Kisah Anisa Di Sekolah

Kisah Anisa Di Sekolah
Episode 147


__ADS_3

Anisa memaksa nya pergi. Dika pun menginyakan.


Keluar kamar dia memastikan tidak ada siapa-siapa setelah itu dia langsung ke kamar nya karena melihat pintu kamar Tamu sudah mau kebuka.


"Huff Untung saja aku masih sempat masuk tidak kelihatan." ucap Dika, dia masih sangat mengantuk dia lanjut tidur.


Namun biasanya dia memeluk Anisa sekarang tidak ada terasa sangat dingin dia memeluk bantal guling.


Di pagi hari...


"Selamat pagi kak Marsel." sapa Anisa dan Dika yang sedang masak di dapur. Marsel baru saja keluar dari kamar walaupun dia bangun dari subuh dia akan keluar setelah jam tujuh atau delapan karena bingung mau ngapain.


"Pagi." jawab Marsel dengan singkat karena melihat Dika..Anisa tau kalau kakak nya itu masih jengkel kepada kekasih nya.


"Kak aku sudah buatin kopi kesukaan kakak nih, silahkan di minum." ucap Anisa memberikan nya kepada Marsel.


"Tadi subuh kakak tidak melihat kopi ini, kenapa tiba-tiba ada?" tanya Marsel. "Tadi aku minta kak Dika membeli keluar." ucap Anisa.


"Oohh Dika." ucap Marsel. "Humm Iyah kak. Berhenti dong marah sama kak Dika. Aku jadi gak enak kalau seperti ini." ucap Anisa.


"Kakak tidak melakukan apapun, kenapa kamu beranggapan Kakak masih marah?" tanya Marsel. Anisa menghela nafas panjang.


"Aku bisa melihat dari wajah kakak." ucap Anisa.


"kakak gak marah kok, sudah abaikan saja kalau terlihat marah." ucap Marsel.


Anisa mengangguk.


"Ya udah deh kalau begitu aku lanjut kan masak dulu yah kak." ucap Anisa. Marsel mengangguk.


Marsel melihat Dika dan Anisa masak sangat kompak dan romantis bahkan mereka tidak mengingat keberadaan Marsel di sana.


"Selamat pagi Tuan Dika, Pak Marsel." ucap Mamang baru saja datang. "Pagi juga mang.'' ucap Anisa.


Namun dia terkejut sekali Tri ikut bersama Mamang.


"Loh kamu Tri kan? Kamu yang membantu aku ke sini kan?" tanya Anisa.


"Loh yang kamu maksud itu pacar kamu adalah Tuan Dika?" tanya Tri.


Anisa menginyakan. "Ya ampun kenapa dunia begitu sempit sekali. Aku sangat senang bisa ketemu kamu lagi. Ngomong-ngomong kamu bantuin Mamang ke sini yah? Kamu sangat baik sekali." ucap Anisa.


"Aku ke sini nganterin bapak aku." ucap Tri.

__ADS_1


"Bapak kamu di mana?" tanya Anisa.


"Mamang adalah Bapak ku." ucap Tri.


"Kamu serius?" tanya Anisa, Tri mengangguk.


"Terimakasih yah Tri sudah membantu Anisa ke sini." ucap Dika.


"Iyah Tuan, karena dia juga saya teringat pulang ke sini." ucap Tri. Akhirnya mereka sarapan sama-sama.


"Oh iya Tri kenalin nih kakak aku yang sebelumnya nya pernah aku bilang jomblo abadi sama seperti kamu trauma cerita nya." ucap Anisa.


Marsel menatap dengan kesal. Anisa tertawa Dika tersenyum.


"Nama Nya Marsel." ucap Anisa. Tri tersenyum ke arah Marsel. Sementara Marsel tetap memasang wajah datar nya.


"Kapan rencana nya kalian akan pulang Tuan?" tanya Mamang. Dika menoleh ke arah Anisa dan Marsel.


"Mungkin besok pagi Mang." ucap Dika. "Oohh begitu." ucap Mamang. "Oh iya Tri. Kamu bilang kalau kamu mau main ke kota aku kan? ayo ikut bareng kita." ucap Anisa.


Tri menggeleng kan kepala nya. "Kamu ikut saja." ucap Dika.


"Saya sudah betah di kota sebelah." ucap Tri.


