
Anisa tersenyum. "Kamu pacar nya Dika?" tanya Lita kepada Anisa. Anisa mengangguk.
"Kamu sangat cantik, aku tidak menyangka kalau Dika akan berpacaran dengan perempuan semuda kamu." ucap Lita.
Anisa hanya diam.
"Semoga hubungan kalian langgeng yah." ucap Lita. Anisa tersenyum.
"Aku ingin membawa Boni bersama ku." ucap Dika.
"Aku tidak mau Pah, aku ingin menemani mamah di sini." ucap Boni langsung memeluk mamah nya.
"Gak apa-apa nak, kamu pergi lah dengan papah kamu. Besok kamu pulang lagi ke sini." ucap mamah nya.
"Tapi mah."
"Gak apa-apa kok, Mamah sudah terbiasa sendiri di rumah." ucap Lita.
Boni terlihat sangat Ragu. Dika dan Anisa bahkan sangat bingung kenapa baru satu Minggu Boni sudah sangat dekat kepada ibu nya itu.
Namun itu bisa jadi karena ikatan batin mereka berdua.
"Apa Mamah tidak mau ikut saja?" tanya Boni. Lita menggeleng kan kepala nya.
"Besok mamah ada kerjaan. Kamu pergi lah sama papah kamu." ucap Lita.
"Ya udah ayo kita pergi nak." ucap Dika mau membawa Boni.
"Dika aku mau bicara sebentar sama kamu." ucap Lita. Dika menoleh ke arah Lita. "Hanya sebentar saja." ucap Lita.
"Kamu tolong bawa Boni keluar dan tunggu di mobil." ucap Dika kepada Anisa.
Anisa menganguk.
"Ayo Boni ikut dengan Tante." ajak Anisa.
Mereka pun keluar.
"Kita tunggu di sini saja yah," ucap Anisa kepada Boni..Boni tersenyum sambil mengangguk.
"Apa yah kira-kira yang mau mereka bicarakan? Kenapa aku merasa penasaran seperti ini?" ucap Anisa.
"Huff bagaimana kalau mereka berbicara untuk kembali lagi?" ucap Anisa dalam hati.
Hampir satu jam di dalam mobil menunggu Dika akhirnya Dika keluar juga.
"Akhirnya kak Dika keluar, apa yah yang mereka bicarakan sampai sangat lama." ucap Anisa.
Dika masuk ke dalam mobil.
"Maaf yah membuat kamu lama nunggu." ucap Dika. Anisa tersenyum. Dika melihat Boni tidur di belakang.
__ADS_1
"Seperti nya dia sangat ngantuk sekali kak, biarkan saja." ucap Anisa. Dika menganguk.
Selama perjalanan tidak ada percakapan apapun. Anisa berusaha untuk mengajak Dika berbicara namun dia menjawab dengan sangat cuek.
Anisa akhirnya memilih diam saja.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah. Dika menggendong Boni masuk ke dalam rumah Anisa.
"Kamu jaga Boni sebentar yah, saya akan menyiapkan makan siang. Boni dan kamu pasti sangat lapar." ucap Dika.
Anisa mengangguk sambil tersenyum.
"Kenapa aku merasa kak Dika jadi lain sih setelah bertemu dengan mantan istri nya?" Anisa tidak berhenti memikirkan Dika dan Mantan istri nya.
"Wajar saja kalau orang tua kak Dika menjodohkan kak Dika dengan Mbak Lita. Dia sangat cantik, pintar mandiri dan kelihatan nya juga sangat baik." ucap Anisa.
Karena lelah berfikir dia memilih untuk berbaring di samping Boni.
"Kalau di lihat-lihat Boni sangat mirip dengan kedua orang tua nya." ucap Anisa.
Dia mencium kening Boni.
Di dapur Dika Memasak dengan cepat karena dia juga sudah sangat lapar sekali.
Setelah selesai masak dia naik ke lantai atas melihat Anisa dan Boni.
"Anisa ayo kita makan siang bersama di bawah." ucap Dika.
"Kok malah tidur sih?" ucap Dika.
"Anisa...." Panggil Dika dengan pelan namun tidak di jawab oleh Anisa.
"Anisa bangun.. Ayo kita makan siang dulu, setelah selesai makan siang kamu baru bisa tidur lagi." ucap Dika.
