
"Jangan matikan telepon nya, aku mohon. Aku adalah Candra." ucap seseorang dari balik telepon. Anisa seketika terdiam sudah mengenal dan juga pria itu sudah jujur.
"Enggak! Kamu pasti berbohong berpura-pura kan? Mana mungkin Candra menghubungi saya? dia sudah melupakan saya." ucap Anisa.
"Ini aku Anisa, aku Candra, aku ingin berbicara dengan kamu." ucap Candra. Anisa mengeluarkan air mata nya dia kaget, dia juga rindu tapi di sisi lain dia merasa bersalah.
"Anisa..." panggil Candra namun tidak ada jawaban Sam sekali dari Anisa. "Apa kamu masih di sana? Aku mohon jangan mengabaikan ku seperti ini." ucap Candra.
"Selama ini kamu kemana? Setelah dua bulan kamu baru mengabari aku? Apa kamu tidak memikirkan aku?" ucap Anisa.
"Aku minta maaf, aku mengalami beberapa masalah yang tidak bisa aku jelaskan sekarang." ucap Candra.
"Aku sangat merindukan kamu Anisa, aku tidak bisa berbicara lama dengan kamu." ucap Candra.
"Kalau kamu merindukan aku, kamu pasti kembali dan menemui aku di sini." ucap Anisa. Namun sambungan telepon mereka langsung mati.
"Loh kok mati sih?" tanya Anisa heran karena tidak mendengar suara Candra lagi. Anisa menelpon lagi namun tidak aktif.
Anisa meletakkan ponsel nya.
"Candra masih mengingat ku? Bagaimana ini?" ucap Anisa dia jadi bingung dan pusing.
Dia menelpon Dika namun tidak juga angkat. "Dia kemana? Apa dia benar-benar marah kepada ku?" ucap Anisa.
Karena tidak berhenti memikirkan Dika dia memutuskan untuk menghampiri Dika ke apartemen nya. Sampai di parkiran dia sedikit ragu karena takut orang tua Dika di sana.
Tapi dia tidak ingin Dika berfikir kalau Anisa mengabaikan dia, Anisa mencintai Dika. Masalah seperti ini kalau di biar kan Dika akan berfikir yang aneh-aneh.
Dia mengetuk pintu namun tidak ada orang, dia membuka dengan pin pintu, setelah terbuka dia mencari Dika.
"Tidak ada siapapun di sini." ucap Anisa.
"Kak Dika..." Panggil Anisa membuka pintu kamar. Namun ternyata Dika juga tidak ada di sana.
"Kemana kak Dika? Anisa melihat handphone Dika.
"Huff pantesan saja tidak di jawab." batin Anisa.
"Tapi kalau handphone nya tinggal, dia kemana? apa jam segini dia belum pulang dari kantor nya?" tanya Anisa.
__ADS_1
Anisa menunggu satu jam di apartemen nya namun tidak kunjung datang. Dia merasa bosan. Dia ingin cepat bertemu dan menjelaskan kepada Dika perkataan nya tadi.
"Aku harus menghampiri Dika ke kantor nya." ucap Anisa.
Menyetir mobil nya ke perusahaan Dika. Walaupun ini pertama kali nya dia datang sendirian tapi dia tau perusahaan Dika.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai dia melihat Masih ramai dia langsung masuk ke dalam.
"Permisi mbak, ada yang bisa kami bantu?" tanya Staf yang melihat Anisa.
"Saya mau bertemu dengan pak Dika, apa dia ada?" tanya Anisa. "Apa sebelum nya Mbak sudah ada janji?" tanya Staf.
"Tidak ada Mbak, tapi saya adalah keluarga nya, ini adalah urusan yang sangat penting." ucap Anisa.
"Maaf mbak, ini sudah jam sepuluh malam, pak Dika juga tidak ingin di ganggu.. Dari tadi sore dia tidak keluar dari ruangan nya." ucap Staf.
"Antar kan saya ke ruangan nya," ucap Anisa. "Tidak bisa mbak, kalau mau bertemu besok saja,. kalau sekarang pak Dika sudah tidak menerima tamu." ucap Staf.
