
"Anisa bangun! kamu bisa telat nanti nya, ayo buka Pintu nya! Kalau kamu tidak membuka nya kakak akan masuk loh." ucap Marsel.
Namun tidak ada sautan akhirnya Marsel masuk ke dalam.
Dia sangat terkejut melihat Anisa sudah tidak ada di kasur, di kamar mandi juga tidak ada, dia melihat kertas yang ada di atas meja.
"Maafin aku yah Kak Marsel, aku gak ijin sama kakak mau pergi. Aku pergi mencari kak Dika, aku butuh penjelasan dia, aku minta maaf yah. Aku mohon jangan mencari ku." isi surat. Marsel menghela nafas panjang.
"Aku bingung bagaimana dengan adik ku sendiri. Aku harus bangga karena dia memperjuangkan cinta nya, atau aku harus marah karena kebodohannya memilih Pria." ucap Marsel.
"Tapi aku tidak bisa menahan Anisa, aku bisa melihat Anisa bahagia dengan Dika. Dan mungkin sekarang Dika pergi bukan karena tidak mau bersama Anisa, tapi ingin menenangkan pikiran dan suasana hati." batin Marsel.
Di perjalanan Anisa memutuskan naik kereta api agar lebih cepat. Dia sudah duduk di kursi kereta api.
"Aku sangat gugup dan deg-degan. Walaupun nanti nya tidak ada Dika di sana, aku akan terus mencari kemanapun dia." batin Anisa.
"Biar lah aku menjadi orang bodoh, tapi aku harus berhasil menyakinkan kak Dika kalau aku menerima dia apa adanya." ucap Anisa sudah sangat yakin sekali.
Tidak terasa sudah sore dia baru sampai di kota yang dia tuju, dia bertanya kepada orang-orang sana namun tidak satu pun yang merespon dia.
Tiba-tiba bapak-bapak datang.
"Apa yang sedang non cari di kota ini? kelihatan nya non bukan orang sini." ucap bapak-bapak itu.
"Saya mencari alamat ini pak, saya mau menemui seseorang." ucap Anisa.
"Oohh ini, ayo saya antar, tidak jauh kok dari sini." ucap bapak-bapak itu..Anisa mengikuti bapak-bapak itu.
Namun semakin lama mereka berjalan tempat tersebut semakin sepi, Anisa dari awal sudah curiga kepada bapak itu, akhirnya diam-diam dia melarikan diri.
Namun ternyata bapak-bapak itu mengejarnya. Anisa menangis dia berlari sekuat yang dia bisa agar Bapak itu tidak mendapatkan dia.
Dia dapat tempat persembunyian. "Huff aku bisa bersembunyi di sini sementara." ucap Anisa. Tiba-tiba seseorang memukul punggung nya.
"Auhh!!!" Anisa menjerit.
__ADS_1
"Ngapain kamu di sini? Ini adalah tempat kami, pergi kamu!" ucap anak jalanan marah.
Anisa minta maaf dia langsung pergi.
Dia mulai kehausan dia membeli minuman terkenal dahulu. Namun dompet nya di rampas oleh anak jalanan.
Anisa menjerit, warga sekitar berusaha membantu namun mereka terlambat.
"Sudah pak, biarkan saja, saya ingin tanya di mana tempat ini?" tanya Anisa.
"Masih jauh dari sini Mbak." ucap bapak-bapak itu.
"Apa boleh saya minta tolong? Saya akan membayar berapa pun yang bapak minta." ucap Anisa. Melihat penampilan Anisa sudah kemalingan tidak ada yang mau membantu nya.
Anisa duduk di bawah pohon sambil melihat kaki nya yang terluka karena berlari tadi.
"Humm Aku tidak boleh menyerah." ucap Anisa namun Air nya keluar. "Seperti nya mustahil aku bertemu dengan kak Dika, tidak seharusnya aku pergi dari rumah sendirian." ucap Anisa menangis tersedu-sedu sendiri.
