
Anisa sangat terkejut. "Awal nya saya sudah ingin menyerah karena kamu mencintai Candra dengan sangat tulus. Namun entah mengapa itu sangat menantang bagi saya." ucap Dika.
"Saya mencintai kamu, rasa ini semakin hari semakin bertambah, saya tidak bisa menghilangkan kamu dari pikiran saya sejenak saja." ucap Dika.
Anisa masih diam.
"Saya mencintai kamu. Saya merasakan itu di awal saya bertemu kamu." ucap Dika. Anisa mengingat jelas pertemuan mereka adalah di saat dia di restoran.
"Lalu bagaimana dengan wanita-wanita yang dekat dengan Bapak? Rida bagaimana?" ucap Anisa.
"Saya tidak memiliki siapapun, saya sudah putus dengan kekasih terakhir saya yang kamu lihat di acara ulang tahun teman Candra pada saat itu." ucap Dika.
"Gisel adalah saudara saya dan kalau Rida hanya anak murid saya." ucap Dika. "Aku juga murid bapak." ucap Anisa.
Dika menatap mata Anisa. "Saya mencintai kamu." ucap Dika. Anisa terdiam sejenak mencoba mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Dika.
"Apa yang membuat bapak mencintai saya?" tanya Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya. "Saya tidak memiliki alasan apapun, saya mencintai kamu dari hati saya." ucap Dika.
Anisa menatap Dika cukup lama. Tiba-tiba Dika melepaskan tangan Anisa.
"Baiklah saya mengerti, saya adalah teman Candra.. Tidak seharusnya saya menyukai pacar teman saya sendiri." ucap Dika Hendak pergi namun tiba-tiba Anisa menahan tangan Dika.
"Tunggu dulu." ucap Anisa. Dika kembali duduk di samping Anisa.
"Aku juga mencintai Bapak." ucap Anisa dan langsung menunduk kan kepala nya tidak berani menatap Dika.
"Saya tidak mendengar nya." ucap Dika. Anisa senyum-senyum karena malu.
"Katakan sekali lagi. Saya sudah terlalu tua sehingga pendengaran saya kurang bekerja." ucap Dika.
Anisa menatap mata Dika.
"Aku mencintai guru ku sendiri." ucap Anisa. Ekspresi wajah Dika tidak bisa berbohong kalau dia sangat senang sekali.
"Hummm kamu Seriusan?" tanya Dika. Anisa menganguk.
Kedua nya jadi malu-malu. Dika mendekati Anisa karena duduk mereka berjarak.
"Tante Anisa." ucap Boni yang baru saja datang dan langsung duduk di tengah. Dika menghela nafas panjang.. Sementara Anisa bersyukur sekali Boni datang.
Rasanya jadi sangat canggung..Malu dan bingung mau mengatakan apa lagi.
__ADS_1
"Tante tolong jelasin yang ini dong, aku gak tau." ucap Boni.."Sini Tante ajarin." ucap Anisa.
"Huff kenapa Boni datang di waktu yang tidak tepat sih?" ucap Dika dalam hati.
Dia di panggil oleh anak cewek juga minta di ajarin. Karena sudah selesai belajar mereka bermain ramai-ramai. Anisa di paksa ikut oleh mereka begitu juga dengan Dika.
Anisa dan Dika tidak jarang mengambil kesempatan untuk berpegangan tangan.
Tidak terasa sudah sore.
"Kami permisi yah Pak, Bu. Terimakasih sudah mengijinkan kami bermain ke sini." ucap Dika.
"Justru kami yang mengucapkan terimakasih kepada pak Dika dan Anisa." ucap pengurus yayasan.
Anisa dan Dika pun pamit.
"Tante Anisa, pak Dika." panggil Boni mengejar mereka.
"Iyah kenapa?" tanya Dika.
"Tante Anisa sama Pak Dika masih ke sini kan? Jangan lama-lama yah." ucap Boni..Dika menoleh ke arah Anisa.
"Horeee..." ucap Boni.
"Ya udah kalau begitu Tante Anisa dan pak Dika hati-hati yah." ucap Boni. Dika dan Anisa keluar dari gerbang.