"Ada apa ini ribut-ribut? kenapa jadi berkumpul di sini?" tanya sekretaris Dika yang baru saja datang.
"Ini Bu, ada tamu yang ingin bertemu dengan pak Dika namun belum membuat janji." ucap Staf.
"Kamu ikut dengan saya." ucap sekretaris itu.
"Tapi Bu, kita tidak mengenal nya, bagaimana kalau dia berniat jahat?" ucap staf.
"Saya mengenal dia. Dia adalah orang penting pada pak Dika, lain kali jangan memperlakukan dia seperti itu kalau pak Dika tau dia pasti akan Marah besar kepada kalian." ucap sekretaris.
Mereka langsung takut dan meminta maaf kepada Anisa.
"Ibu kenal saya dari mana? Kenapa saya di bawa ke sini?" tanya Anisa.
"Kamu sudah mendengar dari para staf Kalau pak Dika tidak bisa di ganggu, dia bekerja di dalam karena perusahaan lagi bermasalah sampai sekarang." ucap sekretaris.
"Tapi saya harus segera bertemu dengan dia, saya ingin memastikan dia baik-baik saja." ucap Anisa. Sekretaris itu menggeleng kan kepala nya.
"Pak Dika baik-baik saja, justru kalau kamu masuk ke sana akan membuat pak Dika tidak bisa fokus bekerja, kalau kamu mau berbicara dengan pak Dika, kamu tunggu saja di sini." ucap sekretaris.
Anisa terpaksa menunggu dari pada tidak bisa berbicara dengan Dika.
__ADS_1
"Akhirnya semua selesai." Dika meregang kan otot-otot nya, dia melihat kamar udah jam dua belas lewat.
"Permisi pak Dika." sekertaris masuk ke dalam.
"Ada apa? saya pikir kamu sudah pulang? Saya tidak meminta kamu lembur." ucap Dika.
"Ini sudah tengah malam pak, sebaik nya bapak istirahat..Dan. seseorang menunggu Bapak di luar dari jam sepuluh tadi." ucap sekretaris nya.
"Siapa? apa orang tua saya?" tanya Dika. sekretaris nya menggeleng kan kepala nya.
"Sebaik nya bapak melihat nya keluar dulu." ucap sekretaris nya. Dika penasaran dia langsung keluar melihat siapa orang yang menunggu nya.
Melihat Anisa yang ketiduran di sofa membuat nya terkejut.
"Kenapa tidak memberi tahu kepada saya dari tadi?" ucap Dika Marah.
"Saya takut akan menggangu Bapak. Dari tadi banyak Staf yang terkena marah karena masuk ke ruangan bapak." ucap sekretaris nya.
"Kamu sudah tau saya bermasalah dengan Anisa, seharusnya kamu Mengabari saya kalau Anisa datang. " ucap Dika.
"Ah sudahlah tidak perlu di bahas. Saya akan membawa Anisa pulang kamu dan yang lainnya juga sudah boleh pulang.. Yang lembur suruh istirahat saja." ucap Dika.
sekretaris nya mengangguk, dia langsung pergi ke luar.
"Anisa...," Dika membantu kan Anisa dengan lembut, Anisa bangun." dia mencoba membangun kan lagi, namun Anisa tak kunjung bangun.
Dika duduk dia memerhatikan wajah Anisa.
"Asal kamu tau Anisa, saya sangat takut kalau kamu tidak memikirkan saya, namun ternyata saya Salah. Kamu datang mencari saya ke sini. Saya sangat senang sekali." ucap Dika.
Karena sudah sepi akhirnya Dika mengendong Anisa ke dalam mobil. Walaupun sangat berat karena cukup jauh juga.
"Seperti nya kamu sudah kelelahan, saya minta maaf sudah membuat kamu lama menunggu." ucap Dika..
sudah di mobil, Dika memasang sabuk pengaman, Anisa semakin Nyenyak tidur.
"Bapak mau mengantar kan dia pulang ke rumah nya?" tanya sekretaris nya. Dika menganguk.
"Tolong suruh supir membawa mobil ini." ucap Dika memberikan kunci mobil Anisa kepada Sekertaris nya.
__ADS_1