
"Humm aku memiliki ide." ucap Anisa. Dia mengambil parfum nya dan menyemprotkan kesetiap baju Dika.
"Biar wanita-wanita lain yang mencoba mendekati Pak Dika tidak bisa, karena pak Dika hanya milik ku." ucap Anisa.
Setelah selesai dia istirahat sejenak sambil membuka aplikasi tiktok di handphone nya.
Sementara Dika di kantor nya sibuk dengan laptop nya. Dia bahkan tidak melihat jam. Karena sudah sangat pusing dia memutuskan untuk istirahat sejenak.
Dika melihat jam.
"Huff sudah jam delapan." ucap Dika. Namun pekerjaan nya tidak bisa di tinggal kan oleh nya.
Mau mengabari Anisa namun sudah terlanjur ponsel nya mati. Dika meminta sekretaris nya untuk mengambil charger nya terlebih dahulu.
Sementara di rumah Anisa sudah sangat kelaparan menunggu Dika.
"Pak Dika Kemana sih? Kenapa dia gak juga datang? Ini sudah telat satu jam." ucap Anisa yang sudah terlebih dahulu belajar.
Anisa tidak bisa menahan rasa lapar nya akhirnya dia memutuskan untuk memesan makanan dari luar. Makanan sudah datang namun Dika tak kunjung datang.
"Apa aku telpon saja yah? Tapi aku sangat malu kalau harus menelpon nya terlebih dahulu." ucap Anisa dalam hati.
Setelah selesai makan dia berniat menelpon karena sudah sangat khawatir di mana pak Dika.
"Loh kok gak aktif sih?"
Dia mencoba lagi namun tidak aktif.
"Huff sudah lah, dia mungkin tidak mengingat aku lagi." ucap Anisa dengan kesal. Dia lanjut belajar.
Anisa sudah sangat mengantuk sehingga dia ketiduran di ruang tamu di atas buku-buku nya Itu.
Tepat jam sepuluh malam Dika baru saja sampai di depan rumah Anisa. "Seperti nya dia sudah tidur." ucap Dika keluar dari dalam mobil.
Dalam keadaan sangat lelah, wajah lesu dan penampilan sangat berantakan sekali.
Dika membuka pintu.
"Loh kenapa belum di kunci?" ucap Dika Heran. Dia melihat Anisa yang ketiduran di karpet meja belajar.
"Dia menunggu saya sampai ketiduran, maafin saya Anisa." ucap Dika. Dika mendekati Anisa.
"Anisa..." panggil Dika membangun kan Anisa. Namun Anisa tidak bangun. Dika menyentuh lengan Anisa.
"Anisa kamu kenapa tidur di sini?" tanya Dika.
Anisa langsung sadar dia membuka mata nya dan menatap Dika.
"Bapak dari mana saja? Ini sudah jam berapa bapak baru pulang?" ucap Anisa dengan kesal.
"Saya ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal." ucap Dika.
__ADS_1
"Kalau bapak tidak bisa datang cepat, setidaknya bapak Mengabari aku, jangan membuat ku khawatir dan menunggu di sini!" ucap Anisa.
Dika terdiam sejenak.
"Sudah tengah malam seperti ini Bapak baru pulang, bahkan nomor bapak tidak aktif, pesan ku tidak di balas! Untuk apa bapak pacaran dengan ku!" ucap Anisa lagi.
"Handphone saya mati, saya tidak membawa charger." ucap Dika. "Saya minta maaf sudah membuat kamu menunggu lama sampai ketiduran." ucap Dika.
Anisa menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak mau memaafkan bapak!" ucap Anisa berdiri dari duduknya.
"Baiklah saya tau kamu pasti sangat marah, kamu istirahat lah di kamar, saya juga harus kembali ke apartemen saya." ucap Dika.
Anisa hanya diam.
"Saya permisi." ucap Dika. Anisa menahan tangan Dika.
Dika menoleh ke arah Anisa.
"Tidur lah di sini, Bapak juga sudah kelihatan lelah, pulang ke apartemen akan membuat badan bapak semakin penat." ucap Anisa.
"Kamu serius?" tanya Dika. Anisa menganguk.
"Baiklah kalau begitu." ucap Dika.
Anisa langsung pergi ke atas.
"Anisa..." panggil Dika mengetuk pintu kamar Anisa.
