Kisah Anisa Di Sekolah

Kisah Anisa Di Sekolah
Episode 121


__ADS_3

Dika melihat nya tiba-tiba dia tersenyum. "Kenapa bapak tersenyum? Bagaimana kalau kartu bapak jatuh ke tangan orang yang salah? Bagaimana bisa banyak seperti ini sementara Bapak di sini saja." ucap sekretaris nya.


"Kartu saya ada pada calon istri saya." ucap Dika. Sekretaris nya kebingungan.


"Maksud bapak?" tanya sekretaris nya.


"Anisa yang menggunakan kartu itu. Tidak pernah dia mau menggunakan uang saya, dan sekarang dia sudah mau, saya sangat senang." ucap Dika.


Sekretaris nya Hanya bisa terdiam melihat Dika senyum-senyum sendiri. "Baiklah kalau begitu saya ijin keluar dulu yah pak." ucap sekretaris nya.


"Baiklah, kamu jangan coba-coba mengganggu saya lagi!" ucap Dika.


Dika menelpon Anisa.


"Halo kak." ucap Anisa. "Kamu di mana?" tanya Dika. "Aku sedang makan Eskrim bersama Boni." ucap Anisa.


"Oohh." ucap Dika.


"Kenapa kakak menelpon ku? Apa kakak tidak sibuk?" tanya Anisa.


"Saya tidak pernah sibuk kalau untuk kamu." ucap Dika. "Uwekk.. Lebay deh." ucap Anisa. Dika tersenyum.


Cukup lama mereka berbincang-bincang setelah itu Anisa harus menutup telpon. dia harus melanjutkan perjalanan ke panti asuhan.


Di siang hari menjelang Sore mereka baru sampai di panti asuhan. Anisa bermain-main sebentar. Karena sudah magrib dan di suruh pulang oleh Dika akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke rumah nya.


Namun di tengah-tengah , perjalanan dia tidak sengaja melihat mobil mogok. Kiri kanan sangat sepi.


Anisa berhenti.


"Ada apa pak?" tanya Anisa. Bapak-bapak yang tadi nya duduk di pinggir jalan langsung berdiri melihat Anisa.


Anisa terkejut ternyata itu adalah papah nya.


"Anisa.." ucap papah nya.


"Kenapa papah bisa di sini? Mobil papah kenapa?" tanya Anisa.


"Mesin mobil papah tiba-tiba mogok dan sekarang tidak mau di hidup kan."


"Apa papah sudah menelpon mekanik?" tanya Anisa. Papah nya mengganguk.


"Mereka sedang perjalanan ke sini." ucap papah nya. "Oohh.." ucap Anisa. Anisa menunggu selama dua puluh menit namun tidak kunjung datang.

__ADS_1


"Sebaiknya Papah biarkan saja mobil nya di urus mekanik, aku akan mengantar kan Papah pulang." ucap Anisa.


"Tidak apa-apa nak, papah tunggu saja di sini, kamu pulang lah." ucap Papah nya. Anisa menghela nafas.


"Aku tidak mungkin pergi dan meninggalkan papah di sini." ucap Anisa.


Sebenernya Papah nya ingin namun dia takut merepotkan anak nya itu.. Namun karena dia juga merindukan Anisa, dia ingin lebih lama bersama Anisa akhirnya dia masuk ke dalam mobil Anisa.


"Bagaimana kabar papah?" tanya Anisa sambil menyetir.


"Seperti yang kamu lihat sekarang." ucap Papah nya, Anisa memerhatikan Papah nya yang duduk di samping nya.


"Papah sangat kurus sekarang, wajah papah terlihat sangat lusuh." ucap Anisa. "Papah rajin olahraga akhir-akhir ini, wajah Papah mungkin karena kecapean saja." ucap Papah nya.


Anisa tersenyum. "Apakah Papah bahagia dengan keluarga baru Papah?" tanya Anisa. Papah nya mengganguk.


"Papah sangat bahagia." ucap papah nya.


"Wajar lah papah bahagia, tidak memiliki anak yang selalu menyusahkan seperti ku." ucap Anisa.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Papah tidak pernah mengatakan hal seperti itu." ucap papah nya.


Anisa tersenyum tipis.


