Kisah Anisa Di Sekolah

Kisah Anisa Di Sekolah
Episode 115


__ADS_3

Anisa menggeleng kan kepala nya.


"Enggak kok Bu." ucap Anisa. "Ya sudah kalau begitu, Semoga apapun Masalah nya ada jalan keluar nya dan cepat terselesaikan yah, ayo ke depan, acara nya sudah mau di mulai."


Mereka pun berjalan ke depan. Semua nya sudah berkumpul di depan yayasan. Anisa mencari Dika. Dia mendekati Dika yang duduk di kursi tamu undangan.


Dika tidak menghiraukan dia, dika hanya diam dan fokus pada pembawa acara.


"Apa kak Dika marah kepada ku? Hari ini kak Dika mendiam kan aku." batin Anisa.


Di sore hari acara pun selesai. Anisa dan Dika berpamitan kepada semua penjaga yayasan, kepada anak-anak juga.


"Tante sama Om mau pulang sekarang?" tanya Boni menyusul Anisa dan Dika.


"Kenapa sayang?" tanya Anisa.


"Aku pengen ikut Tante dengan Om." ucap Boni. Anisa menoleh ke arah Dika.


"Tidak bisa Boni, ibu yayasan Akan marah kalau kamu ikut dengan kami." ucap Dika.


"Tidak apa-apa kok pak, kamu sudah membicarakan ini sebelum nya, karena Boni sangat memohon ingin ikut dengan Bapak." ucap ibu yayasan.


"Tapi kami hanya memberikan waktu dua hari saja, setelah itu Boni akan kami jemput." ucap ibu yayasan.


"Ini serius Bu?" tanya Anisa.


"Iyah Mbak. Kami percaya kepada Mbak dan juga Pak Dika." ucap Ibu yayasan.


Dika tersenyum.


"Terimakasih banyak Bu, kalau begitu kami membawa Boni dulu." ucap Dika. Boni ternyata sudah menyiapkan baju nya dari tadi. Dika dan Anisa yang melihat itu tersenyum.


Di perjalanan pulang tidak ada percakapan di antara mereka, di belakang Boni sudah tidur.


"Sebaik nya saya membawa Boni ke apartemen saya, saya tidak ingin merepotkan kamu." ucap Dika.


Anisa menatap Dika. "Ibu yayasan tau kalau kita sering tinggal satu rumah, jadi mereka memesan agar kita menjaga nya berdua, aku sama sekali tidak keberatan kalau Boni di rumah ku." ucap Anisa.


Dika mengangguk. "Bagus deh kalau begitu." ucap Dika. Dika lagi-lagi langsung Diam. Handphone Anisa tidak berhenti berdering dari tadi, namun dia mengabaikan nya.


Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di rumah Anisa.

__ADS_1


"Horeee kita sudah sampai." ucap Anisa. Boni ikut juga bersorak. Dika melihat Anisa berlari membawa Boni masuk ke dalam.


Dika menghela nafas panjang. "Kenapa dalam kondisi seperti ini Boni Harus ikut dengan kami? Saya ingin menolak nya namun saya takut kesempatan ini tidak datang dua kali." ucap Dika.


Dia membawa kan barang-barang Boni.


"Sebaiknya Kamu bawa Boni mandi, kamu juga mandi lah." ucap Dika.


"Kakak juga tidak ingin mandi?" tanya Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya.


"Saya mau memasak makan malam." ucap Dika.


"Aku bantuin yah?" ucap Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya. "Tidak perlu." Ucap Dika.


Anisa menghela nafas panjang. "Baiklah kalau begitu." ucap Anisa.


"Wah rumah Tante sangat besar dan juga bagus, aku sangat suka." ucap Boni.


"Nanti kalau sudah besar Tante yakin Boni pasti memiliki rumah yang lebih besar dari pada ini." ucap Anisa.


"Aminnn." Boni mandi terlebih dahulu setelah itu bergantian dengan Anisa.


Setelah selesai mereka turun ke bawah. "Ayo duduk di sini, kamu harus mencicipi masakan om Dika yang sangat tampan, rasanya sangat enak sekali." ucap Anisa.