"Kamu yakin tidak ingin ikut dengan saya?" tanya Dika menahan Anisa yang hendak membuka pintu mobil nya.
Anisa Menghela nafas panjang. "Aku tidak membawa supir, bagaimana dengan mobil ku kalau aku ikut dengan bapak." ucap Anisa.
Dika mengambil ponsel nya. "Kalau begitu saya akan menelpon supir saya, menjemput mobil kamu ke sini." ucap Dika.
Anisa menggeleng kan kepala nya. "Aku ingin menyetir sendirian. Aku tidak ingin naik ke mobil Bapak." ucap Anisa.
Dika menghela nafas panjang. "Sampai kapan kamu Akan marah? Saya sudah minta maaf." ucap Dika. Anisa membuka pintu mobil nya dan langsung masuk.
"Sampai kapan aku mau." ucap Anisa. Dika menghela nafas panjang.
"Aku pulang duluan yah pak Dika..." ucap Anisa sambil tersenyum dan memundurkan mobil nya membuat Dika yang bersandar hampir jatuh.
"Tunggu saya Anisa..." ucap Dika. Dika mengikuti mobil Anisa, namun mereka harus berpisah karena Dika harus ke tempat lain mengurus kerjaan nya.
__ADS_1
Tidak terasa sudah gelap, Anisa baru saja selesai mandi. Dia memakai baju yang menurut nya paling bagus, memakai wewangian yang sangat harum tidak lupa juga menata rambut nya.
"Huff kenapa rasanya jadi canggung seperti ini yah." batin Anisa memerhatikan wajah nya di cermin.
"Ayo Anisa semua nya akan biasa saja. Ini hanya awalan saja, kamu jangan mempermalukan diri." ucap Anisa. Tiba-tiba bel rumah berbunyi.
"Kenapa dia begitu cepat datang?" ucap Anisa karena masih ada waktu setengah jam lagi.
"Ayo Anisa jangan malu.." ucap nya. Setelah memastikan dia cantik dan rapi, Anisa turun dan membuka pintu.
Anisa melihat Dika yang berdiri di Balik pintu.
"Hummm silahkan masuk." ucap Anisa. Dika melihat Anisa dari atas sampai ke bawah.
"Kamu mau kemana?" tanya Dika.
"Maksud bapak?" ucap Anisa
"Tidak biasa nya kamu berpakaian seperti ini, dan juga ini sudah malam, kamu memakai makeup dan menata rambut." ucap Dika.
"Apa penampilan ku terlalu berlebihan? Aku hanya ingin membuat pak Dika suka." ucap Anisa dalam hati.
"Humm.. itu pak, aku baru saja pulang dari rumah Putri." ucap Anisa terpaksa berbohong. Tidak mungkin dia jujur kalau dia berdandan untuk Dika.
"Oohh begitu." ucap Dika..
"Kamu sudah makan? Saya membawa makanan yang di masak oleh Bibik." ucap Dika.
Anisa sengaja tidak makan karena dia tau kalau Dika berfikir Dika akan Masak, namun dia Malah membawa makanan yang di Masak oleh Bibik.
Mereka makan terlebih dahulu setelah itu belajar. Waktu belajar semua nya biasa saja. Namun yang aneh nya adalah Anisa tidak berhenti deg-degan ketika Dika mendekati nya, dia juga tidak berani menatap mata Dika sehingga Dika hanya bisa senyum-senyum melihat tingkah Anisa yang malu-malu.
"Pelajaran kita cukup sampai sini, kamu harus cepat istirahat agar tidak telat ke sekolah." ucap Dika. Anisa menganguk.
Dika mengelus kepala Anisa yang membuat Anisa terdiam mematung dan juga gugup. Dia melihat Dika yang tersenyum kepada nya.
"Sampai jumpa besok cantik.." ucap Dika. Anisa tidak mengatakan apapun, Dika pergi Anisa langsung menutup pintu.
"Aaaaaa!!!!!! Bisa gila aku kalau seperti ini." ucap Anisa berteriak sendiri. Dia memegang kepala nya sambil senyum-senyum.
"Ya ampun... Seperti nya aku tidak akan mencuci rambut ku tujuh hari tujuh malam." ucap Anisa.
__ADS_1