Kisah Anisa Di Sekolah

Kisah Anisa Di Sekolah
Episode 191


__ADS_3

Anisa menoleh ke arah Orang tua Dika.


"Orang tua Kakak adalah orang yang sangat penting, kakak tidak boleh menjadi anak yang durhaka. Aku sudah mengikhlaskan hubungan kita. Aku ingin kakak kembali bersama Mbak Lita demi Boni." ucap Anisa.


Dika menggeleng kan kepala nya.


"Jangan berbicara seperti itu Anisa." ucap Dika. Anisa tersenyum.


"Boni adalah anak yang pintar, aku tidak ingin nasib nya sama seperti aku, kekurangan kasih sayang dari orang tua. Jangan memikirkan ego kakak, kembali lah bersama Mbak Lita aku bahagia kok kalau kakak bahagia." ucap Anisa.


Anisa langsung pergi di bawa oleh Marsel.


Dika melihat Anisa pergi, dia mau mengejar lagi namun tangan nya langsung di tahan oleh Boni.


"Papah..." ucap Boni.


Dika menghela nafas panjang.


"Anisa butuh waktu untuk sendiri, dia pasti ingin menenangkan diri nya, kamu jangan memaksakan dia seperti ini." ucap Mamah nya.


Dika menganguk.


"Baiklah mah." ucap Dika.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah Anisa tersenyum.


"Huff akhirnya aku bisa kembali ke rumah ini." ucap Anisa. Marsel dan Tri tersenyum.


"Selamat datang di rumah nak." ucap Mamah dan papah nya.


Anisa tersenyum.


"Terimakasih yah Mah, papah." ucap Anisa. Papah dan mamah nya mendekati Anisa.


"Justru kami yang harus meminta maaf kepada kamu, kami bukan orang tua yang baik tidak bisa menjadi pedoman untuk kamu." ucap Papah nya.


Anisa menggeleng kan kepala nya. "Sekarang aku sudah mengerti aku sudah paham, aku juga minta maaf sama papah dan Mamah." ucap Anisa.


Mereka berpelukan. Anisa menangis memeluk kedua orang tua nya itu.


Tidak beberapa lama istri Papah nya datang bersama anak Papah nya.


Awalnya Anisa kaget dan takut karena dia masih ingin memiliki waktu bersama papah nya. Namun setelah mereka berbicara dengan baik akhirnya Anisa tidak takut mereka juga sudah saling memaafkan.


Marsel sangat senang melihat keluarga nya yang bahagia dan sudah baikan sekarang.


Dia melihat Tri tidak ada di samping nya.


"Kakak mau kemana?" tanya Anisa menahan Marsel.

__ADS_1


"Melihat Tri. Dari tadi kakak tidak melihat nya." ucap Marsel.


"Kakak benar-benar suka yah sama Tri?" tanya Anisa.


"Apa yang kamu bicarakan? Tidak mungkin lah, jangan membicarakan Itu sekarang nanti papah sama Mamah mendengar nya." ucap Marsel.


Anisa tersenyum. Marsel melihat Tri ke dapur ternyata sedang memasak.


"Apa yang Bapak lakukan di sini?" tanya Tri kepada Marsel.


"Saya mencari kamu, ternyata kamu di sini." ucap Marsel. Tri menghela nafas panjang.


"Aku tidak akan kabur. Lagian gaji ku menjadi pacar Bapak belum aku terima." ucap Tri.


Marsel menghela nafas panjang.


"Anisa sudah sembuh dia sudah sehat dan di sini ada Mamah yang menjaga nya, siang ini sebaiknya kita kembali ke apartemen dan Besok saya ingin membawa kamu ke rumah keluarga dari ibu saya." ucap Marsel.


"Secepat itu?" tanya Tri.


Marsel mengganguk.


"Ekhem-ekhem.." Tiba-tiba Papah nya datang.


"Eh Papah." ucap Marsel.


"Bukan Om, Om salah paham." ucap Tri.


