
"Ada apa kak?" tanya Tri.
"Bahan makanan yang ini sudah ada belum? Kamu sudah mencatat nya?"
Ternyata Tri belum mencatat dia harus membuat catatan dulu baru di kirim kepada ketua setelah itu dia baru lanjut istirahat.
"Huff aku tidak mau di ganggu lagi, waktu nya untuk istirahat." ucap nya langsung mematikan handphone nya.
Tidak beberapa lama karena kecapean dia sudah tidur dengan sangat nyenyak sekali.
Begitu juga dengan Anisa dan Dika. Kedua nya sama-sama lelah.
"Aku tidur duluan yah, besok aku harus ke sekolah dengan cepat." ucap Anisa. Dika mengangguk dia mencium bibir Anisa.
"Good night." ucap nya.
"Good night Baby." ucap Anisa sambil tersenyum.
Dika masuk ke kamar nya langsung merebahkan tubuhnya yang sangat lelah. Anisa sampai di kamar nya dia juga langsung tidur.
Namun Dika tiba-tiba terbangun dia meraba di samping nya tidak ada siapa-siapa.
"Sial! Karena kebiasaan tidur bersama Anisa membuat ku tidak bisa tidur dengan nyenyak setiap malam nya." ucap Dika.
Dia keluar dari kamar nya naik ke atas. Sampai di atas dia mengetuk pintu kamar Anisa. Anisa terbangun.
"Kenapa kak?" tanya Anisa. Dika dengan wajah ngantuk menarik tangan Anisa ke tempat tidur mendorong nya dan tidur memeluk Anisa.
Anisa menghela nafas panjang. "Apa yang kakak lakukan? Kalau kak Marsel tau dia pasti akan sangat marah." ucap Anisa.
Dika tidak menjawab. "Kak! Kak Dika." ucap Anisa membangun kan Dika.
"Saya tidak bisa tidur dengan nyenyak sendiri di kamar. Saya ingin di sini..Besok saya akan menemui orang tua saya." ucap Dika.
Anisa terdiam sejenak. Akhirnya dia membiarkan Dika tidur, Lagian Dika juga tidak macem-macem.
"Ya udah kalau begitu tidur lah dengan benar." ucap Anisa.
Dika membenarkan tidur nya. Dia membawa Anisa ke pelukan nya.
Keesokan harinya...
Anisa Dan Putri sudah di kelas.
__ADS_1
"Seperti nya Arya belum sembuh, dia tidak datang juga hari ini." ucap Anisa. Putri menoleh ke arah Kursi Arya.
"Apa penyakit nya Arya parah? Tidak biasanya." batin Putri.
"Aku melihat semalam keadaan Arya cukup buruk sih, aku khawatir sekarang semakin buruk." ucap Anisa karena tau putri pasti khawatir.
"Anisa aku pamit sebentar yah." ucap Putri meninggalkan Anisa dan membawa tas nya. "Loh kamu mau kemana?" tanya Anisa.
"Tolong ijinkan aku kepada guru yah." ucap Putri. Anisa melihat putri berlari keluar dia pun tersenyum.
"Aku yakin Putri pasti menemui Arya." ucap Anisa.
Di rumah Arya..
"Kamu yakin mau ke sekolah hari ini nak?" tanya mamah nya.
"Iyah mah, lagian aku bosan di rumah saja. Mamah sama papah juga tidak di rumah." ucap Arya.
Namun tiba-tiba masuk pesan dari Anisa.
"Putri seperti nya menuju ke rumah kamu, aku bilang kalau kamu tidak masuk sekolah karena keadaan kamu semakin buruk." ucap Anisa.
"Eh mah aku gak jadi ke sekolah deh, kepala ku tiba-tiba sakit." ucap Arya.
Arya mau ke sekolah hanya untuk melihat putri, namun mendengar Putri ke sini dia sangat senang.
"Mamah berangkat dulu yah, mamah sudah memasak untuk kamu, jangan lupa untuk minum obat.. Cepat sembuh nak." ucap mamah nya.
Arya menganguk. Mamah nya keluar dan Putri baru saja sampai.
