Kisah Anisa Di Sekolah

Kisah Anisa Di Sekolah
Episode 169


__ADS_3

Mereka makan bersama, Meja bagian mereka terlihat sangat ceria sekali.


Putri dan Arya berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


"Kamu suka ini kan? Kamu harus makan yang banyak." ucap Arya memberikan Cumi kepada Anisa.


Putri melihat ke Arya, begitu juga dengan Dika.


Sementara Marsel dan Tri hanya bisa menyaksikan mereka berempat.


"Tolong kupas udang satu untuk saya." ucap Marsel kepada Tri.


"Bapak memiliki tangan, aku ingin makan." ucap Tri.


"Seorang kekasih itu harus siap melayani pacar nya!" ucap Marsel. Tri menghela nafas panjang.


"Huff coba saja kalau bukan karena uang, aku tidak akan mau melakukan ini." ucap Tri.


"Dasar perempuan mata uang." ucap Marsel. "Bodoh amat bapak mau ngomong apa, semua manusia membutuhkan uang." ucap Tri.


Mereka makan siang dengan sangat baik.


Waktu nya berpisah.


"Anisa aku pulang duluan yah." ucap Arya. "Loh kok cepat banget?" tanya Anisa.


"Iyah aku ada janji sama teman-teman di luar gak jauh kok dari sini." ucap Arya.


"Sekalian sama Putri juga yah?" tanya Anisa. Putri menggeleng kan kepala nya.


"Aku masih mau di sini." ucap Putri. "Oohh ya udah deh kalau begitu, makasih yah sudah mau bergabung dengan kita makan di sini." ucap Anisa.


Arya tersenyum sambil mengangguk.


"Aku nganterin Arya keluar dulu yah." ucap Putri.


"Gak usah kamu di sini saja, aku gak apa-apa kok. Aku tidak mau merepotkan kamu." ucap Arya.


Putri langsung terdiam dia melihat Arya pergi dari meja mereka.


"Anisa Kakak juga harus kembali. Kakak pamit yah." ucap Marsel.


"Kamu juga yah Tri?" tanya Anisa. Tri menganguk.


"Ya udah deh hati-hati yah kak." ucap Anisa memeluk kakak nya bergantian dengan Tri.


"Yang sabar yah menjadi pacar bayaran kak Marsel." bisik Anisa kepada Tri.

__ADS_1


Tri hanya bisa tersenyum.


"Dika saya pamit dulu, saya titip adik saya, jaga baik-baik." ucap Marsel.


"Baiklah kak, kakak tidak perlu khawatir, kakak bisa mempercayai saya." ucap Dika. Marsel tersenyum sambil menepuk Pundak Dika.


Mereka juga pamitan kepada Putri.


"Ayo buruan masuk ke dalam mobil." ucap Marsel kepada Tri.


"Sabar pak, sepatu ku terlalu tinggi sehingga sulit untuk berjalan." ucap Tri.


"Mulai dari sekarang kamu harus belajar berpakaian elegan, berpenampilan menarik dan juga memakai sepatu seperti ini." ucap Marsel.


"Huff aku tidak terbiasa." ucap Tri.


"Itu adalah persyaratan menjadi pacar bayaran saya." ucap Marsel.


"Sangat banyak perempuan di luar sana, teman bapak juga pasti sangat banyak yang cantik, namun kenapa harus aku? Bagaimana aku membuat bapak kecewa dan sangat malu?" ucap Tri.


"Kalau kamu membuat saya kecewa dan malu saya akan memberikan kamu hukuman berat." ucap Marsel.


Tri menghela nafas panjang. "Terserah bapak saja deh." ucap Tri sambil masuk ke dalam mobil.


"Anisa kamu berbicara lah dengan Putri sebentar, saya ke jawab telpon dulu." ucap Dika. Anisa menganguk.


Dika seakan paham kalau mereka butuh waktu berdua.


"Tidak ada." ucap Putri.


"Jangan berbohong kepada ku! Aku tau sebenarnya kamu dengan Arya memiliki masalah." ucap Anisa.


"Coba ceritakan apa yang terjadi? Aku bisa melihat wajah kamu dengan Arya sama-sama sedih dan merasa bersalah." ucap Anisa.


