
anisa tetap memeluk bantal nya.
"sayang..." ucap dika memanggil nya dengan lembut, anisa langsung bangun dia menatap dika sambil tersenyum.
"baiklah aku bangun." ucap anisa beranjak dari tempat tidur tampa sadar kaki nya terasa sangat sakit sekali.
"aaaaa!! kenapa semakin sakit sih?" ucap anisa. dika tertawa kecil.
"hati-hati. sini saya bantu." ucap dika membawa anisa keluar.
"non anisa masih sakit? sini duduk dulu." ucap mamang. anisa tersenyum. "loh mamang memasak ini semua?" tanya dika. mamang mengangguk.
Dika jadi merasa tidak enak, karena Mamang memasak sendiri makanan yang cukup banyak.
"Kenapa Mamang tidak membangun kan saya?" tanya Dika. "Saya tidak ingin mengganggu." ucap Mamang.
"Seperti ini saya jadi merasa bersalah sekali." ucap Dika. "Tidak apa-apa Tuan, saya sudah terbiasa melakukan ini dulu. Anggap saja ini penyambutan kedatangan non Anisa." ucap Mamang.
"Terimakasih banyak yah Mang." ucap Anisa.
"Ya udah kalau begitu ayo duduk makan sama-sama." ucap Mamang. Mereka pun duduk bersama di meja makan.
"Humm masakan Mamang ternyata sama enaknya seperti masakan Kak Dika." ucap Anisa.
"Dulu tuan Dika belajar sama Mamang, tapi sekarang yang lebih lihai dan pandai memasak adalah dia." ucap Mamang.
"Aku juga pengen belajar dong mang." ucap Anisa.
"Tidak perlu Anisa.." ucap Dika. "Sesekali aku ingin memasak makanan yang enak untuk kakak." ucap Anisa.
Dika menggeleng kan kepala nya. "Biarkan saja dia belajar tuan, bukan nya lebih bagus? Kalau sudah menikah nanti non Anisa sudah pandai." ucap Mamang.
"Saya masih ingin melihat dia merengek meminta di Masakin oleh saya, setiap hari menunggu saya dan selalu memuji masakan saya." ucap Dika.
"Aku pasti melakukan itu, tapi kalau aku pintar masak, aku tidak akan menyusahkan kakak." ucap Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya. "Kalau kamu sudah bisa masak kamu tidak Akan pernah meminta saya memasak." ucap Dika.
Anisa menghela nafas panjang. "Kakak benar-benar aneh sekali, bagaimana bisa seorang lelaki melarang perempuan belajar masak." ucap Anisa dengan kesal namun terus saja makan.
__ADS_1
"Pelan-pelan nanti kesedak." ucap Dika. "Bodo amat." ucap Anisa dengan kesal, Manang yang melihat itu hanya tersenyum. Dika mencoba membantu membersihkan bibir Anisa namun Anisa menolak nya.
"Tidak sopan seperti itu di Depan Mamang, aku bisa membersihkan nya sendiri." ucap Anisa.
Dika menghela nafas panjang. "Nih untuk kamu, ini juga sangat enak." ucap Dika memberikan Ikan namun Anisa menolak nya.
Dia tidak bisa mengatakan apapun hanya bisa menghela nafas panjang menghadapi Sifat kekasih nya itu.
"Aaarrggg.... Perut ku sangat kenyang sekali." ucap Anisa mengelus perut nya. "Masakan Mamang sangat enak sekali, aku mau Mamang memasak seperti ini lagi." ucap Anisa.
"Terimakasih non, saya akan memasak yang lebih enak lagi dari pada ini untuk Non Anisa." ucap Mamang.
"Mamang sangat pintar memasak, rasa nya pas sekali. Kenapa Mamang tidak membuka restoran saja?" tanya Anisa.
Dika yang sudah menahan rasa cemburu hanya bisa diam melihat Anisa tidak henti memuji Mamang.
"Tempat di sini untuk membuka restoran tidak lah memungkinkan, saya juga sudah bekerja dengan tuan dika, saya sangat nyaman bekerja seperti ini." ucap Mamang.
