
"Saya tidak cemburu. Saya marah karena kamu merespon pria itu berlebihan bahkan memeluk nya, bermanja-manja dan tidak mengijinkan nya pulang." ucap Dika.
"Wajar saja aku seperti itu Kak, kak Marsel itu adalah kakak ku. Saudara ku." ucap Anisa. Dika terdiam sejenak.
"maksud kamu apa?" tanya Dika.
"Iyah.. Kak Marsel itu adalah anak papah ku dari istri pertama nya, kami sangat dekat sekali, hanya saja umur nya jauh lebih tua dari pada aku." ucap Anisa.
Dika seketika terdiam.
"Kakak sudah salah paham. sekarang jangan marah lagi yah." ucap Anisa memegang tangan Dika.
"Jadi pria itu adalah kakak kandung kamu?" tanya Dika. Anisa menganguk. "lain kali sebelum mau cemburu tanya dulu, jangan langsung cemburu!" ucap Anisa.
"Justru kamu yang harus memberitahu saya agar saya tidak salah paham." ucap Dika. Anisa tersenyumlah.
"Loh kok malah duduk? Tadi kata nya mau pulang? Gak jadi?" tanya Anisa.
Dika menghela nafas panjang. "Jangan membuat saya kesal lagi." ucap Dika. "Dasar Pria tua yang mudah emosi." ucap Anisa.
Dika menatap Anisa dia menarik tangan Anisa agar duduk di samping nya. "Saya sangat takut kalau orang lain akan mengambil kamu dari saya." ucap Dika.
Anisa tersenyum. "Maka nya di jaga baik-baik." ucap Anisa. Dika menganguk.
"Tentu saja." ucap Dika. Anisa tersenyum.
"Yakin tidak mau pulang? Tadi mau pulang." ucap Anisa. Dika langsung memasang wajah cemberut. Berhenti meledek saya." ucap Dika.
"Kalau kakak pulang aku bisa bebas untuk tidur, aku tidak perlu menemani kakak di sini, aku juga bisa tidur dengan tenang." ucap Anisa.
Dika bersandar di lengan Anisa. "Jangan seperti itu, seakan-akan saya di sini mengganggu kamu, saya hanya tidak ingin jauh-jauh dari kamu." ucap Dika.
"Kakak memang sangat menggangu ku di sini." ucap Anisa. Dika memasang wajah manja.
"Jangan mengatakan seperti itu, saya tidak akan menganggu kamu kok." ucap Dika dengan Manja langsung berbaring di paha Anisa.
"Apa yang bapak lakukan?" tanya Anisa karena Dika memegang tangan Anisa dan mencium nya.
"Saya hanya ingin kamu memanjakan saya." ucap Dika. Anisa tersenyum dia mengelus rambut Dika.
"Apa bapak tidak malu kalau sifat bapak ini di ketahui oleh murid-murid yang lain nya?" tanya Anisa.
Dika menggeleng kan kepala nya. "Apa kakak yakin?" ucap Anisa. Dika menganguk lagi.
"kalau begitu aku akan memberi tau semua orang kalau kakak begitu manja." ucap Anisa.
Dika memegang tangan Anisa. "jangan mempermalukan saya seperti itu Anisa." ucap Dika. Anisa tertawa dia mencubit hidung mancung Dika.
"Tidak mungkin aku melakukan itu, aku ingin hanya aku yang tau sifat asli kakak, dan juga hanya sama aku kakak seperti ini." ucap Anisa.
Keesokan harinya...
__ADS_1
Dika dan Anisa tidur di kamar yang sama, Anisa membuat guling pembatas di antara mereka.
Dika bangun lebih awal dia membuka mata nya melihat di samping nya hanya ada guling. dia mengawas kan dan tersenyum melihat wajah imut Anisa.
Tidak berani menyentuh nya dia memilih untuk mengambil foto dan setelah itu langsung keluar.
"Selamat pagi cantik..." Dika masuk ke kamar membawa sarapan dan juga menghidupkan lampu kamar.
Anisa bergeliat dia membuka mata nya. Dika duduk di samping Anisa.
"Wangi sekali, kakak masak apa?" tanya Anisa.
"Ini makanan yang sangat bergizi. Semoga hari ini kamu bisa ujian dengan lancar." ucap Dika.
