
"Kenapa kakak tersenyum? Apa kakak berbohong? kakak membohongi aku?" tanya Anisa.
Marsel menggeleng kan kepala nya. "Kakak tersenyum karena tidak pernah kamu sekhawatir ini kepada papah." ucap Marsel.
"Kak Dika pernah bilang kalau mereka tetap lah orang tua ku walaupun banyak sudah kesalahan yang mereka buat, dia juga bilang kalau aku boleh marah tapi jangan lama-lama." ucap Anisa.
Marsel menghela nafas panjang. "Dika lagi yang berhasil menasehati kamu, seandainya saja kakak yang menasehati kamu, tidak mungkin lah kamu mau mendengarkan nya." ucap Marsel.
Anisa tersenyum. "Ya udah kalau begitu kakak mau ke kamar dulu, kakak sudah sangat lelah sekali.. Kamu juga istirahat lah." ucap Marsel kepada Anisa.
"Oke kak. Selamat malam." ucap Anisa. Marsel mengelus kepala Anisa dan mencium nya.
Marsel masuk ke dalam kamar nya. "Huff Untung saja kak Marsel tidak terlalu pemarah, aku masih bisa menyakinkan untuk percaya kepada kak Dika, namun kalau dia kecewa lagi aku tidak menjamin hubungan ku dengan kak Dika akan baik-baik saja." batin Anisa.
Tidak beberapa lama akhirnya dia masuk ke kamar nya. Dia kaget melihat Dika tidur di tempat tidur nya.
"Kenapa kakak tidur di sini?" tanya Anisa. Dika menoleh ke arah Anisa.
"Mamang malam ini pulang ke rumah nya, jadi saya bisa tidur di sini bersama kamu." ucap Dika.
"Tidak bisa! Bagaimana kalau Kak Marsel melihat nya?" tanya Anisa. Dika menghela nafas panjang.
"Dia tidak akan tau, besok subuh saya langsung pindah." ucap Dika.
Anisa diam. Dika merentang kan tangan nya.
"Kemarilah, saya ingin tidur dengan kamu, saya sangat merindukan kamu." ucap Dika.
Anisa tersenyum dia pun mendekati tempat tidur dan langsung memeluk Dika.
Dika mendekab nya begitu erat sekali. mencintai Pipi dan juga leher Anisa.
"Geli kak, jangan lakukan itu." ucap Anisa. Dika tersenyum.
"Kamu tau waktu melihat kak Marsel datang saya sangat takut sekali." ucap Dika. Anisa menatap wajah Dika.
"Aku mohon jangan membuat kak Marsel kecewa lagi, aku juga sangat takut kalau kak Marsel tidak mengijinkan aku bersama kakak." ucap Anisa.
Dika mengangguk. "Maafin saya." ucap Dika sangat merasa bersalah. Anisa mengangguk sambil tersenyum.
Dika mencium bibir Anisa. Anisa membalas nya. Kedua nya sudah sangat menikmati ciuman dan pelukan hangat dari masing-masing.
__ADS_1
"Kak Dika!" ucap Anisa tiba-tiba memukul dada Dika.
"Apa yang salah?" tanya Dika.
"Kakak pasti meninggal kan bekas di leher ku." ucap Anisa. "saya tidak yakin. Saya hanya mencium nya." ucap Dika.
"Mari saya periksa." ucap Dika. Anisa menurun kan sedikit Baju nya karena tidak tepat di leher.
"Humm sudah merah. Saya minta maaf saya tidak sadar." ucap Dika. Anisa menghela nafas panjang.
"Sangat menyebalkan! Kakak tau kan kalau menghilang kan bekas seperti ini tidak lah mudah." ucap Anisa.
"Kamu jangan menggunakan baju yang terbuka, tidak akan kelihatan." ucap Dika.
"Justru baju ku semua nya terbuka di bagian dada, ini tidak akan ketutupan." ucap Anisa. Dika tersenyum.
"Saya akan membeli baju yang tertutup dan bagus." ucap Dika gemes melihat wajah Anisa yang sudah sangat kesal.
