
"Percaya atau tidak saya sudah menandatangani kontrak kerja sampai di Tgl sebelum saya berangkat ke kota lama saya." ucap Dika.
"Apa kakak berniat masuk ke sana sebentar saja?" tanya Anisa.
"Saya masuk ke sana hanya ingin mendapatkan kamu, saya sudah mendapatkan kamu, saya bisa keluar dengan tenang dan puas." ucap Dika.
Anisa menghela nafas panjang. "Aku sangat berharap kalau kakak akan menjadi guru ku sampai aku Lulus." ucap Anisa.
Dika menoleh ke arah Anisa.
"Saya percaya kamu bisa lulus, saya yakin itu." ucap Dika.
Anisa tersenyum. "Hum aku juga yakin, tapi aku kurang bersemangat kalau tidak ada pak guru tampan." ucap Anisa.
Dika menoleh ke arah Anisa, Anisa langsung tersenyum lagi.
"Saya harus fokus kepada pekerjaan saya sebelum orang tua saya marah besar karena mereka sudah tau saya menjadi guru." ucap Dika.
"Baiklah aku mengerti." ucap Anisa. Dika memilih baju kaos yang mau dia pakai.
"Kamu mau melihat saya memakai celana?" tanya Dika. Anisa langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan nya.
"Jangan ngintip kamu!" ucap Dika. "Humm baiklah." ucap Anisa.
"Udah belum? lama banget." ucap Anisa. Anisa merasa sudah cukup akhirnya dia memilih untuk membuka tangan nya dia terkejut karena di hadapan nya sudah ada wajah Dika.
Anisa terkejut Dika tersenyum.
"Kakak kenapa sih selalu iseng banget sih!" ucap Anisa. Dika tersenyum.
"Saya rasa kamu sudah cukup mandiri, kamu juga sudah bisa berdiri di kaki sendiri, jadi saya percaya kalau kamu bisa semangat karena setiap hari kamu dan saya akan bertemu di rumah." ucap Dika.
Dika berdiri di depan cermin sambil mengoleskan serum ke wajah nya.
"Kakak pakai apa sih?" tanya Anisa.
"Ini serum untuk pemutih kulit, saya sudah sangat lama terjemur matahari kulit saya semakin hitam." ucap Dika.
Anisa mengambil nya. "Kakak melakukan perawatan diri biar perempuan di luar sana tertarik kepada kakak kan?" tanya Anisa.
Dika menghela nafas panjang. "Mana mungkin saya melakukan itu untuk menarik perhatian perempuan lain, saya sudah cukup dengan satu perempuan seperti kamu." ucap Dika.
Anisa tersenyum. "Nah gitu dong, kalau begitu tidak perlu menggunakan ini, kakak sudah tampan seperti itu." ucap Anisa.
Dika terpaksa pasrah, dia tidak bisa melakukan apapun untuk melawan kekasih nya itu.
__ADS_1
"Aku mau tidur. Kakak juga tidur lah." ucap Anisa langsung keluar. "Sarah serum saya." ucap Dika.. Anisa tidak mendengar kan nya.
"Kamu dari mana?" tanya Tri melihat Anisa baru masuk ke kamar sambil senyum-senyum.
"Kamu sudah selesai mandi?" tanya Anisa. "Sudah dari tadi." ucap Tri.
"Oohh ya udah kalau begitu aku mandi dulu." ucap Anisa. Tri melihat wajah Anisa.
"Orang-orang yang sedang jatuh cinta memang seperti dunia hanya milik berdua, namun ketika sudah patah hati menangis satu Minggu." ucap Tri.
Tri menghela nafas panjang. Dia melihat foto di atas meja.. Foto Anisa bersama Marsel.
"Marsel... Nama yang sesuai dengan karakter nya yang sangat dingin dan juga galak." ucap Tri.
Tidak beberapa lama akhirnya dia tidur, begitu juga dengan Anisa setelah selesai mandi dia langsung tidur.
Keesokan harinya.. Anisa bangun lebih awal karena harus siap-siap ke sekolah. Dia membiarkan Tri tidur dulu karena dia juga pasti sangat lelah.