"Nih untuk kamu!" ucap perempuan mencolek Anisa dengan botol minuman yang dingin. Anisa yang sudah kepanasan, kehausan langsung mengambil Minuman itu.
Namun sebelum meminum nya dia melihat penampilan perempuan itu yang sangat compang-camping. Berpakaian seperti laki-laki dan bertindik di hidung.
"Kamu tidak memiliki mental yang kuat, kenapa kamu bepergian sendiri? Seperti nya kamu anak orang kaya yang terbiasa hidup manja dan kemana-mana anterin supir!" ucap perempuan itu.
Anisa diam. "Kamu ke sini ngapain? apa yang kamu cari? Kota ini sama seperti kota-kota yang lain, semua nya fokus pada kehidupan masing-masing, kalau kamu berharap bantuan mereka tampa uang, mereka tidak akan mau." ucap perempuan itu sambil tersenyum.
Perempuan itu duduk di samping Anisa, namun Anisa langsung bergeser sedikit karena takut.
"Ini pertama kalinya aku pergi jauh, aku sangat takut, aku biasa nya di dampingi, namun sekarang aku sudah tau hidup di luar ini memang sangat keras." ucap Anisa.
"Yang kamu lihat tidak lah seberapa." ucap perempuan itu.
"Oh iya aku dari tadi memerhatikan kamu seperti nya kamu mau kesesuatu tempat." ucap Perempuan itu.
"Aku mau ke sini. Aku mau menemui kekasih ku di sana." ucap Anisa.
__ADS_1
Perempuan itu melihat nya.
"Oohh tempat ini. Ini tempat kelahiran ku. Lumayan jauh dari sini, butuh waktu tiga jam empat jam." ucap Perempuan itu.
Anisa memasang wajah lesu.
"Kenalin nama aku Tri, aku bisa nganterin kamu ke sana, kebetulan aku juga sudah tiga bulan tidak ke sana." ucap Tri.
"Kamu serius?" tanya Anisa, Tri mengangguk, namun tiba-tiba Anisa diam.
"Kenapa lagi?" tanya Anisa. "Apa kamu tidak melihat luka-luka di badan ku? Aku sudah seperti anak gelandangan karena ketipu menerima kebaikan orang lain." ucap Anisa.
"Apa kamu meragukan ku?" tanya Tri. Anisa menatap Wajah Tri.
"Tidak ada yang bisa aku ambil dari kamu, aku bukan laki-laki aku perempuan." ucap Tri.
Anisa menghela nafas panjang. "Aku sudah pasrah, aku berharap kali ini aku berhasil memilih orang membantu ku." ucap Anisa.
Akhirnya mereka melakukan perjalanan menuju mobil Tri.
"Apa kita naik mobil ini?" tanya Anisa, Tri mengangguk. Ternyata mobil Pickup.
"Bersyukur sudah ada ini, dari pada kamu harus jalan kaki." ucap Tri.
"Ya udah deh, aku ikut saja." ucap Anisa. Dia naik dia membiarkan Tri menyetir mobil.
"Daerah kota sana orang-orang kaya, kenapa kamu bisa memiliki kekasih di sana sementara kamu baru kali ini ke sini." tanya Tri.
"Aslinya dia tinggal di Jakarta, tapi dia besar di kota itu." ucap Anisa.
"Oohh." ucap Tri. "seperti nya kamu sangat mencintai dia yah? Padahal di mana-mana laki-laki yang mengejar-ngejar perempuan, bukan Perempuan." ucap Tri.
"Iyah, aku sangat mencintai nya. Banyak hal yang membuat aku mencintai nya." ucap Anisa.
Tri tersenyum. "Ya sudah kalau begitu kamu perjuangan cinta kamu." ucap Tri.
__ADS_1
"Kamu sendiri apa sudah menikah?" tanya Anisa karena melihat paras Tri Yang di bisa di bilang cantik, hanya saja penampilan nya membuat nya terlihat buruk.
"Aku tidak ada berniat untuk menikah, aku tidak suka kepada laki-laki, semua laki-laki itu berengsek!" ucap Tri.