya kamu pulang malam seperti ini." ucap papah nya.
"Iyah Pah, aku minta maaf, aku tidak akan mengulangi nya lagi." ucap Anisa.
"Papah sama Mamah sekarang udah jarang sama-sama lagi sih? Aku pengen kita kumpul lagi." ucap Anisa.
"Tidak bisa nak, kamu tau sendiri papah sama mamah sibuk bekerja untuk kamu." ucap Papah Anisa.
Anisa Menghela nafas panjang.."Sudah tidak perlu di pikirkan.. Sebaik nya kamu ke kamar dan istirahat. Besok harus sekolah."
"Besok pagi papah bisa nganterin aku kan?" tanya Anisa. Papah nya mengelus rambut Anisa.
"Papah pulang hanya mengambil beberapa Surat yang ketinggalan. kalau Papah nganterin kamu, bisa-bisa Papah ketinggalan pesawat." ucap papah nya.
__ADS_1
"Tapi aku masih merindukan papah." ucap Anisa.
"Iyah papah juga rindu sama kamu, tapi ini urusan pekerjaan sayang." ucap papah nya sambil memeluk Anisa.
Setelah itu Anisa pergi ke kamar nya. "Kenapa sih semua orang sangat menyebalkan sekali. Tidak ada yang perduli kepada ku, tidak ada yang sayang pada ku." ucap Anisa.
Dia tidak mandi langsung tiduran di kasur.
keesokan harinya...
"Tin.. tin.. tin.." Bunyi klakson motor. Anisa merasa terganggu dia bergeliat dari tempat tidur nya memeriksa Siapa yang ribut di depan gerbang.
"Siapa sih ribut-ribut, pagi-pagi seperti ini?" tanya Anisa. Dia melihat Pak Dika di depan gerbang.
"Aarhhhh..." dia turun dengan sangat kesal.
"Kenapa sih bapak ke sini lagi? Dan ini Masih pagi-pagi sekali." ucap Anisa.
"Saya ke sini mau menjemput kamu. Buruan Mandi dan kita berangkat bersama." ucap Dika.
"Aku tidak mau, aku masih ingin tidur." ucap Anisa.
"Kalau kamu tidak mau saya akan melaporkan kamu kepada orang tua kamu." ucap Dika melihat mobil baru di depan rumah Anisa. Siapa lagi kalau bukan Orang tua Anisa.
"Iya deh, Iyah... Guru nyebelin banget." ucap Anisa.
Menunggu satu jam akhirnya selesai juga.
"Pah aku berangkat ke sekolah dulu yah." ucap Anisa kepada Papah nya yang baru saja keluar dari kamar nya.
"Iyah nak hati-hati." papah nya..Anisa tiba-tiba memeluk Papah nya.
"Jam berapa Papah akan pergi?" tanya Anisa.
"Jam tujuh. Ini Papah sudah mau berangkat ke bandara." ucap papah nya. Anisa menangis.
"Jangan sedih dong, papah pasti pulang kok."
"Aku di sini sendirian Pah, aku gak betah, aku tidak suka." ucap Anisa.
"Yang sabar yah nak, emang nya kamu mau kalau keluarga kita tiba-tiba miskin?" ucap papah nya. Anisa menghela nafas panjang.
"Ya sudah kamu berangkat gih, teman kamu dari tadi sudah nungguin." ucap Papah nya.
__ADS_1