
Setelah selesai mandi dia Duduk di kasur kamar nya namun tidak tenang dia tidak bisa melupakan Anisa.
"Apa yang aku lakukan? aku laki-laki, aku harus dewasa, kenapa aku jadi seperti ini hanya karena takut sakit hati di kemudian hari? Apa pun cerita nya aku harus berjuang, aku akan menerima semua resiko nya." ucap Dika mengambil kunci mobil nya.
"Mendapatkan Anisa tidak semudah meninggalkan dia, aku harus mempertahankan hubungan ini, walaupun sahabat ku menjadi lawan ku." ucap Dika.
Akhirnya Dika memutuskan untuk menemui Anisa dan Boni.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di depan rumah Anisa. "Tok!! Tok!! Tok!!." Dika mengetuk pintu rumah Anisa.
Ketukan pintu pertama tidak langsung terbuka, namun Dika tidak berhenti mencoba dia mengetuk pintu tampa ada kata menyerah.
Cukup lama dia di depan pintu namun tidak ada juga yang membuka nya.
"Huff kemana sih Anisa? Kenapa dia tidak membuka pintu?" ucap Dika.
Namun tidak beberapa lama Pintu terbuka dia melihat Anisa yang seperti nya baru bangun.
Anisa menatap Dika.
"Ini sudah sangat malam, kenapa kakak baru pulang? Dari tadi aku dengan Boni menunggu Kakak." ucap Anisa.
Dika langsung memeluk Anisa.
"Maafkan saya, maafin saya sudah bersifat aneh dan membuat kamu lama menunggu." ucap Dika memeluk Anisa sangat erat sekali.
Anisa yang tadi nya masih mengumpulkan nyawa masih kebingungan dengan Dika.
"Apa yang terjadi? kenapa kakak tiba-tiba seperti ini?" tanya Anisa. Dika menatap Anisa.
"Saya sudah sangat egois, tidak memikirkan kamu, saya minta maaf, saya minta maaf." ucap Dika memohon kepada Anisa.
Anisa menggeleng kan kepala nya. "Tidak ada yang salah kak, sebaiknya kita masuk yok." ucap Anisa.
Mereka masuk ke dalam.
"Boni ada di kamar sebaiknya kita langsung istirahat saja." ucap Anisa. Dika menahan tangan Anisa.
Anisa berbalik namun Dika langsung mencium bibir Anisa. Anisa cukup terkejut namun Dika langsung melepaskan nya.
"Saya tidak bisa tenang seharian karena ini, sekarang apapun keputusan kamu sudah saya terima, saya sudah siap." ucap Dika.
__ADS_1
"Bagaimana kalau keputusan aku tidak sesuai dengan harapan Kakak?" tanya Anisa. Dika menatap Anisa.
"Saya sangat yakin kalau kamu mencintai saya begitu juga dengan saya, kita Akan sama-sama memperjuangkan hubungan kita ini." ucap Dika.
Anisa langsung memeluk Dika. "Ya udah kalau begitu kita istirahat saja." ucap Anisa. Dika masuk ke kamar dia melihat Boni tidur dengan sangat nyenyak.
"Sebaik nya besok pagi kita mengantarkan Boni pulang, dalam keadaan situasi seperti ini, aku takut membuat dia tidak nyaman." ucap Anisa.
"Tapi besok saya ada pekerjaan." ucap Dika. "Ya sudah kalau begitu aku akan pergi sendiri." ucap Anisa. Dika mendekati Anisa.
"Apa yang mau kakak lakukan?" tanya Anisa heran. Dika menatap mata Anisa.
"Saya... Saya..." Dika ingin mengatakan sesuatu namun Anisa langsung menghindar karena semakin di dekatin.
"Ada apa?" tanya Anisa.
Dika menggeleng kan kepala nya. "Sudah lupakan saja." ucap Dika langsung ke kamar mandi.
"Pria yang aneh." Ucap Anisa, dia kembali tidur di kasur. Tidak beberapa lama mata nya sudah mengantuk lagi.
Dika keluar dari kamar dia melihat Anisa tidur.
Keesokan harinya.. Anisa bergeliat dia membuka mata nya. Dia melihat Dika yang sedang mengelus rambut nya memerhatikan nya sambil tersenyum.