"Tante kenalin aku putri, aku mau menjenguk Arya." ucap Putri. "Oohh dia ada di dalam..Kamu langsung masuk saja yah, Tante minta maaf tidak bisa Nemani karena harus berangkat sekarang." ucap Mamah nya Arya.
"Iyah Tante gak apa-apa kok." ucap Putri. Mamah nya tersenyum. "Titip Arya yah." ucap Mamah nya Arya. Mendengar suara Putri Arya masuk dan langsung tidur di kamar nya.
"Permisi...." Ucap Putri mengetuk pintu. Dia melihat langsung ke kamar Arya.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Putri langsung masuk karena pintu terbuka. Arya tersenyum.
"Sudah sehat kok, hanya tinggal pusing sedikit." ucap Arya.
"Yakin? kamu sangat pucat sekali. Badan kamu juga panas." ucap Putri memeriksa dahi Arya.
Di sentuh oleh Putri membuat Arya senang namun dia harus berpura-pura biasa saja.
__ADS_1
"Kamu sudah makan obat?" tanya Putri. Arya menggeleng kan kepala nya.
"Aku belum makan," ucap Arya.
"Aku akan memasak sebentar, kamu tunggu." ucap Putri. "Tidak perlu, tadi mamah sudah Masak." ucap Arya. Putri keluar mengambil itu.
"Aku gak mimpi kan melihat putri khawatir dan perhatian seperti itu?" ucap Arya dalam hati.
Tidak beberapa lama putri kembali, dia menyuapi Arya.
"Kamu kenapa gak sekolah?" tanya Arya.
"Aku tadi sudah ke sekolah, namun mendengar dari Anisa kamu semakin pintar parah, aku ingin memastikan nya.. Ternyata kamu sudah hampir mati." ucap Putri.
"Kamu tidak sedih kalau saya mati?" tanya Arya. "Pertanyaan seperti apa itu?" ucap Putri.
"Yah aku hanya ingin tau. Tapi aku sangat senang walaupun kamu sangat membenci ku, tapi kamu datang ke sini memberikan kan ku makan." ucap Arya.
"Jangan kepedean dulu, aku datang karena aku menganggap kamu teman ku, walaupun kamu sering membuat ku kesal tetap saja aku merasa bersalah karena sudah marah-marah kepada kamu kemarin." ucap Putri.
"Aku merasa kamu sakit seperti ini karena aku, aku keterlaluan ketika bersifat dan berbicara dengan kamu." ucap Putri.
"Iyah Putri. Benar.. kamu lah yang membuat ku sakit seperti ini. Kamu tidak berhenti membuat kepala ku pusing." ucap Arya dalam hati.
"Jadi karena kamu membuat ku seperti ini, aku tidak akan membiarkan kamu pergi sebelum aku sembuh total." ucap Arya dalam hati.
"Kenapa kamu diam saja? Kamu menatap ku seperti itu membuat aku semakin bersalah." ucap Putri.
"Tidak kok, ini tidak salah kamu." ucap Arya.
Putri menghela nafas panjang. Dia memberikan obat kepada Arya.
"Aku minta maaf kalau sifat ku kurang baik sama kamu, aku juga berterima kasih karena kamu sudah baik dan mau menerima sifat ku yang buruk." ucap Putri.
"Ada apa dengan Putri? kenapa dia sangat berubah menjadi sangat baik seperti ini?" ucap Arya dalam hati.
"Jangan diam saja Arya, kamu maafin aku gak?" tanya Putri. "Sebaik nya aku jangan memaafkan dia dulu, aku ingin melihat bagaimana dia berubah kepada ku." batin Arya.
"Kamu gak mau maafin aku yah? Aku akan melakukan apapun yang kamu mau kalau kamu maafin aku." ucap Putri.
"Aku juga janji tidak Akan seperti itu lagi, aku minta maaf." ucap Putri. Arya tersenyum tipis saat Putri menundukkan kepalanya.
Putri mengangkat kepalanya dia memasang wajah serius lagi walaupun dalam hati nya dia sangat gemes melihat wajah bersalah Putri.
__ADS_1