"Kalau boleh tau istri Mamang di mana? Kok dari tadi gak kelihatan? apa mereka berada di rumah Mamang? Aku ingin bertemu dengan istri Mamang." ucap Anisa.
"Saya tidak memiliki istri Non, istri saya sudah meninggal dunia karena kanker payudara. Saya memiliki anak satu perempuan itu pun jarang Pulang." ucap Mamang.
Dika yang di abaikan merasa kesal dia langsung pergi dari sana. Cukup lama Anisa berbincang-bincang dengan Mamang.
"Oh iya Non kaki non masih sakit?" tanya Mamang. "Masih Mang, seperti nya keseleo dan juga banyak memar." ucap Anisa.
"Kalau begitu mari saya lihat. Saya bisa mengurut kaki non agar lebih baik." ucap Mamang.
Anisa menginyakan. Mamang mulai memijatnya.
"Non Anisa kok mau sih jauh-jauh datang ke sini, mengalami banyak peristiwa sangat nekat sekali, masih untung sampai di sini, bagaimana kalau tidak?" ucap Mamang.
"Jalan satu-satunya hanya ini mang. Kalau aku tidak datang ke sini, aku tidak bisa bertemu dengan Kak Dika." ucap Anisa.
"Seperti nya Non Anisa dan Tuan Dika saling mencintai, Mamang selalu berdoa yang terbaik." ucap Mamang.
"Aminn." ucap Anisa.
__ADS_1
"Kalau boleh tau non Anisa sudah umur berapa? kelihatan nya masih sangat muda." ucap Mamang.
"Saya masih kelas tiga SMA Mang, saya bertemu dengan kak Dika di sekolah, dia menjadi wali kelas saya." ucap Anisa.
"Oohh pantesan saja." ucap Mamang.
"Maksud nya?" tanya Anisa. "Tuan Dika memang sangat menyukai gadis yang jauh lebih muda dari pada dia, Mamang juga Heran." ucap Mamang.
Anisa tertawa.
"Sudah selesai, besok pasti sudah membaik, sebaiknya non Anisa menghampiri Tuan Dika. Dia merasa di abaikan itu sebabnya dia pergi." ucap Mamang.
Anisa baru sadar kalau Dika sudah pergi.
Anisa berjalan ke teras rumah.
"Kak Dika.." ucap Anisa. Dika mengabaikan nya. Anisa kesusahan mau duduk dia langsung membantu nya.
"Terimakasih." ucap Anisa. "Kamu sudah tidak bisa jalan dengan baik, tidak perlu banyak berjalan." ucap Dika dengan nada yang sedikit tinggi.
Anisa menatap nya. "Kakak kok marah?" tanya Anisa. Dika menghela nafas panjang. Dia menggeleng kan kepala nya.
"Kaki kamu sakit, kalau mau jalan harus hati-hati." ucap Dika. "sudah lebih baik kok, tadi Mamang memijat nya. Ternyata Mamang serba bisa yah, pijatan nya juga enak." ucap Anisa.
Dika diam lagi.
"Kok kakak diam sih? Kakak marah yah sama aku?" tanya Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya.
"Lalu kenapa kakak diam?" tanya Anisa.
"Saya tidak suka kamu selalu memuji orang lain seperti itu, kamu tidak henti-hentinya memuji Mamang, sementara saya sangat jarang mendapat kan pujian dari kamu." ucap Dika.
Anisa menatap Dika sambil tersenyum. "Ya ampun kak, sama Mamang saja kakak cemburu?" ucap Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya. "Siapa yang cemburu? saya tidak cemburu, saya hanya tidak suka." ucap Dika.
Anisa senyum-senyum. "Kenapa kamu senyum-senyum? Saya tidak pernah cemburu." ucap Dika.
"Yakin?" tanya Anisa. Dika mengangguk.
__ADS_1
"Ya udah deh kalau begitu aku mau ke dalam dulu cerita-cerita sama Mamang." ucap Anisa. Tiba-tiba Dika menahan tangan Anisa.
"Jangan.. Saya sudah di abaikan oleh kamu dari tadi. Kamu baru saja mengenal Mamang, namun kamu sudah akrab dengan nya. Saya sangat merindukan kamu." ucap Dika dengan wajah melas.