Dika menghela nafas panjang. "Kalau kamu ikut dengan saya, Otomatis kamu bisa melihat dunia lebih luas, di sana kamu pasti memiliki masa depan yang bagus. Kamu bisa bekerja di perusahaan saya." ucap Dika.


"Kamu bisa bekerja di toko kue Kak Marsel, kebetulan lagi ada pencarian karyawan Baru." ucap Anisa.


"Kan karyawan laki-laki Anisa." ucap Marsel.


"Kakak tidak melihat Tri seperti laki-laki? Gaya berpakaian nya saja sudah sama seperti kakak." ucap Anisa.


Dika dan Marsel menghela nafas panjang melihat Anisa, tidak menyangka kalau Anisa akan bersifat care dan juga baik kepada orang baru.


Akhirnya Tri mau ikut setelah di bujuk bapak nya.


Keesokan harinya....


waktu nya kembali ke Jakarta. Mereka berempat satu mobil.


"Kamu di depan saja sayang." ucap Anisa kepada Dika yang mau duduk di belakang bersama nya karena Marsel yang menyetir.


"Takut Anisa, segan lah." ucap Dika. "Gak apa-apa kak, biar aku duduk di belakang sama Tri." ucap Anisa.

__ADS_1


"Kalian mau ikut atau tidak?" tanya Dika.


"Ya udah deh." ucap Dika langsung masuk ke dalam mobil di samping Marsel.


Anisa tersenyum. Tri masih pamitan kepada Mamang.


"Mang kami berangkat dulu yah, titip rumah." ucap Dika.


Mamang mengangguk. Mereka sudah ada di dalam mobil dan melambai kan tangan ke Mamang yang sedih karena di tinggal.


Selama perjalanan hanya ocehan Anisa yang terdengar. Tri, Dika dan Marsel sama-sama pendiam.. Mungkin kalau tidak ada Anisa Akan sangat sepi sekali.


Tri tiba-tiba Mual dia mabuk di perjalanan mungkin karena tegang. Marsel langsung berhenti. Anisa membantu dan Marsel memberikan minum.


"Gaya doang kaya laki-laki," ucap Marsel.


"Aku tidak suka pewangi mobil itu, sangat bau." ucap Tri. Memang pewangi itu hanya untuk orang yang terbiasa saja.


Dika membuangnya.


Mereka bertukar posisi Dika ke belakang. Dika merasa lega sekali.


Marsel melihat dari cermin kalau Dika menggandeng tangan Anisa. Mereka berdua ngeh Dika langsung melepaskan nya.


Diam-diam Mereka mencari kesempatan untuk Berpegangan dan pada akhirnya Anisa tertidur di paha Dika.


Marsel yang melihat itu menghela nafas panjang. Dia menoleh ke samping nya. Ternyata Tri juga sudah tidur di samping nya.


"Kenapa dia begitu mirip sekali dengan almarhum Ibu." ucap Marsel. Dia sambil memerhatikan wajah Tri.


Satu hari di perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah Anisa.


"Kak Marsel untuk sementara waktu kak Dika akan tinggal di sini gak apa-apa kan kak?" tanya Anisa.


"Kenapa?" tanya Marsel.


"Karena Masalah dengan keluarga nya, sebelum nya aku sudah ngomong juga sama kakak." ucap Anisa.


"Baiklah, tapi kakak akan tinggal di sini juga." ucap Marsel.


"Bukan nya kakak harus kembali ke kota Kakak?" tanya Anisa. Marsel mengingat jadwal nya dia menoleh ke arah Tri yang hanya diam.


"Baiklah kalau begitu saya akan membawa Tri dengan saya." ucap Marsel. "Kakak yakin? saya tidak ingin membebani kakak dengan Tri, saya akan mengerjakan dia kantor saya." ucap Dika.

__ADS_1


"Saya juga bisa membuat dia bekerja di pabrik dan toko saya." ucap Marsel. "Kok jadi rebutan sih? tanya Tri saja bagaimana mau nya. Lagian toko kakak kan di sini.. Biarkan saja Tri di sini." ucap Anisa.


"Huff terserah saja deh, kalau begitu saya harus segera kembali. Untuk kamu Dika jangan berani macem-macem, setiap Minggu saya akan datang." ucap Marsel.


__ADS_2