Dika mau mencium Anisa namun di tahan oleh Anisa, aku tidak mau, sebaiknya kakak pergi saja." ucap Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya.
"Kalau begitu jangan mencium ku lagi, aku takut kalau kakak akan meninggal kan bekas lagi." ucap Anisa.
"Saya tidak akan melakukan nya lagi. Saya akan lebih hati-hati." ucap Dika..Anisa menggeleng kan kepala nya.
Dika memasang wajah datar.
"Baiklah-baiklah saya minta maaf, saya tidak akan melakukan nya, tapi biarkan saya tidur di sini bersama kamu." ucap Dika.
"Tapi kakak harus janji tidak akan melakukan apa-apa pada ku!" ucap Anisa.
Dika mengangguk. "Tapi saya tidak bisa memastikan setelah saya sudah tidur, karena saya bisa bergerak Tapi tidak sadar." ucap Dika.
Anisa menghela nafas panjang dia mau beranjak namun di tahan oleh Dika.
"Saya hanya bercanda." ucap Dika. Anisa menatap Dika dengan tatapan kesal. Dika senyum-senyum.
"Jangan kesal lagi, mari kita tidur." ucap Dika.
Dia memeluk Anisa, mencium nya.
"Good night Baby." ucap Dika sambil terus menciumi pipi Anisa.
__ADS_1
"Good night mantan guru ku." ucap Anisa. Dika tersenyum.
Kedua nya berpelukan. Anisa seperti biasa akan tidur di lengan Dika. "Apa yang kakak lakukan?" tanya Anisa karena Dika tidak tidur malah mengelus perut nya.
Dika tidak menjawab. "Hentikan kak, rasanya sangat geli." ucap Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya.
"Suatu saat nanti kamu akan mengandung anak saya di sini." ucap Dika. Anisa tersenyum.
"Sebelum memiliki anak, sebaik nya kakak memikirkan Boni dulu." ucap Anisa. Dika mengangguk.
"Boni sangat suka anak kecil sama seperti saya, saya yakin dia pasti akan sangat senang kalau memiliki adik." ucap Dika.
"Aku masih anak SMA, butuh satu tahun lagi untuk mewujudkan keinginan itu." ucap Anisa.
"Dua tahun, tiga tahun atau berapa tahun pun itu, saya akan terus menunggu." ucap Dika.
Anisa tersenyum.
"Kamu adalah cinta terakhir saya, saya percaya kalau kamu jodoh saya, walaupun banyak cobaan, banyak lika-liku. Saya akan terus-menerus bersama kamu dan selalu mencintai kamu." ucap Dika.
Anisa tersipu malu dia menutupi wajahnya. Dika sadar Anisa salting dia pun memilih untuk memeluk Anisa semakin erat.
Keesokan harinya...
"Kak! Kak Dika bangun.." ucap Anisa membangun kan Dika.
"Kenapa sayang? ini masih subuh, kenapa kamu membangun kan saya?" tanya Dika.
"Buruan pindah, sebelum kak Marsel bangun." ucap Anisa. Dika menghela nafas panjang.
"Huff, saya hampir lupa kalau calon kakak ipar di sini. Seperti nya saya harus segera menghalalkan kamu agar tidak perlu menjaga batas, dan pindah seperti ini." ucap Dika.
Anisa tersenyum mendengar Dika. Akhirnya Dika pindah setelah mencium dan memeluk Anisa.
Anisa memaksa nya pergi. Dika pun menginyakan.
Keluar kamar dia memastikan tidak ada siapa-siapa setelah itu dia langsung ke kamar nya karena melihat pintu kamar Tamu sudah mau kebuka.
"Huff Untung saja aku masih sempat masuk tidak kelihatan." ucap Dika, dia masih sangat mengantuk dia lanjut tidur.
Namun biasanya dia memeluk Anisa sekarang tidak ada terasa sangat dingin dia memeluk bantal guling.
__ADS_1
Di pagi hari...
"Selamat pagi kak Marsel." sapa Anisa dan Dika yang sedang masak di dapur. Marsel baru saja keluar dari kamar walaupun dia bangun dari subuh dia akan keluar setelah jam tujuh atau delapan karena bingung mau ngapain.