Mereka makan bersama di meja makan. Setelah itu menonton TV di ruang tamu.


Tidak beberapa lama Boni ketiduran. "Sebaik nya kita tidur, Boni sudah tidur." ucap Anisa. Dika mengangguk mereka membawa Boni ke kamar.


Dika memeluk Boni tidur. sementara Anisa menepuk-nepuk badan Boni agar lebih nyenyak.


"Selamat malam Kak." ucap Anisa mau mencium Dika namun di tahan oleh Dika.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Dika.


"Kenapa kakak bertanya? Aku biasa melakukan ini. Aku ingin mengucapkan selamat malam." ucap Anisa.


"Tidak perlu melakukan nya di depan Boni." ucap Dika. "Tapi kan Boni tidur." ucap Anisa.


"Kamu jangan keras kepala! cepat tidur." ucap Dika.


Anisa mengangguk dia kembali tidur di posisi nya.

__ADS_1


Dika memerhatikan Boni yang tidur sangat nyenyak. "Saya tidak ingin kamu pergi lagi dari om, om sangat ingin kamu tinggal seperti ini bersama Om." ucap Dika dalam hati.


Dia mengelus wajah Boni.


Entah apa yang dia pikirkan namun dia tidak sadar lagi kalau Anisa menangis. Dia tidak menghiraukan Anisa yang sudah menangis karena sifat nya.


Setelah beberapa saat akhirnya Dika tertidur begitu lelap memeluk Boni. Anisa yang tidak bisa tidur berbalik dia melihat Dika dan Boni nyenyak dia memutuskan untuk keluar dari sana.


Dia mengambil handphone nya.


"Aku tidak bisa kehilangan Kak Dika kalau seperti ini, tapi bagaimana aku harus menjelaskan kepada Candra?" ucap Anisa.


Karena dia sangat sedih dia memutuskan untuk menenangkan diri nya di lantai bawah.


Di tempat lain Candra baru saja selesai bekerja dengan laptop nya.


"Huff sampai sekarang Anisa belum membalas pesan ku." ucap Candra.


"Aku sangat merindukan dia, apa dia tidak merindukan aku lagi?" ucap Candra dalam hati.


Candra bolak-balik memeriksa ponsel nya berharap ada pesan dari Anisa, namun seperti nya itu mustahil.


Yang ada pesan dari perempuan yang dijodohkan kepada dia.


Keesokan harinya...


"Tok!! Tok!! Tok!!" Bunyi ketukan pintu penginapan Candra yang cukup keras.


Candra yang ketiduran di sofa langsung bangun.


"Candra buka pintu nya, buka..." teriakan dari luar. Candra sudah tau itu suara siapa.


Suara Calon tunangan nya, dia sudah ngomong kalau dia akan sampai pagi di Jakarta.


"Kenapa kamu sangat lama membuka pintu? Aku sudah capek, aku butuh istirahat, aku juga ngantuk sekali." ucap Lani.


"Kamu ngapain ke sini?" tanya Candra. "Aku ke sini karena paksaan orang tua kamu lah, lagian ngapain aku ngejar-ngejar kamu sampai ke sini, seperti kurang kerjaan saja." ucap Lani.


"Aku minta maaf sudah merepotkan kamu, Hanya saja aku belum ingin kembali, aku masih ingin bersama Anisa di sini." ucap Dika.


"di mana dia? Aku ingin bertemu dia, secantik apa sih dia sampai kamu mati-matian mau memperjuangkan hubungan dengan dia." ucap Lani.

__ADS_1


"Dia cantik, dia baik, dia selalu ada untuk ku,. dan juga menunggu ku." ucap Candra. Lani menghela nafas panjang.


"Humm aku mengerti, tapi jangan lupa kalau kita sudah di jodohkan, orang tua ku dan orang tua mu sudah sepakat, aku tidak memiliki alasan untuk menolak, aku hanya mengandalkan kamu, semoga saja cinta kamu dengan Anisa cukup kuat sehingga bisa membatalkan pernikahan kita ini." ucap Lani.


__ADS_2