Hari ini juga Tri tidak ada kegiatan apapun.
Anisa turun dari lantai atas.
"Selamat pagi.." ucap Dika menyapa Anisa. Anisa melihat ke arah Dika.
"Kenapa kakak begitu cepat bangun?" tanya Anisa. Dika tersenyum. "Menyiapkan kamu sarapan cantik." ucap Dika mencubit pipi Anisa.
"Jangan lakukan itu kak, liptin ku akan hilang." ucap Anisa.
Dika tersenyum. "Ya udah kamu sarapan dulu nih. Setelah itu saya akan mengantar kan kamu." ucap Dika.
"Kakak gak Apa-apa keluar?" tanya Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya. "Saya untuk sementara harus memakai mobil lain agar tidak banyak yang mengenal nya." ucap Dika.
"Kakak sudah seperti buronan saja." ucap Anisa.
Dika menghela nafas panjang. "Nih makan dulu setelah itu kamu baru berangkat." ucap Dika, Anisa mengangguk.
Dia makan masakan Dika. "Tri belum bangun?" tanya Dika.
"Dia anak nya kebo banget jadi tidak mungkin dia bangun jam segini." ucap Anisa. Dika tersenyum.
"Tri sebelum nya dia pernah bekerja jadi asisten di rumah saya." ucap Dika.
"Hah? Seriusan?" tanya Anisa. Dika mengangguk.
"Namun dia tidak betah, hanya tiga bulan langsung ijin keluar." ucap Dika.
__ADS_1
"Loh kenapa? Bukan nya bekerja dengan kakak gaji nya pasti besar." ucap Anisa.
"Saya juga tidak tau alasan nya, saya sudah menaikkan gaji nya Tapi dia tetap mau keluar." ucap Dika. "Oohh." ucap Anisa.
"Sudah jangan membahas itu lagi, ayo kita berangkat." ucap Anisa. Dika mengangguk.
Mereka berangkat meninggalkan rumah itu.
Sementara di tempat lain Putri baru saja selesai memasang sepatu sekolah nya di depan rumah dia melihat mobil Arya masuk ke dalam halaman rumah nya.
"Ada apa lagi anak itu ke sini?" ucap Putri dengan kesal.
"Loh Arya datang menjemput kamu? Bagus deh, Ayah bisa mengantarkan adik kamu terlebih dahulu ke sekolah nya." ucap papah nya.
"Selamat pagi Pak." ucap Arya datang dan menyalim orang tua putri.
"Nak Arya apa kabar?" tanya Ayah nya putri.
"Baik Pak." ucap Arya.
"Saya datang mau menjemput Putri." ucap Arya.
"Silahkan, saya berterimakasih sudah mau menjemput Putri." ucap ayah nya putri.
Putri mengikuti Arya ke dalam mobil. Setelah beberapa hari akhir nya mereka pergi.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau menjemput aku?" tanya Putri.
"Karena kalau aku bilang kamu pasti menolak." ucap Arya. Putri menghela nafas panjang.
"Huff kamu sangat keras kepala sekali, jadi sangat sulit menebak kamu. Di jemput salah tidak di jemput tambah salah." ucap Arya.
"Aku tidak pernah meminta kamu menjemput aku!" ucap Putri. "Tapi aku yang ingin, karena aku sudah janji kepada ayah kamu kalau bisa mengantar dan menjemput kamu." ucap Arya.
Putri menghela nafas panjang.
"Aku tidak mau di jemput atau di antar sama kamu!" ucap Putri.
Arya menghela nafas panjang. "Kamu seharusnya mengucap kan terimakasih sama aku sudah menjemput, bukan nya marah-marah." ucap Arya.
"Terimakasih kamu sudah menjemput ku, tapi lain kali tidak perlu repot-repot." ucap Putri.
"Aku tetap akan menjemput kamu kalau sempat." ucap Arya.
"Aku tidak akan mau kalau kamu memaksa ku." ucap Putri. Arya diam.
__ADS_1
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di sekolah karena tidak terlalu jauh juga.
"Loh itu bukan nya Anisa?" ucap Arya.