
"Yang sabar yah nak, emang nya kamu mau kalau keluarga kita tiba-tiba miskin?" ucap papah nya. Anisa menghela nafas panjang.
"Ya sudah kamu berangkat gih, teman kamu dari tadi sudah nungguin." ucap Papah nya.
Anisa keluar dan melihat Dika yang sedang membaca buku. "Tidak Bosan apa di sekolah, di rumah, di sini, di mana-mana selalu membaca buku." ketus Anisa. a
Dika menoleh ke arah Anisa. "Kamu sudah selesai? Ayo berangkat." ucap Dika sambil merapikan buku-buku nya
"Berangkat saja duluan, aku naik mobil." ucap Anisa.
"Saya sudah datang menjemput kamu ke sini, jadi kamu harus naik motor bersama saya." ucap Dika.
"Gak mau. aku sudah rapi dan cantik seperti ini." ucap Anisa.
"Kalau kamu tidak mau, saya akan melaporkan kamu kepada orang tua kamu." ucap Dika.
"Aaargggh!!! Nyebelin banget sih." ucap Anisa dengan kesal, akhirnya dia mau ikut dengan Dika.
Anisa mengambil hlem dengan kasar dari tangan Dika.
"Auhhh!!!" wajah nya kejedot hlem karena dengan kesal memasang hlem nya.
"Sini-sini." ucap Dika memasang kan nya dengan benar.
Anisa terus memasang wajah Cemberut nya. "Ini masih pagi sudah cemberut. Senyum Dong.." ucap Dika.
"Tidak perlu sok akrab seperti itu!" ucap Anisa. Dika menghela nafas panjang.
"Ya sudah kalau begitu ayo berangkat." ucap Dika.
"Aku pergi dulu yah Pah/ Kami pamit dulu yah Om." ucap mereka dengan bersama.
Papah Anisa melambaikan tangan nya.
"Itu teman Anisa atau guru nya sih? Wajah nya masih muda tapi dia berpakaian seragam guru." ucap papah nya.
Di perjalanan Anisa sama sekali tidak berpegangan.
"Pegangan.." ucap Dika memaksa Anisa.
"Kamu pasti belum pernah keluar menikmati udara di pagi hari seperti ini bukan?" ucap Pak Dika.
"Kata siapa? Aku sering keluar pagi-pagi." ucap Anisa.
"Tapi kamu naik mobil, sekarang naik motor. Udaranya lebih terasa." ucap Anisa.
Anisa sudah menikmati udara segar itu dari tadi. Di tambah lagi bau parfum Dika yang sangat nyaman masuk ke hidung.
Tadi nya dia Kesal sekarang dia sudah lebih tenang.
Anisa melihat punggung Dika yang berkeringat.
"Ini masih pagi kenapa pak Dika malah keringatan." batin Anisa.
__ADS_1
"Kenapa sih bapak Masih sakit malah maksain ke sekolah? Ini akan membuat bapak sulit untuk sembuh." ucap Anisa.
"Saya sudah sehat. Itu sebab nya saya bisa datang menjemput kamu." ucap Dika.
"Sehat dari mana? Badan bapak berkeringat. Dan badan bapak Masih panas." ucap Anisa meletakkan tangan nya di leher Dika.
Dika senyum-senyum ketika Anisa menyentuh bagian leher nya.
"Saya sudah bosan di kamar saja. Hari ini ada pelajaran yang tidak bisa di lewati." ucap Dika. Anisa menghela nafas panjang.
"Huff seperti guru mati-matika Saja." ucap Anisa dengan kesal.
"Apakah bapak sudah sarapan?" tanya Anisa.
"Belum.." jawab Dika.
"Ini sudah dekat dari sekolah. Jam masuk Masih lama bagaimana kalau kita sarapan Dulu." ucap Anisa. Dika menginyakan mereka pun singgah di tempat sarapan tidak jauh dari sekolah.
"Dua bubur ayam yah Bu." ucap Anisa. "satu saja Bu, " ucap Dika.
"Loh kenapa?" tanya Annisa.
"Saya belum lapar." jawab Dika.
"Bapak harus Makan. Kalau Bapak tidak makan bapak Akan sakit Terus." ucap Anisa.
Akhirnya Dika tidak bisa menolak. Dia harus memakan bubur yang sudah di pesan oleh Anisa.
