
"Masa iya perempuan yang mengakui duluan? malu dong." ucap Anisa kepada Putri.
"Iyah sih, tapi mau bagaimana lagi.. Dari pada berujung penasaran dan akhirnya terpendam semua nya sia-sia." ucap Putri.
Anisa menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak menyukai siapapun, aku hanya penasaran saja kok." ucap Anisa.
"Tidak mungkin lah kamu menyukai orang lain, lalu bagaimana dengan Candra." ucap Putri.
Anisa tersenyum. "Sudah jelas kamu tau, kalau aku sudah memiliki Candra, jadi jangan berfikir kalau aku menyukai orang lain." ucap Anisa.
Putri tersenyum. Selama pelajaran semua orang fokus belajar. Namun Anisa melihat Dika yang lebih sering memerhatikan Rida, mengajari nya belajar, menjelaskan yang tidak di pahami oleh Rida.
Waktu nya pulang. Anisa masuk ke dalam mobil nya namun dia melihat Dika bersama Rida pulang bersama. Anisa mencoba mengabaikan nya memilih untuk kembali ke rumah saja.
Sampai di rumah dia melihat rumah nya sudah beberapa hari tidak di rapikan dan bersih kan, kamar nya juga sudah berantakan dia berniat bersih-bersih.
"Ekhem-Ekhem... tumben banget nih anak satu-satunya bersih-bersih." ucap perempuan yang baru saja datang yang melihat Anisa mengepel lantai.
Anisa menoleh ke arah pintu perempuan yang berbicara itu.
"Tante Ara...." Ucap Anisa senang dan berlari memeluk saudara Mamah nya itu.
Mereka berpelukan. "Tante kapan pulang ke Indonesia? Kenapa Tante Tidak mengabari aku?" tanya Anisa.
"Kejutan..." ucap Tante Ara. Anisa tersenyum.
"Tapi aku belum selesai bersih-bersih, Tante tunggu sebentar yah, aku sebentar lagi selesai kok." ucap Anisa. Tante nya menganguk.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai, Anisa sudah selesai mandi dan membawa Teh untuk Tante nya.
"Kenapa Tante menatap ku seperti itu? Apa ada yang aneh?" tanya Anisa. Tante nya menggeleng kan kepala nya.
"Enggak kok, nih Tante bawa oleh-oleh untuk kamu." ucap Tante Ara. "Wahh Tante banyak sekali, terimakasih yah." ucap Anisa.
Tante nya mendekati Anisa, dia memegang kepala Anisa memeriksa suhu tubuh nya.
"Ini benar-benar kamu kan Anisa?" tanya Tante nya.
"Iyah Tante, ini aku Anisa, emangnya kenapa?" tanya Anisa bingung.
"Ini tidak seperti kamu, kamu sangat jauh berubah." ucap Tante nya. "Tidak ada yang berubah Tante, aku tetap lah Anisa yang nakal dan selalu sayang sama Tante." ucap Anisa.
Tante nya menggeleng kan kepala nya. "Enggak mungkin.. Anisa yang selama ini Tante urus bukan lah seperti ini." ucap Tante Ara.
__ADS_1
Anisa menatap Tante nya dengan bingung.
"Maksud Tante bagaimana? Aku berubah seperti apa?" ucap Anisa.
"Cara kamu berbicara lebih sopan, rajin, dan Tante dengar nilai kamu sebelum nya buruk dan sekarang sudah membaik..Kamu tidak pernah di rumah biasanya dan sekarang kamu di rumah. Ini sungguh keajaiban." ucap Tante Ara.
Anisa menghela nafas panjang. "Aku hanya ingin menenangkan diri dengan cara seperti ini Tante, tidak ada cara lain lagi yang bisa aku lakukan." ucap Anisa.
"Lalu bagaimana dengan tanggapan kamu kepada kedua orang tua kamu?" tanya Tante Ara.
"Aku marah, aku benci." ucap Anisa.
"Jujur saja, Tante minta maaf yah selama ini Tante menutupi nya dari kamu." ucap Tante Ara.
"Apa Tante juga tau?" tanya Anisa. Tante Ara menganguk. Anisa menghela nafas panjang.
"Kenapa semua orang begitu jahat sih kepada ku? Kenapa hal seperti ini di tutupin dari aku?" ucap Anisa.