"Aku selalu berharap papah bahagia dengan keluarga papah." ucap Anisa.


"Papah tidak ingin bertanya kabar ku?" tanya Anisa. Papahnya menoleh ke arah Anisa.


"Keadaan ku sangat baik, aku jauh lebih baik sekarang dari pada sebelumnya. Aku sekarang bisa berfikir lebih tenang." ucap Anisa.


"Papah tau, Papah juga tau kalau kamu memiliki sosok guru yang bernama Dika." ucap Papahnya.


"Humm ternyata papah tau, dia adalah orang yang baru hadir di hidup ku namun sudah menjadi rumah untuk ku. Aku sangat senang bisa memiliki dia." ucap Anisa.


"Papah hanya bisa mengatakan kalau sebaiknya kamu berulang kali berfikir untuk memutuskan bersama Dika." ucap papah nya.


"Karena dia dari orang kaya? Karena dia lebih tua dari ku?" ucap Anisa.. Papah nya mengganguk.


"Aku harap kami berjodoh. Papah juga merestui nya karena kami berdua saling mencintai satu sama lain." ucap Anisa.


"Baiklah kalau itu memang pilihan kamu nak, Papah tidak bisa mengatakan apapun, asal kamu bahagia Papah juga bahagia kok." ucap Papah nya.


Anisa tersenyum. "Bagaimana kabar Mamah mu? sudah lama papah tidak mendengar kabar nya." ucap papah nya. Anisa menggeleng kan kepala nya.

__ADS_1


"Aku tidak tau, aku tidak pernah lagi mendengar kabarnya." ucap Anisa. "Papah minta maaf yah nak, karena kami berdua kamu harus merasakan hal yang pedih seperti ini." ucap papah nya.


Anisa tersenyum. "Sekarang aku sudah bisa menerima semua nya pah, Papah tidak perlu berfikir kalau aku masih marah." ucap Anisa.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah nya papah nya.


"Terimakasih yah nak." ucap papah nya. Anisa mengangguk.


Papah nya tidak langsung turun dia seperti ingin mengatakan sesuatu namun tidak berani.


"Apa yang ingin papah katakan?" tanya Anisa.. Papahnya menggeleng kan kepala nya.


"Tidak ada nak."


Anisa menahan tangan papah nya.


"Boleh aku memeluk papah?" tanya Anisa. Papah nya mengganguk dia seperti menahan tangis dan langsung memeluk putri nya itu begitu erat sekali.


Sambil menahan tangis dia mengelus punggung Anisa.


"Ternyata putri ku sudah sebesar ini. Kenapa aku harus memilih untuk meninggalkan nya." batin Papah Anisa.


"Istri papah mungkin sudah menunggu, sebaik nya papah masuk." ucap Anisa. Papah nya mengganguk dia turun. Anisa melihat dari dalam mobil.


"Dulu papah berjalan begitu gagah, tegap, sekarang papah sudah sangat lemas tidak berdaya." batin Anisa.


"Papah..." Tiba-tiba anak kecil berlari memeluk papah Anisa.


Anisa tersenyum dia mengingat masa kecil nya dulu, setiap papah nya pulang dia pasti berlari dan memeluk papah nya.


Setelah tidak kelihatan dia pulang ke rumah nya.


Sesampainya di rumah di langsung mandi dia berendam cukup lama.


"Huff ternyata kulit ku sudah kering-kering, ini saat nya aku perawatan mumpung Kak Dika tidak mengganggu ku." ucap Anisa.


Setelah Beberapa lama di kamar mandi dia keluar dengan handuk di dada. Dia membuka lemari baju tidur nya yang sangat seksi-seksi.


"Aku sangat merindukan baju-baju tidur ku." ucap Anisa dia memilih paling favorit nya dan memakai nya.


"Seperti ini sangat nyaman." ucap Anisa. Dia mengambil masker memasang di wajah nya.


Baru saja berbaring sambil maskeran Dika sudah menelpon nya melalui video call.

__ADS_1


Anisa menghela nafas panjang. "Nih orang bisa kasih aku waktu untuk perawatan tidak?" ucap Anisa kesal.


"Halo Anisa. Kamu di mana? kenapa sangat lama menjawab telpon saya?" tanya Dika.


__ADS_2