"Tidak perlu malu-malu, semua keluarga sudah tau kok kalau besok kamu dan Marsel akan mempublikasikan hubungan kalian berdua, om sangat setuju sekali karena sudah sangat cocok Marsel menikah sebelum terlalu tua." ucap Papahnya.


"Papah jangan berbicara seperti itu, aku sudah menemukan calon ku." ucap Marsel.


"Papah hanya bercanda, ya udah kalau begitu papah harus pulang." ucap papah nya.


Sudah dua Minggu Papah nya tidak pulang, dia juga harus menghargai istri nya. Akhirnya mereka pulang.


Setelah selesai makan Anisa istirahat ke kamar nya di antar oleh Tri dan Mamah nya.


"Kalau kamu butuh sesuatu Mamah di bawah yah nak, untuk beberapa Minggu ini Mamah akan di sini menemani kamu sebelum kamu sembuh total." ucap Mamah nya.


"Iyah mah, makasih yah." ucap Anisa.


Tri dan Anisa tinggal di kamar itu. "Kenapa kamu Menatap ku seperti itu?" tanya Tri. Anisa menggeleng kan kepala nya.


"Aku tidak menyangka saja kalau kak Marsel benar-benar serius kepada kamu." ucap Anisa.


"Aku dengan pak Marsel hanya bohongan, tidak ada yang serius." ucap Tri.


"Jangan bohong deh, kamu juga sebenernya suka kan sama kak Marsel, aku juga setuju kok kalau kamu sama kak Marsel." ucap Anisa.

__ADS_1


Tri menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak mau." ucap Tri.


"Huff jahat banget sih, tapi aku yakin sih kalau kamu tidak akan bisa menolak kak Marsel, karena dia akan melakukan apa pun demi mendapatkan apa yang dia mau." ucap Anisa.


Tri menghela nafas panjang. "Kalau tau seperti ini aku tidak akan mau ikut ke sini." ucap Tri.


Anisa tertawa.


"Aku bisa melihat kalau kak Marsel benar-benar menyukai kamu, tidak pernah kak Marsel seterbuka dan juga seceria itu ketika bersama perempuan." ucap Anisa.


Tri terdiam sejenak. Tiba-tiba pintu terbuka. Marsel masuk ke dalam.


"Kak Marsel." ucap Anisa. Marsel tersenyum dia menoleh ke arah Tri.


"Siang ini kami harus pulang, kamu sama Mamah gak apa-apa kan?" tanya Marsel.


"Iyah gak apa-apa kok kak, semoga acara makan malam nya lancar." ucap Anisa.


Marsel tersenyum.


"Oh iya tentang Dika jangan terlalu di pikirkan yah." ucap Marsel.


"Iyah kak." ucap Anisa.


Tidak beberapa alasan akhirnya Tri dan Marsel sampai di apartemen nya.


"Bapak apa-apaan sih? Kenapa sih bapak harus bilang ke orang-orang kalau aku ini pacar sungguhan dan juga calon Bapak?" ucap Tri.


"Apa yang salah dengan itu? Bukan kah itu benar?" ucap Tri.


"Itu tidak benar sama sekali! Aku tidak mau menikah dengan bapak." ucap Tri.


Marsel terdiam sejenak.


"Pokoknya aku tidak mau menikah dengan pria seperti bapak, aku juga tidak mau pergi ke acara makan malam itu kalau membuat orang lain salah paham." ucap Tri.


"Baiklah kalau begitu, kalau kamu tidak mau pergi. Saya juga tidak bisa memaksa kan kamu." ucap Marsel dengan suara yang sangat lesu dan duduk di sofa.


Tri menghela nafas panjang dan masuk ke kamar nya.


Di kamar dia terdiam sejenak dia memikirkan apa yang sudah dia katakan dan mengingat wajah Marsel yang benar-benar sangat lesu tadi nya.


"Apa yang aku katakan keterlaluan?" ucap Tri.


"Aku tidak boleh lemah, aku harus tegas agar pak Marsel tidak semena-mena kepada ku!" ucap Tri.


Hari semakin sore, Tri melihat ke jam dinding.


"Huff kok pak Marsel diam saja sih? Dia kok gak ngajakin?" ucap nya kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2