Adel bergeliat. Dika duduk di pinggir kasur dekat Anisa.
"Ayo bangun... Nanti lanjut tidur yah." ucap Dika.
"Aku tidak mau, aku tau kalau kakak membohongi aku. kakak pasti mau kembali kan kepada mantan istri Kakak?" ucap Anisa mengigau.
"Kamu berbicara apa? Kenapa kamu mengatakan itu?" tanya Dika kaget berusaha membangun kan Anisa.
Akhirnya Anisa bangun.
"Kakak!" ucap Anisa. Dika menghela nafas panjang.
"Kamu lagi mimpi apa? Kenapa kamu mengigau mengatakan saya akan kembali kepada mantan istri saya?" tanya Dika.
Anisa terdiam sejenak dia duduk.
"Aku mimpi kalau kakak meninggalkan aku dan memilih kembali bersama mantan istri kakak, aku sangat takut." ucap Anisa.
__ADS_1
"Tidak! Tidak! Saya tidak akan melakukan hal konyol seperti itu. Tidak mungkin saya meninggalkan kamu demi perempuan yang sudah meninggal kan saya sebelumnya." ucap Dika.
"Aku sangat takut kak." ucap Anisa.
"Itu karena kamu terlalu memikirkan nya, sudah jangan terlalu memikirkan nya lagi." ucap Dika.
Anisa menatap wajah Dika. "Sampai kapan pun saya akan terus bersama kamu, saya akan menikah dengan kamu." ucap Dika.
Anisa tersenyum dia langsung memeluk suaminya.
"Terimakasih kak. aku juga akan selalu bersama kakak." ucap Anisa.
Dika tersenyum dia mencium kening Anisa. Boni bangun...
"Kamu sudah bangun sayang?" ucap Anisa langsung membawa Boni ke pangkuan nya.
"Kita di mana Tante?" tanya Boni. "Ini di rumah Tante. Kamu tadi ketiduran jadi nya di gendong deh ke sini." ucap Anisa.
Boni terdiam sejenak.
"Ayo kita makan siang yok, Papah sudah menyiapkan makan siang untuk kita semua." ucap Dika.
Boni Mengangguk mereka turun ke bawah dan makan bersama di meja makan.
"Mamah sudah makan belum yah? Kasihan dia pasti makan sendiri." ucap Boni..Dika menoleh ke arah Anisa.
"Kamu anak papah juga nak, berhenti terus memikirkan mamah mu, sekarang kamu bersama Papah kamu tidak perlu memikirkan apapun." ucap Dika.
Boni langsung terdiam. "Jangan seperti itu kak, wajar saja Boni seperti itu kepada mamah nya." ucap Anisa.
"Sudah Boni ayo lanjut makan, kamu tidak perlu khawatir kepada mamah karena dia pasti sudah makan." ucap Anisa. Boni tersenyum sambil mengangguk.
Dika menghela nafas panjang.. Setelah selesai makan Anisa melihat Dika pergi meninggalkan meja makan terlebih dahulu.
Anisa mengikuti nya ke teras belakang.
"Kenapa kak?" tanya Anisa. Dika menoleh ke arah Anisa.
"Saya merasa Lita sudah mencuci pikiran Boni sehingga membuat Boni terus memikirkan dia." ucap Dika.
"Ssttt!!! Jangan berbicara seperti itu. Tidak mungkin." ucap Anisa. Dika memasang wajah sedih.
"Saya sangat menyesal tidak mengakui nya lebih awal." ucap Dika.
"Tidak apa-apa kak, Lagian kakak Masih bisa bertemu dengan Boni, kelihatan nya mantan istri kakak tidak melarang nya." ucap Anisa.
"Saya ingin Boni tinggal selama nya bersama saya." ucap Dika.
"Mungkin belum waktunya kak, Sabar kak, lagian Boni dan Mamah nya kelihatan nyaman. Dan Mbak Lita sangat sayang kepada Boni." ucap Anisa.
"Itu bohong! Itu hanya palsu.. kalau dia menyanyangi Boni tidak mungkin dia membuang anak nya!" ucap Dika. Anisa bingung harus mengatakan apa lagi kepada Dika agar bisa lebih tenang.
__ADS_1