"Good morning sayang." ucap Dika. Anisa tersenyum. "Morning sayang.." ucap Anisa mencium dengan singkat bibir Dika.
Dika langsung baper dengan ciuman yang di berikan oleh Anisa.
"Hari ini kita sama-sama sibuk, tidak ada waktu untuk berlama-lama seperti ini. Sebaik nya kakak mandi, aku akan membuat kopi dan juga menyiapkan sarapan." ucap Anisa.
Dika menahan tangan Anisa dan kembali membaringkan tubuh Anisa..Anisa kaget dia membulat mata nya ketika Dika menindihnya dari atas.
"Apa yang kakak lakukan? Bagaimana kalau Boni bangun?" ucap Anisa. Dika menoleh ke arah Boni.
"Dia tidak mungkin bangun, apa kamu tidak melihat dia begitu nyenyak sekali?" ucap Dika.
Anisa menghela nafas panjang.
"Bagaimana kalau tiba-tiba bangun?" ucap Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya.
"Saya sangat merindukan kamu Anisa, seharian saya akan bekerja di kantor. Dan malam nya saya harus ke rumah orang tua saya. Saya tidak akan ada waktu untuk bertemu dengan kamu. Saya ingin menghabiskan waktu pagi saya dengan kamu." ucap Dika.
__ADS_1
Anisa menghela nafas panjang. "Huff masih ada waktu besok. Jangan terlalu lebay." ucap Anisa.
"Anisa... Saya ingin kamu menikah dengan saya." ucap Dika. Anisa terdiam sejenak.
"Jangan bercanda deh kak." ucap Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya.
"Saya tidak bercanda, kenapa saya harus bercanda?" ucap Dika.
"Aku masih sekolah, apa kakak lupa? Tiga hari lagi aku sudah masuk sekolah lagi." ucap Anisa.
"Nikah sirih." ucap Dika. Anisa terdiam sejenak. "Jangan berfikir hal seperti itu Kak." ucap Anisa.
"Kenapa tidak? Saya sanggup untuk menikahi kamu, menafkahi kamu." ucap Dika. "Bukan tentang hal itu, masalah aku dengan Candra saja belum selesai." ucap Anisa.
Dika menatap Anisa. "Humm kamu benar juga." ucap Dika. "Nah kakak tau kan? Jadi tidak semudah itu." ucap Anisa. Dika menghela nafas panjang.
Dia berbaring di samping Anisa sambil memeluk nya.
"Tapi saya pastikan, setelah semua nya sudah baik-baik aja, saya akan menikahi kamu, kalau kamu tidak mau saya akan memaksa nya." ucap Dika.
Anisa tertawa dia memukul dada Dika. "Aneh deh." ucap Anisa. Dika tertawa.
Mereka berdua ke kamar mandi, Dika menyiapkan gosok gigi untuk Anisa begitu juga sebaliknya.
Anisa hanya membasuh wajah nya dan gosok gigi sementara Dika harus mandi karena dia mau ke kantor.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka bertiga sudah berkumpul di meja makan.
"Anisa sebelum kamu mengantarkan Boni kembali, tolong bawa dia berbelanja dan membeli beberapa keperluan nya. Saya minta maaf tidak bisa menemani." ucap Dika.
Anisa tersenyum. "Ambil lah ini." ucap Dika memberikan kartu. Anisa mengambil nya.
"Om minta maaf yah gak bisa menemani dan mengajak kamu main-main, om sangat sibuk sekarang." ucap Dika kepada Boni.
"Gak apa-apa Om, aku bisa melihat Om dan Tante Anisa saja sudah membuat ku Senang,. tapi aku tidak mau pulang ke panti asuhan, aku masih ingin di sini." ucap Boni.
"Tapi perjanjian dari awal hanya dua hari Boni, nanti kalau telat ibu yayasan tidak mengijinkan lagi." ucap Anisa.
Boni terdiam.
"sudah jangan cemberut, Om akan berjanji lebih seru datang mengunjungi Boni, karena Boni sudah seperti anak om sendiri." ucap Dika memangku Boni.
__ADS_1