"Aminnnn..." Anisa.
Dia di suapin oleh Dika makan.
"Humm enak banget." ucap Anisa. Dika tersenyum. Setelah selesai sarapan mereka berdua siap-siap.
"Kak ini Sepatu nya yah." ucap Anisa baru saja membersihkan sepatu Dika. Dika mendekati Anisa yang sedang membaca buku.
Anisa awalnya tidak menghiraukan nya dia fokus kepada buku nya.
Dika menarik buku itu meletakkan nya.
Anisa menghela nafas panjang melihat wajah cemberut Dika.
Anisa memperbaiki dasi, baju dan juga memberikan Sepatu.
Anisa juga merapikan rambut Dika. "Cup.." Terimakasih sayang." ucap Dika mencium pipi Anisa.
Anisa memukul lengan Dika.
"Sangat tidak sopan!" ucap Anisa. Dika tersenyum.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka berangkat ke sekolah. Sampai di sekolah Anisa Berpisah dengan Dika.
"Anisa... Aku sangat takut sekali.. Seperti nya aku sudah semakin bodoh. Aku tidak yakin bisa menjawab ujian nya." ucap Putri.
Jangan ngomong seperti itu, kita pasti bisa kok." ucap Anisa.
"Eh lihat pak Dika datang, kalau dia jadi pengawas kita Akan sangat semangat. Apalagi kamu." ucap Putri memaksudkan Anisa.
Anisa tersenyumlah. "Dia berjalan ke arah kamu.". ucap Putri kepada Anisa.
"Selamat pagi pak." sapa Rida.
Dika menghentikan langkahnya.
"Selamat pagi semua nya.." ucap Dika.
__ADS_1
"Bapak sangat tampan hari ini." ucap Rida. Dika tersenyum.
"Terimakasih, tapi menurut saya biasa saja.. Semoga ujian kamu lancar yah, saya yakin kamu pasti bisa." ucap Dika.
"Terimakasih Pak." ucap Rida sangat senang sekali.
"Rida caper banget Sih." ucap Putri dengan Kesal. "Ya udah kalau begitu, bapak mau berbicara dengan murid yang lain Dulu." ucap Dika.
Dika mendekati Anisa.
"Bagaimana? Apa kamu gugup?" tanya Dika. Anisa menganguk.
"Humm sedikit." ucap Anisa.
"Ambil lah ini." ucap Dika memberikan pena yang sangat sering dia pakai.
"Kamu bisa mengisi ujian menggunakan ini. Saya tidak bisa memberikan yang lain. Semoga kamu bisa." ucap Dika.
Anisa tersenyum. "Ekhem-Ekhem.." Putri berdehem.
"Saya juga gugup pak, apa Bapak tidak ingin memberikan Saya barang penyemangat." ucap Putri.
Dika dan Anisa tersenyum.
"Ambil lah ini." ucap Dika memberi satu permen.
"wah terima kasih banyak pak." ucap Putri.
Dia langsung heboh pamer sengaja di depan Rida.
Dika menarik tangan Anisa dari Sana.
"Kenapa bapak membawa saya?" tanya Anisa.
Dika memberikan ciuman di bibir Anisa dengan singkat.
"Kamu pasti bisa menjawab semua nya dengan benar, kamu Harus membuktikan kalau kamu itu bisa di andalkan, kamu pintar dan bisa membanggakan orang tua." ucap Dika.
Anisa tersenyum dia membalas ciuman Dika. Cukup lama mereka berciuman Sampai nafas kedua nya habis.
"Sudah waktunya. Aku ke kelas dulu yah." ucap Anisa meninggalkan Dika. Anisa masuk ke kelas nya sambil senyum-senyum.
Ternyata teman satu kelasnya orang asing semua. Banyak juga siswa yang lain nya masuk ke kelas dia.
Dan ternyata pengawas nya bukan dika, walaupun bukan kekasih nya Anisa tidak patah semangat dia sangat fokus mengerjakan soal-soal.
Semua nya murid fokus dengan kertas ujian masing-masing.
Dika di ruangan yang ada Rida dan putri. Putri sangat kesal melihat Rida yang membuat nya muak.
"Fokus Putri!" ucap Dika.
__ADS_1