Dika menggeleng kan kepala nya, dia kembali melanjutkan makan nya.
"Ada apa Bapak pagi-pagi sekali datang ke rumah?" tanya Anisa.
"Saya mau minta maaf." ucap Dika. "Minta maaf untuk apa?" tanya Anisa.
"Tentang tadi malam. Tentang orang tua saya juga." ucap Dika. Anisa menghela nafas panjang.
"Saya berfikir kamu marah, saya minta maaf." ucap Dika. Anisa hanya diam saja.
Setelah selesai makan mereka pergi dari sana. Sampai di parkiran ternyata Rida dan teman-teman nya sudah menunggu Pak Dika.
Rida melihat Dika dengan Anisa membuat nya Cemburu.
"Selamat pagi Pak Dika." sapa Rida.
"Pagi semua nya." jawab Dika.
"Bapak kok bisa sama Anisa sih?" tanya Rida.
"Mobil kamu kemana? Kamu kegatelan banget dekatin Pak Dika." ucap Rida.
"Urus saja urusan kamu sendiri. Jangan urus kehidupan ku." ucap Anisa pergi begitu saja.
"Sebaiknya semua nya masuk ke kelas." ucap Dika ketika Rida mau berbicara.
__ADS_1
Dika juga masuk ke kantor. "Wahh tumben-tumbenan banget Anisa masuk kelas tidak terlambat." ucap teman-teman satu kelas nya.
"Sudah deh jangan pada kaget, karena mulai dari sekarang Sampai seterusnya aku akan datang tepat waktu." ucap Anisa.
"Bagus deh Kalau begitu. Biar pelajaran kami tidak terganggu." ucap Rida.
Anisa duduk di kursi nya.
Tiba-tiba Pak Dika masuk. Semua nya langsung duduk di kursi nya.
"Ini untuk bapak. Kami dengar bapak demam, ini mungkin bisa membantu menghilangkan rasa sakit di badan bapak." ucap Rida.
"Kamu baik sekali, Terimakasih Yah." ucap Dika. Rida menganguk.
"Semua nya duduk di kursi masing-masing, kita akan membaca kan absen." ucap pak Dika.
"Permisi pak, Maaf saya telat." ucap Putri. Dika menghela nafas panjang.
"Kenapa jadi kamu yang telat sekarang?" tanya Dika melihat Putri. "Maaf Pak saya bangun kesiangan." ucap Putri melihat Anisa.
"Karena mengerjakan PR Anisa?" tanya Dika. Putri terdiam.
Anisa menundukkan kepalanya. Dika hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat anisa.
"Sudah kamu duduk di kursi kamu." ucap Dika. "Terimakasih Pak." ucap Putri. Dia duduk di kursi nya. dia melihat ke arah Anisa.
"Tumben banget kamu datang tidak terlambat." ucap Putri.
"Hebat kan aku?" ucap Anisa.
"Kursi belakang ini sudah waktunya belajar, kenapa masih sibuk berbicara?" tanya pak Dika. Anisa dan putri langsung diam dan fokus kepada papan tulis.
"Pak Dika kenapa sangat berbeda ketika di sekolah dan di luar." batin Anisa.
"Di sekolah di terlihat sangat galak, tegas dan juga dingin. Sementara kalau di luar bertolak belakang. Walaupun menyebalkan, Tapi tidak segalak di sekolah." batin Anisa.
Pelajaran pertama sudah selesai.
"Mari saya bantu pak." ucap Rida kepada pak Dika yang membawa buku-buku.
"terimakasih Rida, Tapi sebaiknya anisa yang melakukan operasi ini, sebagai hukumannya." ucap Pak Dika.
"Anisa kamu ke sini, dan bawa ini ke meja kantor saya." ucap Dika.
Di letakan di tangan Anisa dengan kasar sampai hampir jatuh.
Anisa hanya diam dia mengikuti pak Dika ke ruangan nya.
"Letakan di atas meja, dan setelah itu buat kan saya kopi." ucap Angga.
"Kopi? Saya ini murid pak, bukan asisten bapak. Bapak akan saya laporkan karena seperti ini." ucap Anisa.
"Kalau kamu mau saya melaporkan kepada orang tua kamu, sebaik nya kamu kerjakan saja!" ucap Dika.
__ADS_1