"Arya menyatakan perasaannya kepada ku, dia meminta ku menjadi pacar Nya." ucap Putri.


"Lalu?" tanya Anisa.


Mereka cukup lama berbicara. Di tempat lain Dika duduk di meja lain sambil melihat Anisa yang mencoba memberikan saran kepada Putri.


"Anisa yang dulu bukanlah yang sekarang, dia sudah jauh berbeda. Sekarang dia sudah sangat dewasa, aku yakin aku bisa membawa nya ke orang tua ku dan terus menyakinkan orang tua ku." ucap Dika.


Sambil tersenyum namun dia kaget melihat orang tua nya masuk ke Restoran itu.


Segera dia langsung bersembunyi dan keluar melalui pintu belakang.


"Huff hampir saja mereka melihat ku." ucap Dika.

__ADS_1


Dia bersandar di Sandaran mobil nya.


"Makasih yah saran kamu Anisa, untuk sekarang aku masih ingin sendiri. Aku pulang duluan yah." ucap Putri.


Anisa mengangguk sambil tersenyum. Setelah Putri pergi Anisa melihat ke arah kamar mandi namun Dika tak kunjung datang.


"Kak Dika kemana sih? tadi dia arah ke sana kok gak keluar sih?" ucap Anisa. Dia langsung menelpon Dika dan ternyata dia sudah ada di dalam mobil.


"Kok kak Dika di mobil sih? Apa dia bosan menunggu aku bersama Putri?" ucap Anisa. Saat mau keluar dari restoran dia melihat orang tua Dika.


"Loh itu kan orang tua kak Dika. Bagaimana ini?" ucap Anisa. Mereka berpapasan.


"Tunggu dulu!" tiba-tiba mamah nya Dika menahan Anisa.


Anisa berhenti.


"Kamu Anisa kan?" tanya Mamah nya Dika..Anisa mengangguk.


"Kamu tau di mana anak saya? Di mana kamu sembunyikan dia? Tidak mungkin kamu tidak tau." ucap mamah nya Dika.


Anisa diam. "Mah ayo Duduk dulu, klien sudah menunggu kita." ajak suami nya.


"Kita belum selesai yah, saya yakin kamu yang membuat anak saya seperti ini hilang tanpa kabar." ucap Orang tua Dika.


Anisa tidak mengatakan apapun, walaupun dia sangat takut sekali sampai badan nya bergemetar.


Dia langsung keluar dari restoran masuk ke dalam mobil.


"Kamu kenapa buru-buru masuk seperti itu ke dalam mobil?" tanya Dika.


Anisa menatap Dika.


"Kapan kakak akan ke rumah orang tua kakak? Sampai kapan kakak akan sembunyi seperti ini? Aku tau kakak masuk ke dalam mobil karena di dalam sana ada orang tua kakak kan?" ucap Anisa.


Dika terdiam sejenak.


"Aku tidak yakin kakak bisa seperti ini lebih lama." ucap Anisa.


"Saya tidak berani menentang orang tua saya. Hanya dengan cara ini saya bisa menghindari mereka tampa menyakiti mereka." ucap Dika.


"Tampa sadar yang kakak lakukan ini melukai orang lain.. Sebelum nya bermasalah dengan ku kakak pergi begitu saja karena tidak bisa berhadapan dengan ku dan menjelaskan apa yang terjadi." ucap Anisa.


"Saya sangat mencintai kamu Anisa, saya tidak bisa melihat kamu menangis, kamu sedih dan saya tidak ingin kamu marah kepada saya." ucap Dika.


"Kalau begitu kakak harus menghadapi masalah. Temukan jalan keluar nya. Percuma kakak seperti ini terus tidak akan ada jalan keluar nya." ucap Anisa.


"Saya butuh waktu Anisa, saya sedang memikirkan itu, saya butuh Persiapan." ucap Dika.

__ADS_1


"Kalau kakak sayang sama aku, serius dengan ku kakak harus berani menentang orang tua kakak." ucap Anisa.


"Anisa tidak semudah itu, mereka adalah orang tua saya, tidak seperti kamu tidak bisa mengatakan apapun kepada orang tua kamu tampa memikirkan perasaan mereka seperti apa." ucap Dika.


__ADS_2