"Pakaian saya sudah sangat kotor. saya mau mandi, apa pakaian saya yang sebelumnya di sini sudah bersih?" tanya Dika.
Anisa mengambil baju Dika dan memberikan nya kepada Dika.
"Sisa nya aku akan mengantar kan ke apartemen bapak Besok." ucap Anisa. Dika mengambil baju santai yang di berikan oleh Anisa.
"Bapak mandi di sini saja, perlengkapan mandi hanya ada di sini." ucap Anisa. Dika menganguk.
Setelah selesai mandi Dika keluar dari kamar mandi mengunakan handuk di pinggang. Melihat Anisa sudah tidur membuat nya menghela nafas panjang.
"Saya sangat ingin memeluk nya, saya sangat merindukan nya." batin Dika. Dia memasang baju nya.
Keesokan harinya....
"Selamat pagi.." ucap Dika menyapa Anisa yang baru saja turun dengan pakaian rapi siap untuk kesekolah.
"Pagi.." Jawab nya dengan singkat.
"Saya sudah menyiapkan sarapan untuk kamu." ucap Dika. Anisa mendekati Dika yang sedang duduk di meja makan.
"Saya minta maaf soal tadi malam, saya janji tidak akan mengulangi nya lagi." ucap Dika.
Anisa menatap wajah Dika.
__ADS_1
"Aku hanya kesal karena bapak tidak memberikan kabar apapun kepada ku." ucap Anisa. Dika memegang tangan Anisa.
"Saya minta maaf." ucap Dika. Anisa menatap wajah Dika.
"Humm baiklah aku akan memaafkan Bapak." ucap Anisa. Dika tersenyum.
Waktu nya berangkat ke sekolah. "Pak tunggu dulu." ucap Anisa menahan Dika yang hendak keluar dari rumah.
"Kenapa?" tanya Dika. Anisa berdiri di depan Dika.
"Saya tidak pernah melihat bapak tidak rapi seperti ini." ucap Anisa sambil merapikan dasi yang di pakai oleh Dika.
Dika seketika tersenyum. Dia sengaja membuat baju nya berantakan untuk mencari perhatian Anisa.
"Anisa..." ucap Dika. Anisa memandang wajah Dika sedikit mendongak kan kepala nya karena Dika cukup tinggi.
Dika memegang leher Anisa dengan lembut dan mencium bibir Anisa.
Anisa terkejut namun dia tidak bisa menolak karena dia sangat menginginkan nya.
Dika melepaskan ciumannya.
"Saya sangat merindukan kamu." ucap Dika. Anisa tersenyum.
"Bapak selalu bersama ku, kenapa Bapak merindukan ku?" ucap Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya.
"Kalau begitu hari ini cepat lah datang ke sini." ucap Anisa.
Dika menganguk. Anisa mencium bibir Dika dengan singkat.
"Kalau begitu sebaiknya kita berangkat." ucap Anisa. Dika menahan pinggang Anisa. Anisa menatap bingung kepada Dika.
"Saya masih ingin berduaan dengan kamu." ucap Dika memeluk pinggang kecil Anisa.
"Tapi kita harus ke sekolah Pak." ucap Anisa. Dika melihat jam.
"Masih ada waktu setengah jam lagi." ucap Dika. Anisa menghela nafas panjang.
"Huff umur saja yang sudah tua, namun sifat seperti anak kecil." ucap Anisa. Dika mencubit hidung Anisa.
"Kamu berhenti meledek saya!" ucap Dika. Anisa tersenyum.
"Ada apa dengan Bapak? Kenapa kelihatan nya bapak memikirkan sesuatu?" tanya Anisa.
Dika menggeleng kan kepala nya. "Ada apa?" tanya Anisa.
Dika melepaskan pelukannya dari Anisa. "Sebaiknya kita berangkat." ucap Dika langsung. Anisa kebingungan namun dia mengikuti Dika keluar.
"Tunggu Dulu pak." ucap Anisa mengejar Dika, namun tidak sengaja tali sepatunya lepas dan ke injak. Dia hampir saja Jatuh Untung saja Dika dengan cepat langsung menangkap Anisa.
"Aaaaa .." Anisa berteriak. "Kamu pelan-pelan jalan nya, bagaimana kalau terjatuh ke lantai?" ucap Dika.
__ADS_1