"Bukan jahat Anisa, kami hanya memikirkan kebaikan untuk kamu." ucap Tante Ara.
"Kebaikan apa Tante? Aku pikir hanya mereka berdua yang tau, ternyata hanya aku yang tidak tau, aku terlalu bodoh, aku masih anak kecil yang sangat mudah di bohongi." ucap Anisa sambil menangis.
"Bukan seperti itu Anisa, dengarkan Tante Dulu." ucap Tante Ara menenangkan Anisa, namun Anisa tidak mau dia meninggal Ruang tamu dan pergi ke kamar nya.
."Kenapa?" ucap Anisa menangis.
"Permisi...." Tiba-tiba Dika datang.
"Iyahh..." ucap Tante Ara yang duduk di ruang tamu.
Dika bingung melihat perempuan yang asing.
"Saya guru les nya Anisa." ucap Dika.
"Oohh saya Tante nya Anisa." ucap Tante Ara.
Dika tersenyum.
"Saya mau bertemu dengan Anisa boleh?" tanya Dika.
"Boleh.. Tapi Anisa di kamar nya, dia marah kepada saya." ucap Tante Ara. Dika sudah langsung paham masalah nya di mana.
"Kalau boleh saya akan mencoba memanggil dia ke kamar nya." ucap Dika. Tante Ara sedikit ragu namun melihat wajah Dika yang terlihat sangat khawatir langsung mengijinkan nya.
__ADS_1
"Tok!! Tok!! Tok!!"
"Tante pergi saja! Jangan perduli kan aku, aku ingin sendiri." ucap Anisa dari dalam.
"Buka pintu nya Anisa, ini saya Dika." ucap Dika dari balik pintu.
Anisa membuka pintu. "Kenapa Bapak ke sini? Ini masih sore." ucap Anisa.
"Saya mau mengambil pakaian saya yang kotor." ucap Dika. Dika menatap wajah Anisa yang sudah sembab karena menangis.
"Aku sudah merendam semua nya di ember. Setelah bersih aku akan mengembalikan nya kepada bapak." ucap Anisa mau menutup pintu namun di tahan oleh Dika.
"Saya sudah bilang kalau kamu tidak boleh marah lagi kalau mengenai kebohongan orang tua kamu. Mereka melakukan itu karena mereka masih memikirkan kamu, memikirkan mental kamu." ucap Dika.
Anisa terdiam sambil menundukkan kepalanya.
Dika menghapus air mata Anisa. "Kamu sudah dewasa, pemikiran kamu juga harus dewasa, mau sampai kapan kamu seperti ini?" ucap Dika.
"Bapak tidak mengerti apa yang aku rasakan! Aku sendirian, aku tidak bisa berhenti memikirkan itu, aku merasa kecewa sekali ketika ada yang mengingatkan hal itu kepada ku." ucap Anisa.
Dia menatap wajah Dika.
"Bapak pernah janji akan selalu ada untuk ku, namun bukti nya mana? Seharian Bapak mengabaikan aku, bahkan bapak tidak menyapa ku seperti biasa." ucap Anisa.
Dika terdiam sejenak. "Bapak sangat jahat. Setelah Bapak membuat aku menyukai Bapak dan mudah nya bapak pergi dan memperhatikan Rida di depan mata ku." ucap Anisa.
Tiba-tiba Dika mencium bibir Anisa agar berhenti berbicara.
"Sssttt!!!" Dika meletakkan jari nya di bibir Anisa.
Anisa terkejut serangan yang di berikan oleh Dika di saat dia lagi marah.
"Saya hanya menguji kamu, ternyata saya berhasil membuat kamu benar-benar cemburu dan mengakui kalau kamu tertarik dan menyukai saya. Pria yang sudah berumur, Pria play boy." ucap Dika tersenyum.
"Aku..."
Anisa mau berbicara namun tiba-tiba langsung di cium oleh Dika lagi.
"Jangan melakukan itu pak, bagaimana kalau Tante Ara Melihat kita?" ucap Anisa menahan Dika.
Dika mendorong Anisa masuk ke dalam dan menutup pintu. Dika memeluk Anisa dan berbaring di kasur.
Dika Dan Anisa bertatapan.
__ADS_1
"Saya menyukai kamu sudah cukup lama, namun kamu baru bisa jujur dengan perasaan kamu sendiri sekarang." ucap Dika.